Adab Makan Bersih bukan sekadar urusan merapikan piring setelah makan, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menanamkan rasa syukur yang mendalam di hati buah hati kita.
Di tengah dunia yang serba instan ini, melihat anak menghabiskan makanannya sampai butir terakhir adalah sebuah ketenangan tersendiri bagi orang tua. Mari kita duduk sejenak, menarik napas dalam, dan merenungkan bagaimana cara membimbing tangan-tangan mungil mereka agar tidak terbiasa melakukan perilaku mubadzir.
Mengapa Menghabiskan Makanan Itu Begitu Penting dalam Islam?
Sahabat Muslim, dalam Islam, makanan bukan sekadar pemuas lapar. Ia adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah SWT dengan sangat lembut namun tegas mengingatkan kita dalam Al-Qur’an mengenai perilaku boros atau membuang-buang sesuatu.
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan…” (QS. Al-Isra’: 26-27).
Mengajarkan anak untuk tidak menyisakan makanan adalah cara kita menjaga mereka agar tidak dekat dengan sifat-sifat syaitan. Ini adalah bentuk self-healing bagi jiwa kita, karena dengan menghargai makanan, kita sedang melatih rasa cukup dan qana’ah dalam keluarga.
7 Langkah Praktis Menanamkan Adab Makan Bersih pada Anak
Berikut adalah panduan yang bisa Sahabat Muslim praktikkan di rumah dengan penuh kasih sayang tanpa perlu ada drama di meja makan.
1. Mulailah dari Porsi yang Sangat Kecil
Seringkali anak menyisakan makanan karena piringnya terlalu penuh. Ajarkan anak untuk mengambil porsi “sedikit tapi habis”. Jika masih lapar, mereka boleh menambah. Ini melatih mereka untuk mengenali rasa kenyang dan bertanggung jawab atas apa yang mereka ambil sendiri.
2. Kenalkan Perjalanan Panjang “Sepiring Nasi”
Ajak si kecil mengobrol tentang bagaimana petani menanam padi di bawah terik matahari, bagaimana pedagang membawanya ke pasar, hingga Bunda memasaknya dengan kasih sayang. Saat anak tahu ada “keringat” dan “doa” di setiap butirnya, mereka akan lebih segan untuk membuangnya.
3. Mempraktikkan Sunnah Menjilat Jari
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menghargai setiap bagian makanan. Beliau bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia mengusap tangannya dengan kain sebelum ia menjilat jarinya atau menjilatkannya kepada orang lain.” (HR. Muslim no. 2033).
Jelaskan pada anak bahwa kita tidak pernah tahu di butir makanan yang mana Allah meletakkan keberkahan (barakah). Bisa jadi keberkahan itu ada pada butir terakhir atau yang menempel di jari.
4. Jadikan Doa Sebagai Komitmen, Bukan Sekadar Hafalan
Sebelum makan, ajak anak meresapi arti doa yang dibaca. Katakan pada mereka, “Kita minta berkah sama Allah, jadi ayo kita jaga makanannya supaya berkahnya tidak terbuang.” Begitu juga saat selesai makan, ajarkan ucapan Alhamdulillah dengan penuh perasaan.
5. Hindari Mencela Makanan di Depan Anak
Sahabat Muslim, anak adalah peniru ulung. Jika kita sering mengeluh tentang rasa makanan, anak akan mudah meremehkan makanan. Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka, beliau makan; jika tidak, beliau meninggalkannya tanpa kata-kata buruk.
6. Libatkan Anak dalam Proses Menyiapkan Makanan
Saat anak ikut membantu mencuci sayur atau menaruh piring, mereka merasa memiliki “andil” dalam hidangan tersebut. Rasa memiliki ini biasanya akan membuat mereka lebih menghargai dan enggan menyia-nyiakan apa yang telah mereka bantu siapkan.
7. Berikan Teladan yang Nyata
Hal yang paling menyentuh hati anak adalah melihat piring ayah dan bundanya selalu bersih. Tunjukkan bahwa kita sangat menikmati rezeki tersebut dan tidak menyisakan apapun. Konsistensi kita adalah guru terbaik bagi mereka.
Mengatasi Masalah Mubadzir dengan Hati yang Tenang
Mengajarkan tanggung jawab ini memang membutuhkan kesabaran ekstra. Jika suatu saat anak tidak sengaja menyisakan makanan, jangan langsung memarahi dengan nada tinggi. Ajak mereka bicara dari hati ke hati di waktu tenang (seperti sebelum tidur).
Katakan, “Sayang, tadi ada nasi yang menangis karena tidak dimakan. Kasihan ya, padahal nasi itu mau jadi energi supaya kakak kuat ibadah.” Pendekatan humanis seperti ini jauh lebih membekas daripada paksaan.
Ingatlah firman Allah SWT:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Kesimpulan
Menanamkan Adab Makan Bersih pada anak adalah investasi dunia dan akhirat. Dengan piring yang bersih, kita sedang membangun karakter anak yang tahu berterima kasih, disiplin, dan memiliki empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung di luar sana. Semoga rumah kita selalu dipenuhi dengan keberkahan dari setiap butir rezeki yang kita syukuri.
Sahabat Muslim ingin mendapatkan lebih banyak inspirasi seputar pola asuh Islami, kisah-kisah penuh hikmah, atau informasi menarik mengenai persiapan ibadah umroh dan haji?
Jangan lupa untuk mengunjungi dan membaca artikel menarik lainnya di umroh.co. Temukan berbagai panduan kehidupan Muslim yang menyejukkan hati dan memperluas cakrawala pengetahuan keislaman kita. Mari terus belajar menjadi hamba yang lebih baik setiap harinya!



