Pernahkah Ayah dan Bunda merasa cemas jika suatu saat nanti si kecil tumbuh menjadi pribadi yang terlalu sungkan dan akhirnya hanya bisa “ikut-ikutan” pada hal buruk karena takut dikucilkan temannya? Melatih Keberanian Anak untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak baik adalah salah satu bentuk kasih sayang terbesar kita dalam menyiapkan mereka menghadapi dunia yang penuh warna.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin buah hati kita memiliki izzah (kehormatan diri) yang kuat. Namun, seringkali kita bingung bagaimana cara menanamkan keberanian itu tanpa membuat mereka menjadi anak yang pembangkang. Mari kita bicara dari hati ke hati, mencari jalan yang paling tenang dan penuh hikmah untuk membentuk karakter sang pejuang kecil kita.
Mengapa Keberanian Berkata “Tidak” Adalah Bentuk Izzah?
Dalam Islam, memiliki prinsip hidup adalah sebuah kewajiban. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya sekadar “shaleh” untuk dirinya sendiri, tapi juga kuat menghadapi tekanan lingkungan. Keberanian berkata tidak pada hal buruk adalah cerminan dari kemandirian jiwa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. Al-Ma’idah: 105)
Ayat ini adalah pengingat bagi kita bahwa menjaga diri—termasuk menjaga prinsip—adalah prioritas. Dengan Melatih Keberanian Anak sejak dini, kita sebenarnya sedang membantu mereka membangun benteng pertahanan ruhani agar mereka tetap berada di jalan yang lurus meski badai pergaulan mencoba menyeretnya.
5 Langkah Lembut dalam Melatih Keberanian Anak
Membangun keberanian bukanlah dengan cara dikerasi, melainkan dengan cara ditanamkan rasa percaya diri. Berikut adalah panduan yang bisa Ayah dan Bunda terapkan dengan suasana yang tenang di rumah:
1. Menanamkan Akidah sebagai Pondasi Utama
Anak perlu tahu bahwa satu-satunya yang patut ditakuti adalah Allah SWT, bukan teman atau lingkungan. Ajarkan mereka secara perlahan bahwa ridha Allah jauh lebih penting daripada pujian manusia. Jika mereka merasa Allah selalu bersamanya (Muraqabah), maka rasa takut pada tekanan teman akan berkurang dengan sendirinya.
2. Validasi Perasaan dan Pendapatnya di Rumah
Keberanian berkata “tidak” di luar rumah dimulai dari keberanian menyatakan pendapat di dalam rumah.
- Berikan ruang bagi anak untuk memilih bajunya sendiri atau menu makannya sesekali.
- Saat anak berkata tidak pada sesuatu (selama itu bukan hal wajib seperti ibadah), dengarkan alasannya.
- Anak yang merasa suaranya dihargai di rumah akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri untuk bersuara di luar rumah.
3. Latihan Simulasi “Role Play” yang Menyenangkan
Terkadang anak tahu itu buruk, tapi mereka tidak tahu “bagaimana” cara menolaknya tanpa merusak suasana. Ajak anak bermain peran:
- Ayah berpura-pura menjadi teman yang mengajak bolos sekolah atau berbohong.
- Ajarkan kalimat penolakan yang sopan namun tegas, seperti: “Maaf ya, aku tidak bisa ikut kalau itu, soalnya aku ingin jadi anak jujur.”
- Latihan ini akan membuat mereka tidak kagok saat menghadapi situasi sebenarnya.
4. Menjadi Teladan dalam Kebaikan
Anak adalah peniru yang ulung. Jika mereka melihat Ayah atau Bunda berani menolak hal yang tidak benar di kantor atau di lingkungan sosial dengan cara yang santun, mereka akan belajar bahwa berkata “tidak” adalah hal yang normal dan mulia.
5. Memberikan Pujian pada Keberaniannya
Saat si kecil berhasil menolak ajakan temannya untuk menjahili orang lain, berikan apresiasi yang tulus. Katakan, “Masya Allah, Bunda bangga sekali kamu berani berpendapat. Itu tanda anak yang hebat!” Pujian ini akan menjadi self-healing bagi mereka saat mereka merasa sedikit sedih karena mungkin sempat dijauhi teman.
Hadits dan Hikmah: Berkata Benar Meski Pahit
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya kejujuran dan keteguhan hati. Beliau bersabda:
“Katakanlah yang benar meskipun itu pahit.” (HR. Ahmad & Ibnu Hibban)
Pahit di sini bisa berarti rasa tidak enak hati kepada teman atau rasa takut tidak dianggap keren. Namun, ajarkan pada anak bahwa rasa “pahit” itu hanya sementara, sedangkan manisnya rida Allah dan ketenangan hati karena melakukan hal benar akan bertahan selamanya.
Selain itu, ingatkan anak tentang pentingnya memilih teman, karena lingkungan sangat memengaruhi keberanian mereka:
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Daud)
Self-Healing bagi Orang Tua: Melepas Cemas dengan Tawakal
Ayah dan Bunda, terkadang kecemasan kita yang berlebihan justru membuat anak merasa tertekan. Mengajarkan keberanian juga berarti kita sedang belajar untuk percaya pada proses pendidikan yang kita berikan.
Ketika kita sudah berusaha maksimal dalam Melatih Keberanian Anak, maka tugas terakhir kita adalah tawakal. Doakan mereka di setiap sujud agar Allah senantiasa menjaga lisan dan langkah mereka. Ingatlah bahwa penjagaan Allah jauh lebih sempurna daripada pengawasan kita 24 jam.
Kesimpulan
Melatih Keberanian Anak untuk berkata “tidak” adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi dan contoh nyata. Dengan pondasi iman yang kuat dan dukungan emosional yang hangat dari rumah, insya Allah anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang berwibawa, berprinsip, namun tetap santun dalam bersikap.
Semoga buah hati kita menjadi generasi yang tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman dan selalu berani berdiri tegak membela kebenaran.
Ingin mendapatkan lebih banyak tips pengasuhan islami, cara mendidik anak berakhlak mulia, atau panduan keluarga sakinah lainnya?
Jangan ragu untuk menjelajahi artikel-artikel penuh inspirasi dan pengetahuan keislaman lainnya di website umroh.co. Temukan berbagai ulasan mendalam yang akan membantu perjalanan spiritual dan keluarga Anda menjadi lebih bermakna setiap harinya.





