Membangun Percaya Diri Anak adalah sebuah seni menyentuh jiwa yang memerlukan ketulusan serta panduan spiritual agar mereka tidak terjebak dalam jebakan rasa bangga yang berlebihan (ujub), melainkan tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap kelebihan adalah titipan dari Sang Pencipta.
Kadang, sebagai orang tua, kita merasa lelah dan bingung bagaimana cara memberikan apresiasi yang pas. Mari kita duduk sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan jadikan momen mendidik ini sebagai perjalanan untuk memperbaiki diri kita sendiri. Kita ingin anak kita merasa berharga, namun tetap menundukkan kepala di hadapan Allah SWT.
Mengapa Apresiasi yang Salah Bisa Berdampak Kurang Baik?
Banyak dari kita terbiasa memuji anak dengan kalimat “Kamu pintar sekali!” atau “Kamu paling hebat!”. Meski niatnya baik, pujian yang hanya berfokus pada hasil atau label permanen justru bisa membuat anak merasa terbebani untuk selalu sempurna.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk senantiasa mengembalikan segala pujian kepada Allah (Alhamdulillah). Membangun rasa percaya diri yang islami berarti menanamkan bahwa mereka mampu karena Allah yang memampukan.
7 Teknik Memberikan Apresiasi yang Menenangkan dan Bijak
Berikut adalah beberapa cara kreatif dan persuasif yang bisa Sahabat Muslim terapkan di rumah:
1. Fokuslah pada Proses dan Usaha, Bukan Sekadar Hasil
Alih-alih berkata “Gambarmu bagus sekali!”, cobalah katakan: “Masya Allah, Bunda lihat Kakak rajin sekali mewarnainya sampai rapi ya. Pasti tadi Kakak sabar sekali mengerjakannya.”
- Teknik ini menghargai kerja keras anak.
- Anak belajar bahwa ketekunan adalah kunci, bukan sekadar bakat alami.
2. Selipkan Kalimat Thayyibah dalam Setiap Pujian
Setiap kali kita melihat sesuatu yang menakjubkan dari anak, awali dengan mengingat Allah.
- Katakan, “Masya Allah, hebat ya Kakak sudah bisa pakai baju sendiri.”
- Hal ini secara tidak sadar mengajarkan anak bahwa keberhasilannya ada karena kehendak Allah.
- Rasulullah SAW pun sering mengingatkan kita untuk mendoakan keberkahan (Barakallahu fiik) saat melihat kebaikan pada orang lain.
3. Ajarkan Anak untuk “Menitipkan” Keberhasilannya pada Allah
Saat anak merasa bangga, ajak mereka bersyukur. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
- Ajak mereka berkata: “Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah bantu aku hari ini.”
- Ini adalah fondasi agar percaya diri mereka tidak berubah menjadi kesombongan.
4. Gunakan Apresiasi Deskriptif
Ceritakan apa yang Sahabat Muslim lihat. Misalnya, saat anak merapikan mainan tanpa disuruh.
- “Bunda senang sekali melihat lantai sudah bersih dan mainan sudah masuk ke kotak. Terima kasih ya sudah membantu Bunda.”
- Pujian seperti ini membuat anak merasa benar-benar diperhatikan tindakannya, bukan sekadar diberi label “anak baik”.
5. Hindari Membandingkan dengan Orang Lain
Membangun Percaya Diri Anak akan gagal jika kita masih sering berkata, “Tuh lihat si A, dia lebih cepat.”
- Setiap anak memiliki garis start dan jalurnya masing-masing.
- Fokuslah pada kemajuan dirinya sendiri dibandingkan hari kemarin. Ini akan membuat hati Sahabat Muslim lebih tenang dan tidak mudah stres membanding-bandingkan pencapaian.
6. Berikan Apresiasi Lewat Bahasa Tubuh yang Hangat
Kadang, pelukan yang erat, usapan di kepala, atau jempol yang diangkat dengan senyum tulus jauh lebih bermakna daripada hadiah materi.
- Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat penyayang dan sering membelai kepala anak-anak.
- Kedekatan fisik ini membangun “tangki cinta” anak sehingga mereka merasa aman dan percaya diri.
7. Ajak Anak Melihat Kelebihan Orang Lain (Empati)
Agar tetap rendah hati, ajari anak untuk juga memberikan apresiasi kepada teman atau saudaranya.
- “Lihat Kak, temannya juga hebat ya bisa lari cepat. Yuk, kita kasih selamat!”
- Ini melatih jiwa mereka agar tidak merasa paling benar atau paling hebat sendirian di dunia ini.
Menjadikan Pujian sebagai Sarana Self-Healing Orang Tua
Sahabat Muslim, saat kita belajar memuji dengan benar, sebenarnya kita sedang melatih diri kita untuk lebih banyak melihat kebaikan daripada kekurangan. Sering kali kita terlalu sibuk mencari kesalahan anak sehingga hati kita sendiri menjadi sempit dan penuh amarah.
Dengan berlatih mencari sisi positif anak untuk diapresiasi, secara perlahan hati kita akan menjadi lebih luas, tenang, dan penuh rasa syukur. Ini adalah proses penyembuhan bagi jiwa orang tua yang mungkin selama ini terlalu menuntut kesempurnaan.
Kesimpulan
Tujuan utama kita dalam Membangun Percaya Diri Anak bukanlah untuk menciptakan pribadi yang haus akan pengakuan manusia, melainkan jiwa yang yakin bahwa ia memiliki potensi besar untuk menjadi manfaat bagi sesama karena rida Allah.
Pujian yang tepat akan menjadi pupuk bagi karakter mereka, sedangkan syukur kepada Allah akan menjadi akarnya yang menghujam kuat ke bumi. Teruslah belajar, Sahabat Muslim, karena setiap kata yang kita ucapkan adalah doa yang akan membentuk masa depan mereka.
Ingin mengetahui lebih banyak tentang panduan mendidik anak sesuai sunnah atau artikel inspiratif tentang kehidupan muslim lainnya? Sahabat Muslim bisa menjelajahi berbagai pembahasan mendalam dan menenangkan hati seputar parenting dan keislaman hanya di umroh.co. Mari bersama-sama bertumbuh menjadi orang tua yang lebih bijak dan berlimpah berkah!



