Menjelaskan Keadilan Allah kepada anak adalah sebuah perjalanan rasa yang membutuhkan ketenangan hati, agar mereka tidak tumbuh dengan keraguan, melainkan dengan prasangka baik (husnudzon) yang kokoh kepada Sang Pencipta.
Mari kita tarik napas dalam-dalam, rangkul pundak mereka, dan sadari bahwa saat kita mengajarinya tentang takdir, kita pun sebenarnya sedang melakukan self-healing untuk menguatkan kembali iman di dada kita sendiri.
Mengapa Anak Sulit Memahami “Penundaan” dari Allah?
Bagi anak-anak, dunia ini adalah tentang “saat ini” dan “keinginanku”. Mereka belum memiliki kacamata kebijaksanaan untuk melihat masa depan. Saat keinginan mereka belum terkabul, mereka cenderung merasa tidak disayang atau menganggap aturan dunia ini tidak adil.
Sebagai orang tua, tugas kita bukan sekadar memberi jawaban logis, tapi menyentuh fitrah mereka. Kita perlu menanamkan bahwa Allah adalah Al-Adl (Maha Adil) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana).
7 Langkah Lembut Menanamkan Prasangka Baik pada Buah Hati
Sahabat Muslim, berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membimbing hati mereka tetap tenang meski kenyataan tak sesuai harapan.
1. Gunakan Perumpamaan “Obat yang Pahit”
Katakan pada si kecil, “Sayang, ingat tidak waktu kakak sakit dan Bunda minta kakak minum obat yang pahit? Kakak mungkin tidak suka, tapi Bunda kasih karena Bunda sayang dan ingin kakak sembuh.” Begitu juga dengan Allah. Terkadang Allah tidak memberi apa yang kita mau sekarang, karena Allah tahu hal itu bisa “menyakiti” kita di kemudian hari.
2. Mengenalkan Konsep 3 Cara Allah Menjawab Doa
Beritahu anak bahwa doa itu seperti mengirim surat kepada Raja yang paling baik. Surat itu pasti dibaca, tapi balasannya ada tiga macam:
- Ya, Langsung Diberi: Karena itu baik untuk kita sekarang.
- Tunggu Sebentar: Allah ingin kita belajar sabar dan berusaha lebih giat lagi.
- Diganti yang Lebih Baik: Allah tahu mainan itu mungkin cepat rusak, maka Allah simpan hadiah yang jauh lebih indah dan tahan lama di surga nanti.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: disegerakan pengabulannya, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang serupa.” (HR. Ahmad).
3. Mengajak Anak Melihat “Gambar Besar” (The Big Picture)
Ambil sebuah sajadah yang sedang disulam. Tunjukkan bagian bawahnya yang penuh benang kusut dan tidak rapi. “Lihat sayang, dari bawah kelihatannya berantakan ya? Tapi coba lihat dari atas, jadinya gambar bunga yang cantik.” Jelaskan bahwa hidup kita seperti itu; kita hanya melihat “benang kusutnya”, tapi Allah sedang merangkai “bunga yang cantik” untuk hidup kita.
4. Menjelaskan Keadilan Allah Lewat Nama-Nama Indah-Nya
Sering-seringlah menyebut Al-Wahhab (Maha Pemberi) dan Ar-Rahman (Maha Pengasih) saat mengobrol. Katakan bahwa Allah tidak mungkin memberikan sesuatu yang buruk karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan.
5. Hindari Membandingkan Nasib dengan Orang Lain
Saat anak melihat teman lain punya sesuatu yang tidak ia miliki, ajarkan ia bahwa rezeki itu seperti sepatu; ukurannya beda-beda. Allah memberikan “sepatu” yang pas untuk kaki kita masing-masing. Memaksakan sepatu orang lain hanya akan membuat kaki kita sakit.
6. Menanamkan Pemahaman Bahwa Dunia adalah Tempat Ujian
Jelaskan dengan bahasa yang tenang bahwa dunia ini bukan surga. Di sini, kita semua sedang sekolah. Dan di sekolah, terkadang ada ujian yang sulit agar kita bisa naik kelas. Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
7. Jadikan Syukur Sebagai “Penyembuh” Kekecewaan
Setiap malam sebelum tidur, ajak anak menyebutkan 3 hal baik yang terjadi hari ini. Ini melatih mata dan hati mereka untuk selalu melihat nikmat Allah yang sudah ada, sehingga kekecewaan atas satu hal yang belum ada menjadi tidak terlalu terasa berat.
Mengobati Hati Saat Melihat Ketidakadilan di Dunia
Terkadang, anak bertanya tentang peperangan atau kemiskinan. Di sinilah Sahabat Muslim bisa menjelaskan bahwa Allah memberikan manusia “kebebasan memilih”. Ketidakadilan seringkali terjadi karena tangan manusia yang tidak taat pada aturan Allah. Namun, ingatkan mereka bahwa Allah adalah Hakim yang paling adil, dan tidak ada satu pun kebaikan atau keburukan yang luput dari perhitungan-Nya di akhirat kelak.
Kesimpulan
Menjelaskan keadilan Tuhan adalah proses seumur hidup. Jangan lelah untuk terus memvalidasi perasaan anak. Saat mereka menangis karena doanya belum terkabul, peluklah mereka dan katakan, “Bunda paham kakak sedih, tapi yuk kita lihat hadiah apa yang sedang Allah siapkan untuk kesabaran kakak.”
Dengan konsistensi dan kasih sayang, kita sedang mencetak generasi yang memiliki kesehatan mental yang kuat karena mereka tahu bahwa mereka memiliki Allah yang Maha Adil dan Maha Mencintai.
Ingin mendalami lebih banyak rahasia ketenangan hati dan ilmu parenting Islami lainnya?
Sahabat Muslim, mari terus perkaya batin dengan membaca artikel-artikel pilihan yang menyejukkan jiwa hanya di umroh.co. Temukan berbagai panduan ibadah, tips kehidupan harian sesuai sunnah, hingga informasi lengkap mengenai perjalanan ibadah ke tanah suci. Mari bersama-sama menjemput keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita!



