Hukum Istighotsah menjadi perbincangan krusial saat kita berada di titik terendah kehidupan, di mana sering kali godaan untuk mencari “jalan pintas” spiritual muncul tanpa kita sadari. Bayangkan saat Anda menghadapi badai ujian yang begitu hebat entah itu kesulitan ekonomi, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau masalah keluarga yang pelik. Di saat terjepit seperti itu, ke mana arah pertama kali hati Anda berpaling? Apakah kepada Sang Pencipta, atau justru kepada makhluk yang dianggap memiliki “kekuatan” tertentu?
Memahami batasan dalam meminta pertolongan adalah inti dari menjaga kalimat Laa ilaha illallah. Sebagai Muslim yang haus akan ilmu, memahami mana pertolongan yang dibolehkan dan mana yang menjerumuskan pada kesyirikan adalah bekal terpenting agar kita tidak tersesat di tengah arus zaman yang sering mencampuradukkan tradisi dengan akidah.
Apa Itu Istighotsah? Menyelami Makna di Balik Kata
Sebelum membahas lebih jauh mengenai Hukum Istighotsah, kita perlu membedah definisinya secara mendalam. Secara bahasa, istighotsah berasal dari kata al-ghouts yang berarti pertolongan. Namun, ia memiliki makna yang lebih spesifik dibandingkan isti’anah (meminta tolong secara umum).
Istighotsah adalah meminta pertolongan saat seseorang berada dalam kesulitan yang sangat berat, kesempitan, atau kondisi darurat (al-kurbah). Jadi, istighotsah adalah jeritan hati hamba yang sedang dalam keadaan terjepit dan memohon agar segera dikeluarkan dari penderitaan tersebut.
Perbedaan Istighotsah dan Isti’anah
- Isti’anah: Meminta bantuan dalam segala hal, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. (Contoh: Meminta bantuan teman untuk pindah rumah).
- Istighotsah: Meminta bantuan khusus untuk menghilangkan penderitaan atau bahaya yang sedang menimpa secara mendesak.
Memahami Rincian Hukum Istighotsah dalam Islam
Dalam kacamata syariat, tidak semua bentuk meminta tolong itu dilarang. Namun, ada garis tegas yang memisahkan antara tauhid dan syirik. Berikut adalah rincian hukumnya yang perlu Anda ketahui:
1. Istighotsah kepada Allah (Wajib dan Ibadah)
Inilah bentuk istighotsah yang paling tinggi dan merupakan ruh dari tauhid. Meminta pertolongan hanya kepada Allah saat dalam kesulitan adalah bukti ketergantungan mutlak kita sebagai hamba.
“Ingatlah (wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan (istighotsah) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu…” (QS. Al-Anfal: 9)
2. Istighotsah kepada Makhluk yang Masih Hidup (Boleh dengan Syarat)
Islam adalah agama yang realistis. Kita diperbolehkan meminta tolong kepada sesama manusia selama memenuhi tiga syarat mutlak:
- Orang tersebut masih hidup (bukan penghuni kubur).
- Orang tersebut hadir atau bisa dihubungi (bukan memanggil orang yang jauh secara gaib).
- Orang tersebut mampu melakukan apa yang diminta secara logis (sebab-akibat).
- Contoh: Meminta tolong kepada pemadam kebakaran saat rumah terbakar.
3. Istighotsah kepada Selain Allah yang Tergolong Syirik Besar (Haram)
Inilah yang menjadi titik bahaya. Meminta pertolongan kepada makhluk (malaikat, nabi, jin, atau orang shalih yang sudah meninggal) untuk perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah adalah kesyirikan. Misalnya meminta kesembuhan, meminta keturunan, atau meminta perlindungan dari sial kepada penghuni kubur.
5 Bahaya Fatal Meminta Tolong kepada Selain Allah
Mengapa Hukum Istighotsah kepada selain Allah begitu ditekankan larangannya? Karena dampaknya bukan hanya merusak mentalitas, tetapi juga menghancurkan masa depan kita di akhirat.
1. Menghapuskan Seluruh Amal Ibadah
Dosa syirik adalah pembatal amal yang paling utama. Meskipun seseorang rajin shalat dan berpuasa, jika ia beristighotsah kepada selain Allah, seluruh pahalanya bisa hangus seketika.
“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
2. Terhalang dari Ampunan Allah
Allah Maha Pengampun untuk segala dosa, kecuali syirik jika pelakunya meninggal sebelum bertaubat. Ini adalah risiko terbesar yang membuat seseorang bisa kekal di dalam neraka.
3. Menghilangkan Ketenangan Jiwa
Orang yang menggantungkan hatinya pada makhluk akan selalu diliputi kecemasan. Makhluk itu lemah dan bisa mengecewakan. Sebaliknya, mereka yang hanya bergantung pada Allah akan memiliki qolbun salim (hati yang selamat).
4. Merusak Akal dan Logika
Banyak praktik istighotsah yang salah membuat orang menjadi tidak rasional, mempercayai jimat, atau melakukan ritual yang tidak masuk akal demi mendapatkan “pertolongan” yang semu.
5. Menjadi Penghalang Masuk Surga
Syirik adalah dosa yang menghalangi seseorang dari bau surga. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.
Dalil Kuat: Mengapa Harus Hanya kepada Allah?
Sebagai Muslim yang cerdas, kita harus berpegang pada dalil yang kuat. Mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
Hadits ini adalah pondasi utama dalam Hukum Istighotsah. Jika Nabi Muhammad SAW saja mengarahkan sepupunya untuk langsung meminta kepada Allah, lantas mengapa kita justru mencari perantara yang jauh lebih rendah kedudukannya?
Tabel: Perbandingan Bergantung kepada Allah vs Bergantung kepada Makhluk
| Aspek | Bergantung Hanya kepada Allah | Bergantung kepada Selain Allah (Syirik) |
|---|---|---|
| Status Hukum | Tauhid (Pahala Besar) | Syirik (Dosa Terbesar) |
| Dampak pada Hati | Tenang, Berani, Merdeka | Cemas, Takut, Terbudak |
| Hasil Pertolongan | Pasti yang terbaik bagi hamba | Semu, mengecewakan, dan menyesatkan |
| Kaitan dengan Doa | Ibadah yang langsung diterima | Tertolak dan mendatangkan murka |
Bagaimana Cara Kembali ke Tauhid yang Murni?
Jika di masa lalu kita pernah tergelincir melakukan praktik yang salah, pintu taubat selalu terbuka. Berikut adalah langkah praktis untuk memurnikan kembali istighotsah kita:
- Taubat Nasuha: Menyesali perbuatan masa lalu dan berjanji tidak mengulanginya.
- Menghancurkan Sarana Syirik: Buang atau musnahkan jimat, benda pusaka yang dikeramatkan, atau atribut yang membuat hati bergantung selain kepada Allah.
- Memperdalam Ilmu Tauhid: Teruslah belajar Asmaul Husna agar Anda tahu betapa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Membiasakan Dzikir Pagi Petang: Dzikir ini mengandung perlindungan mutlak hanya kepada Allah.
Kesimpulan
Memahami Hukum Istighotsah adalah perjalanan untuk memerdekakan diri dari perbudakan kepada makhluk. Saat kita hanya bersandar kepada Allah, kita menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, dan memiliki martabat yang tinggi di hadapan manusia. Jangan biarkan kesulitan hidup membuat Anda menukar akidah yang mahal dengan pertolongan yang semu.
Percayalah, Allah adalah satu-satunya Zat yang tidak pernah tidur dan selalu mendengar bisikan hati hamba-Nya yang sedang kesulitan. Cukup katakan, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).
Ingin Memperdalam Ilmu Akidah dan Keislaman Lainnya? Perjalanan hijrah dan menuntut ilmu adalah proses yang tak boleh berhenti. Jangan biarkan pengetahuan Anda stagnan. Masih banyak rahasia tentang tauhid, adab, dan panduan hidup Muslim yang perlu kita pelajari bersama.
Yuk, temukan artikel-artikel edukatif, mendalam, dan inspiratif lainnya seputar kehidupan Muslim hanya di umroh.co. Mari perkuat benteng iman kita dengan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah demi kebahagiaan dunia dan akhirat!




