Parenting ala Luqman Al-Hakim adalah kurikulum abadi yang Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an sebagai oase bagi setiap orang tua yang sedang merasa lelah atau bingung dalam mendidik buah hatinya. Sahabat Muslim, pernahkah Anda merasa khawatir berlebihan tentang masa depan moral anak, atau mungkin merasa suara Anda tidak lagi didengar oleh mereka di tengah bisingnya pengaruh dunia luar?
Wajar jika Sahabat Muslim merasa gelisah, namun mari kita jadikan kegelisahan itu sebagai awal dari self-healing spiritual kita. Mari kita lepaskan sejenak beban ekspektasi duniawi dan kembali menengok nasihat emas Luqman yang penuh cinta. Melalui pendekatan yang humanis dan sangat mendalam, Luqman mengajarkan bahwa mendidik bukan tentang paksaan, melainkan tentang membangun pondasi jiwa yang kokoh.
Mengapa Nasihat Luqman Disebut sebagai Kurikulum Abadi?
Dalam surat Luqman, Allah menggambarkan sosok ini bukan sebagai nabi, melainkan seorang hamba yang diberikan Al-Hikmah (kebijaksanaan). Artinya, siapa pun kita, Sahabat Muslim, bisa meneladani cara beliau berbicara kepada anaknya.
Kunci utama dalam Parenting ala Luqman Al-Hakim adalah panggilan sayang “Ya Bunayya” (Wahai anakku tersayang). Panggilan ini mengandung makna kasih sayang yang mendalam, bukan sekadar perintah kaku. Ini mengajarkan kita bahwa sebelum memberikan nasihat, kita harus memastikan hati anak sudah terbuka oleh rasa cinta kita.
7 Nasihat Emas Luqman untuk Membentuk Karakter Anak
Mari kita bedah satu per satu strategi parenting yang Allah abadikan dalam Surah Luqman (ayat 13-19) ini:
1. Membangun Tauhid: Akar dari Ketenangan Jiwa
Nasihat pertama Luqman bukanlah tentang belajar atau bekerja, melainkan tentang Tauhid.
- “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
- Mengapa ini penting? Karena anak yang mengenal Tuhannya akan memiliki “pegangan” saat dunianya sedang goyah.
2. Menanamkan Adab kepada Orang Tua (Birrul Walidain)
Allah menyelipkan perintah berbakti kepada orang tua tepat setelah perintah tauhid.
- Anak diajarkan untuk bersyukur kepada Allah, lalu bersyukur kepada orang tuanya.
- Ini adalah cara membangun empati dan rasa terima kasih dalam diri si kecil sejak dini.
3. Kesadaran akan Pengawasan Allah (Muraqabah)
Luqman memberikan metafora yang sangat indah tentang biji sawi:
- “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan)…” (QS. Luqman: 16).
- Sahabat Muslim, ajarkan anak bahwa meski Ayah dan Bunda tidak melihat, Allah selalu ada. Ini adalah benteng terkuat saat mereka jauh dari jangkauan kita.
4. Kedisiplinan Spiritual Melalui Shalat
Setelah akidah kuat, Luqman memerintahkan anak untuk mendirikan shalat.
- Shalat adalah tiang yang menjaga struktur mental anak agar tetap tegak di tengah badai kehidupan.
5. Membentuk Kepedulian Sosial (Amar Ma’ruf Nahi Munkar)
Luqman ingin anaknya menjadi manfaat bagi orang lain.
- Anak didorong untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
- Hal ini melatih keberanian dan integritas anak sejak dini.
6. Kekuatan Sabar dalam Menghadapi Ujian
“…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman: 17).
- Inilah aspek self-healing bagi anak. Ajarkan mereka bahwa hidup tidak selalu mulus, namun sabar adalah obat yang paling mujarab.
7. Akhlak dan Rendah Hati dalam Berinteraksi
Luqman memberikan aturan komunikasi yang sangat praktis:
- Jangan memalingkan muka (sombong).
- Jangan berjalan di bumi dengan angkuh.
- Sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suara.
- Rasulullah SAW pun bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Sesuai dengan QS. Luqman: 18).
Menerapkan Pola Komunikasi Luqman yang Menyejukkan Hati
Sahabat Muslim, nasihat Luqman bisa efektif karena cara menyampaikannya yang menyentuh relung hati. Berikut tips untuk kita para orang tua:
- Gunakan Panggilan Sayang: Jangan pernah memanggil anak hanya dengan namanya saat memberikan nasihat serius. Gunakan panggilan yang membuat mereka merasa dicintai.
- Berikan Alasan (Logika Iman): Luqman selalu memberikan alasan di setiap nasihatnya (misal: “karena itu adalah kezaliman besar”). Ini membantu anak memahami “mengapa”, bukan sekadar “apa”.
- Kendalikan Emosi: Jadikan momen menasihati sebagai sarana healing bagi kita. Bicaralah dengan suara yang rendah dan tenang, sebagaimana Luqman melarang bersuara keras seperti suara keledai.
Kesimpulan
Menerapkan Parenting ala Luqman Al-Hakim adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam semalam. Namun, dengan mengikuti kurikulum langit ini, kita sedang menanam benih-benih kebaikan yang akan tumbuh menjadi pohon yang rindang bagi masa depan mereka.
Tetaplah berhusnudzon pada proses, Sahabat Muslim. Allah tidak membebani kita untuk berhasil mengubah anak secara instan, Allah hanya meminta kita untuk berusaha dengan cara terbaik dan penuh kasih sayang.
Ingin mengetahui lebih banyak tentang tafsir surat Luqman atau tips keluarga islami lainnya? Sahabat Muslim bisa menjelajahi berbagai artikel inspiratif dan edukatif seputar dunia parenting dan keislaman hanya di umroh.co. Mari bersama-sama memperkaya ilmu demi membangun generasi yang mencintai Allah dan sesama!



