Hukum Memukul Anak dalam Islam sering kali menjadi topik yang disalahpahami, padahal jika kita menelaah lebih dalam, Islam adalah agama yang mengedepankan kasih sayang di atas segalanya. Sahabat Muslim, pernahkah Anda merasa begitu sesak di dada dan hampir kehilangan kendali hingga ingin melayangkan tangan saat melihat si kecil terus melakukan kesalahan yang sama?
Kita semua pernah berada di titik lelah itu. Namun, sebelum kemarahan menguasai diri, mari kita rehat sejenak dan menyadari bahwa anak-anak adalah amanah yang fitrahnya masih sangat murni. Mendidik mereka bukanlah tentang menaklukkan, melainkan tentang membimbing dengan hati yang tenang. Mari kita bedah bagaimana Islam mengatur batasan mendisiplinkan anak agar tujuan kita mendidik tidak justru menjadi luka yang membekas seumur hidup.
Kelembutan: Warisan Utama Rasulullah dalam Mendidik
Sahabat Muslim, tahukah Anda bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memukul anak kecil, pembantu, maupun wanita seumur hidup beliau? Beliau adalah cermin kesabaran yang luar biasa. Allah SWT berfirman mengenai indahnya kelembutan:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekerasan justru akan menjauhkan anak-anak dari kita. Kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan jiwa orang tua dalam mengelola emosi.
Memahami Hukum Memukul Anak dalam Perspektif Syariat
Dalam sebuah hadits yang sering dikutip, Rasulullah SAW bersabda:
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat bila telah berumur sepuluh tahun…” (HR. Abu Daud).
Banyak orang tua yang hanya fokus pada kata “pukul”, padahal ada rahasia besar di baliknya:
- Waktu yang Panjang: Ada jeda 3 tahun (7 ke 10 tahun) atau sekitar 5.475 waktu shalat bagi kita untuk mengajak mereka dengan cinta sebelum ada unsur “ketegasan”.
- Hanya untuk Urusan Shalat: Perintah ini sangat spesifik untuk shalat (hubungan dengan Allah), bukan untuk hal sepele seperti menumpahkan susu atau memecahkan piring.
7 Batasan Ketat Jika Harus Mendisiplinkan Secara Fisik
Jika memang sudah sampai pada tahap di mana ketegasan fisik diperlukan (sebagai upaya terakhir yang sangat darurat), para ulama memberikan batasan yang sangat ketat:
1. Tujuan Mendidik, Bukan Meluapkan Amarah
Pukulan tidak boleh dilakukan saat Sahabat Muslim sedang merasa sangat marah. Jika Anda marah, masuklah ke kamar, berwudhu, atau duduklah sampai emosi mereda. Pukulan dalam kondisi marah adalah bentuk balas dendam, bukan pendidikan.
2. Hindari Area Wajah dan Bagian Vital
Rasulullah SAW dengan tegas melarang memukul wajah. Wajah adalah simbol kemuliaan manusia. Memukul wajah akan menghancurkan harga diri dan martabat anak.
3. Pukulan Tidak Boleh Meninggalkan Bekas
Dalam istilah syariat disebut Ghairu Mubarrih. Pukulan ini tidak boleh menyebabkan kulit memerah, apalagi biru atau berdarah. Gunakanlah sesuatu yang ringan, seperti siwak atau sapu tangan yang dilipat.
4. Tidak Boleh Menyakiti Secara Fisik
Tujuan pukulan ini hanyalah memberikan “kejutan psikologis” bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah besar, bukan untuk memberikan rasa sakit yang menyiksa.
5. Jangan Memukul di Depan Orang Lain
Menghukum anak di depan teman-temannya atau saudaranya akan meninggalkan trauma rasa malu yang mendalam. Hal ini justru bisa membuat anak menjadi pemberontak di kemudian hari.
6. Berhenti Jika Anak Mengingat Allah
Para ulama menyebutkan, jika saat anak hendak dihukum ia menyebut nama Allah atau memohon ampun dengan tulus, maka hendaknya kita melepaskannya sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.
7. Segera Peluk dan Beri Penjelasan
Setelah proses pendisiplinan selesai, segera peluk anak. Jelaskan bahwa Anda melakukan itu karena sayang dan ingin menjaganya dari murka Allah. Pastikan ia tahu bahwa yang Anda benci adalah “perbuatannya”, bukan “dirinya”.
Bahaya Kekerasan Fisik: Mengapa Harus Dihindari?
Sahabat Muslim, kekerasan fisik yang berlebihan memiliki dampak jangka panjang yang sering kali tidak kita sadari:
- Mematikan Logika: Anak tidak belajar “kenapa” perbuatannya salah, mereka hanya belajar cara “tidak tertangkap” atau “takut pada tangan Anda”.
- Meniru Kekerasan: Mereka akan belajar bahwa kekerasan adalah solusi untuk menyelesaikan masalah dengan orang yang lebih lemah.
- Merusak Bonding: Kedekatan emosional antara orang tua dan anak akan retak, sehingga mereka tidak lagi menjadikan Anda tempat curhat yang aman.
5 Langkah Mendisiplinkan Anak dengan Hati yang Tenang
Mari kita coba pendekatan yang lebih menenangkan bagi jiwa kita dan anak:
- Validasi Perasaan: “Bunda tahu kamu sedang kesal, tapi melempar mainan itu tidak baik.”
- Berikan Konsekuensi Logis: “Karena mainannya dilempar, mainannya Bunda simpan dulu ya sampai besok.”
- Gunakan Time-out Sejenak: Berikan waktu bagi anak (dan Anda) untuk merenung di sudut yang tenang.
- Berikan Pilihan: “Kamu mau beresin sekarang atau 5 menit lagi?”
- Doa yang Tak Putus: Hidayah milik Allah. Doakan mereka di waktu-waktu mustajab agar dilembutkan hatinya.
Kesimpulan
Memahami Hukum Memukul Anak seharusnya membuat kita semakin berhati-hati. Kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan jiwa yang sehat, mencintai Allah bukan karena takut pada “rotan”, tapi karena merasakan keindahan Islam dari perilaku kita. Setiap tarikan napas sabar yang Sahabat Muslim lakukan hari ini adalah investasi besar untuk masa depan mereka.
Tetaplah menjadi teladan yang penuh kasih, karena setiap kata dan perbuatan kita adalah jejak yang akan mereka ikuti.
Ingin mengetahui lebih banyak tentang panduan adab keluarga atau tips mendalami ilmu parenting islami lainnya? Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai artikel inspiratif dan menyejukkan hati lainnya seputar kehidupan muslim hanya di umroh.co. Mari bersama-sama membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah dengan ilmu yang tepat!



