Makna kalimat tarji sesungguhnya merupakan sebuah deklarasi ketundukan paling puitis dan mendalam yang dimiliki oleh seorang hamba saat ia berhadapan dengan badai ujian kehidupan. Sering kali kita hanya mengucapkannya secara spontan saat mendengar kabar kematian, namun tahukah Anda bahwa kalimat ini adalah “obat penawar” yang Allah turunkan langsung untuk menjaga kewarasan iman kita? Di balik setiap kata yang terucap, ada pengakuan besar bahwa kita tidak memiliki apa pun di dunia ini, dan segalanya akan kembali kepada Sang Pemilik Sejati.
Sebagai umat Muslim yang terus belajar, memahami esensi dari Istirja (mengucapkan kalimat tarji) akan mengubah cara pandang kita terhadap kehilangan. Dari yang semula terasa menyesakkan, menjadi sebuah proses pelepasan yang penuh dengan harapan akan ganti yang lebih baik.
Apa Itu Kalimat Tarji?
Secara istilah, kalimat tarji adalah ucapan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang berarti: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Kalimat ini bukan sekadar tradisi, melainkan perintah langsung dari Allah SWT sebagai ciri khas orang yang sabar.
Landasan Wahyu dalam Al-Qur’an
Allah SWT berfirman mengenai pentingnya memiliki mentalitas tarji:
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156)
Ayat ini didahului dengan janji kabar gembira bagi orang-orang yang sabar (wabassyiris shobirin). Artinya, makna kalimat tarji adalah kunci untuk membuka pintu rahmat dan petunjuk Allah di tengah gelapnya musibah.
4 Makna Mendalam di Balik Kalimat Tarji
Mari kita bedah mengapa kalimat singkat ini memiliki dampak psikologis dan spiritual yang begitu masif bagi seorang Muslim:
1. Pengakuan Kepemilikan Mutlak Allah
Kalimat “Inna lillahi” (Sesungguhnya kami milik Allah) menyadarkan kita bahwa tubuh kita, harta kita, pasangan, anak-anak, hingga jabatan hanyalah “barang titipan”. Saat titipan itu diambil oleh pemiliknya, logikanya kita tidak berhak untuk marah. Kesadaran ini adalah puncak dari ketenangan jiwa.
2. Kesadaran akan Destinasi Akhir
Frasa “Wa inna ilaihi raji’un” (Dan kepada-Nya kami kembali) mengingatkan bahwa dunia hanyalah terminal sementara. Kehilangan apa pun di dunia terasa kecil karena kita tahu bahwa kita pun sedang berjalan menuju titik pertemuan yang sama dengan apa yang hilang tersebut.
3. Penawar Kesedihan dan Penolak Putus Asa
Istirja berfungsi sebagai mekanisme koping (pertahanan diri) terbaik. Ia menghalangi setan untuk membisikkan rasa putus asa atau protes kepada takdir. Dengan mengucapkannya, kita sedang menginstal ulang keyakinan bahwa Allah tahu yang terbaik.
4. Magnet untuk Ganti yang Lebih Baik
Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang sangat indah setelah mengucapkan kalimat tarji:
“Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim)
- Kisah Inspiratif: Ummu Salamah mengamalkan doa ini saat suaminya wafat. Secara logika, tak ada yang lebih baik dari Abu Salamah, namun Allah menggantinya dengan menjadikannya istri Rasulullah SAW.
Kapan Waktu Terbaik Mengucapkannya?
Meskipun identik dengan kematian, makna kalimat tarji mencakup spektrum musibah yang lebih luas. Rasulullah SAW bahkan pernah mengucapkannya saat lampu beliau padam atau saat tali sandalnya putus. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu terhubung dengan Allah dalam setiap gangguan kecil sekalipun.
- Musibah Besar: Kematian, bencana alam, kerugian finansial besar.
- Musibah Menengah: Sakit, kehilangan barang berharga, kegagalan dalam karir.
- Musibah Kecil: Terpeleset, terkena duri, atau hal-hal yang tidak menyenangkan hati.
Tabel: Dampak Psikologis Mengucapkan Kalimat Tarji
| Kondisi Hati | Tanpa Pemahaman Tarji | Dengan Pemahaman Tarji |
|---|---|---|
| Respon Awal | Marah, menyalahkan keadaan/orang lain. | Tenang dan menerima dengan lapang. |
| Durasi Kesedihan | Berlarut-larut hingga depresi. | Sedih sewajarnya, namun cepat bangkit. |
| Pandangan Hidup | Menganggap dunia adalah segalanya. | Menganggap dunia adalah ladang titipan. |
| Hubungan dengan Allah | Merasa Allah tidak adil. | Merasa Allah sedang membersihkan dosa. |
Bagaimana Cara Mengamalkannya agar Terasa di Hati?
Agar tidak sekadar menjadi gerakan lisan, cobalah tips berikut saat musibah datang:
- Jeda Sejenak: Saat berita buruk datang, jangan langsung bereaksi. Tarik napas, dan ucapkan kalimat tarji perlahan.
- Visualisasikan Pelepasan: Bayangkan Anda sedang mengembalikan amanah kepada Pemiliknya.
- Yakin akan Janji Allah: Ingatlah bahwa Allah tidak akan mengambil sesuatu, kecuali Dia ingin memberi sesuatu yang lebih baik atau menghapuskan dosa-dosa kita.
Kesimpulan
Memahami makna kalimat tarji adalah cara paling elegan untuk berdamai dengan kehidupan. Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan apa pun jika kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki. Segalanya mengalir dari Allah dan akan mengalir kembali kepada-Nya. Jadikan kalimat ini sebagai teman setia di setiap langkah, agar saat badai datang, kapal iman kita tetap stabil menuju pelabuhan akhirat.
Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba yang sabar, yang senantiasa lisan dan hatinya basah dengan kalimat tarji.
Ingin Memperdalam Pengetahuan Islam yang Menyejukkan Hati?
Jangan biarkan perjalanan spiritual Anda berhenti di sini. Masih banyak mutiara hikmah dari Al-Qur’an dan Sunnah yang bisa menjadi cahaya dalam keseharian Anda.
Yuk, eksplorasi artikel-artikel inspiratif lainnya seputar akidah, tips ibadah, hingga panduan gaya hidup Muslim hanya di umroh.co. Mari perkuat iman dan perkaya bekal ilmu untuk meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat!



