Perbedaan Pendapat Fiqih dalam rumah tangga merupakan fenomena yang lumrah terjadi, terutama bagi pasangan yang tumbuh dengan latar belakang pendidikan atau organisasi keislaman yang berbeda, namun hal ini seharusnya menjadi ladang rahmat dan wasilah untuk memperkaya khazanah keilmuan keluarga.
Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat pasangan melakukan tata cara shalat yang sedikit berbeda, atau saat berdebat mengenai penentuan awal Ramadhan yang tak kunjung usai? Bagi pasangan Muslim yang taat, urusan agama adalah prioritas, sehingga perbedaan sekecil apa pun dalam masalah hukum Islam sering kali dianggap sebagai ancaman bagi persatuan visi keluarga. Padahal, Islam sendiri adalah agama yang sangat luas dan menghargai keragaman ijtihad selama masih dalam koridor syariat yang benar.
Mengapa Perbedaan Mazhab Bisa Muncul di Tengah Keluarga?
Sebelum kita mencari solusi, penting untuk memahami bahwa Perbedaan Pendapat Fiqih biasanya muncul karena perbedaan guru, referensi kitab yang dibaca, atau pengaruh lingkungan sosial saat masa pertumbuhan. Hal ini bukanlah sebuah dosa atau indikasi bahwa salah satu pihak kurang bertakwa. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa pasangan Anda adalah sosok yang memiliki kepedulian terhadap agamanya.
Islam memandang perbedaan sebagai keniscayaan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang maknanya sering dikutip oleh para ulama:
“Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat.” (Meskipun status hadis ini diperdebatkan sanadnya, maknanya diakui secara luas oleh para ulama dalam konteks furu’iyah atau cabang agama).
Memahami landasan ini akan membuat Anda lebih tenang. Anda tidak lagi melihat pasangan sebagai “pihak yang salah”, melainkan sebagai rekan perjalanan menuju surga yang hanya sedang mengambil rute jalan yang berbeda.
Landasan Islam dalam Menghadapi Ikhtilaf (Perbedaan)
Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk bersatu dalam hal yang fundamental (ushul), namun memberikan kelonggaran dalam hal yang bersifat teknis atau cabang (furu’). Salah satu prinsip utama yang harus dipegang teguh adalah saling menghormati.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Jika kita diperintahkan mendamaikan sesama mukmin, tentu mendamaikan suasana hati dengan pasangan adalah kewajiban yang lebih utama demi menjaga keutuhan rumah tangga.
7 Strategi Bijak Menghadapi Perbedaan Pendapat Fiqih
Berikut adalah langkah-langkah praktis dan spiritual yang bisa Anda terapkan bersama pasangan:
1. Dahulukan Adab di Atas Ilmu
Sering kali perdebatan memanas bukan karena isi argumennya, melainkan karena cara menyampaikannya. Gunakan lisan yang lembut (qaulan layyina). Jangan pernah merendahkan pemahaman pasangan atau menyebutnya “kurang berilmu”. Ingatlah, memenangkan argumen namun melukai hati pasangan adalah sebuah kerugian besar.
2. Belajar Bersama (Thalabul Ilmi)
Jadikan Perbedaan Pendapat Fiqih sebagai motivasi untuk membuka kembali kitab-kitab referensi. Ajak pasangan untuk membaca penjelasan dari berbagai mazhab. Dengan mempelajari alasan di balik setiap pendapat, Anda berdua akan menyadari bahwa masing-masing memiliki argumen yang kuat dan berdasar.
3. Fokus pada Persamaan Utama (Ushul)
Ingatlah bahwa Anda dan pasangan tetap menyembah Allah yang satu, berkiblat pada Ka’bah yang sama, dan mengikuti Nabi Muhammad SAW yang sama. Perbedaan apakah shalat menggunakan qunut atau tidak, atau di mana posisi tangan saat sedekap, hanyalah masalah cabang yang tidak seharusnya memecah ikatan suci pernikahan.
4. Mengikuti Kaidah “La Inkar fi Masailil Ijtihad”
Ada kaidah fiqih populer yang berbunyi: “Tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah-masalah ijtihadiah.” Artinya, jika pasangan memilih pendapat ulama yang kredibel, Anda tidak berhak menyalahkannya secara keras. Selama pendapat tersebut memiliki landasan dari ulama yang muktabar (diakui), maka itu adalah kebenaran bagi yang mengikutinya.
5. Hindari Debat Kusir (Mura’)
Rasulullah SAW memberikan jaminan bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud).
6. Konsultasi pada Ulama yang Netral
Jika perbedaan pendapat mulai mengganggu keharmonisan, mintalah nasihat kepada ustadz atau ulama yang bijak dan tidak fanatik pada satu mazhab saja. Penjelasan dari pihak ketiga yang berilmu sering kali lebih mudah diterima oleh kedua belah pihak.
7. Melapangkan Dada dengan Tasamuh (Toleransi)
Sikap lapang dada adalah kunci kedamaian. Terimalah bahwa pasangan Anda memiliki hak untuk mengikuti keyakinannya. Sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata: “Pendapatku benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain salah, tapi mungkin mengandung kebenaran.”
Tabel: Perbedaan Debat Kusir vs Diskusi Sehat di Rumah
Memahami perbedaan interaksi akan membantu Anda menjaga kualitas komunikasi keluarga:
| Karakteristik | Debat Kusir (Dihindari) | Diskusi Sehat (Dianjurkan) |
|---|---|---|
| Tujuan | Ingin memenangkan argumen. | Ingin mencari kebenaran dan rida Allah. |
| Suara | Nada tinggi dan memotong pembicaraan. | Tenang, mendengarkan, dan saling menghargai. |
| Referensi | Hanya dari satu sumber/ustadz idola. | Membuka berbagai perspektif ulama. |
| Dampak | Hati dongkol dan suasana rumah tegang. | Hati tenang dan ilmu bertambah. |
| Sikap Akhir | Memaksa pasangan harus ikut. | Saling menghormati pilihan masing-masing. |
Saat Perbedaan Menyangkut Anak: Bagaimana Solusinya?
Masalah sering kali menjadi rumit ketika menyangkut pendidikan agama anak. Dalam hal ini, disarankan untuk:
- Kesepakatan Bersama: Diskusikan mazhab mana yang akan diajarkan secara dominan kepada anak agar anak tidak bingung.
- Mengenalkan Keragaman: Seiring bertambahnya usia anak, kenalkan bahwa Islam memiliki keragaman pendapat. Ini akan membentuk karakter anak yang toleran dan luas wawasannya.
- Prioritaskan Adab: Ajarkan anak untuk selalu menghormati orang lain yang berbeda pendapat, dimulai dengan melihat bagaimana ayah dan ibunya saling menghormati.
Hikmah di Balik Adanya Perbedaan Pendapat Fiqih
Allah SWT tidak menjadikan agama ini sempit. Adanya Perbedaan Pendapat Fiqih memberikan kemudahan bagi umat dalam kondisi-kondisi tertentu. Misalnya, dalam perjalanan jauh atau saat sakit, pendapat satu mazhab mungkin lebih relevan dibanding mazhab lainnya. Di dalam rumah tangga, perbedaan ini justru bisa menjadi sarana untuk saling melengkapi dan memperdalam kasih sayang melalui pintu saling pengertian.
Kesimpulan
Menghadapi Perbedaan Pendapat Fiqih dengan pasangan adalah ujian kedewasaan spiritual. Seseorang yang benar-benar berilmu akan terlihat dari seberapa luas hatinya dalam menerima perbedaan. Jangan biarkan masalah cabang merusak akar cinta yang sudah Anda tanam bersama pasangan karena Allah SWT. Jadikan rumah Anda sebagai laboratorium adab, di mana perbedaan tidak melahirkan perpecahan, melainkan kekaguman akan luasnya samudra ilmu Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita semua dan menjadikan rumah tangga kita sebagai tempat bernaung yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan-Nya.
Apakah Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang panduan rumah tangga sakinah, fikih keseharian, atau informasi seputar kehidupan muslim lainnya? Memperdalam pemahaman agama adalah investasi terbaik untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Jangan lewatkan berbagai artikel edukatif lainnya seputar tips parenting Islami, adab pergaulan pasutri, hingga panduan ibadah yang mencerahkan hanya di website umroh.co. Dapatkan informasi tepercaya yang disajikan dengan bahasa yang mencerahkan untuk membimbing Anda menjadi pribadi yang lebih bijak dan kaffah. Yuk, perkaya literasi keislaman Anda bersama kami sekarang juga!





