Perang Mut’ah adalah sebuah lembar sejarah yang tak hanya berkisah tentang adu pedang, tapi tentang bagaimana jiwa-jiwa yang tenang mampu berdiri teguh meski di depan mata ada ribuan rintangan yang mengadang.
Mempelajari kisah ini adalah sebuah perjalanan “self-healing” untuk menyadari bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada jumlah, melainkan pada ketulusan niat dan kedamaian hati yang sudah bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Mari kita duduk sejenak, tenangkan pikiran, dan selami kisah tiga panglima agung yang mengajarkan kita arti keberanian yang sesungguhnya.
Mengapa Perang Mut’ah Terjadi? Sebuah Pencarian Keadilan
Sahabat muslim, bayangkan sebuah kondisi di mana utusan resmi Rasulullah SAW dibunuh dengan keji saat menjalankan tugas diplomatik. Dalam tradisi internasional mana pun, menyakiti utusan adalah pelanggaran berat. Itulah alasan mengapa 3.000 pasukan muslim berangkat menuju Mut’ah di wilayah Syam.
Namun, kejutan besar menanti mereka di sana. Musuh yang mereka hadapi bukanlah pasukan kecil, melainkan sekitar 200.000 personel gabungan pasukan Romawi dan suku-suku Arab sekutu mereka. Perbandingan 1 berbanding 66! Secara logika manusia, ini adalah misi yang mustahil, namun bagi mereka, ini adalah perjalanan menuju cinta yang tertinggi.
1. Zaid bin Haritsah: Kesetiaan Sang Kekasih Rasulullah
Panglima pertama yang ditunjuk adalah Zaid bin Haritsah. Sahabat muslim mungkin mengenal beliau sebagai orang yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW. Zaid membawa panji Islam dengan keberanian yang menyejukkan.
- Pelajaran untuk Jiwa: Zaid mengajarkan kita bahwa loyalitas pada kebenaran adalah bentuk ketenangan yang paling tinggi. Beliau tidak melihat berapa banyak pedang yang mengarah padanya, tapi beliau melihat kepada siapa hatinya berlabuh.
- Keteguhan: Zaid gugur sebagai syahid pertama di medan ini sambil tetap memegang erat panji dakwah.
2. Ja’far bin Abi Thalib: Sayap-Sayap Ketabahan
Ketika Zaid gugur, panji beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib. Kisah Ja’far adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam Perang Mut’ah. Saat tangan kanannya terputus, ia memegang panji dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya pun terputus, ia mendekap panji itu dengan kedua lengannya yang tersisa hingga ajal menjemput.
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira yang sangat menenangkan hati para sahabat:
“Aku melihat Ja’far terbang di surga bersama para malaikat dengan dua sayap.” (HR. Tirmidzi).
Pelajaran bagi kita, Sahabat muslim, adalah bahwa kehilangan apa pun di dunia ini—baik itu harta, kesehatan, atau orang tercinta—jika didasari karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan abadi.
3. Abdullah bin Rawahah: Menaklukkan Keraguan Diri
Panglima ketiga adalah Abdullah bin Rawahah, seorang penyair yang cerdas. Menariknya, Abdullah sempat merasa ragu selama sejenak saat melihat jumlah musuh yang begitu masif. Namun, ia segera menenangkan jiwanya dengan bait-bait puisi yang menguatkan iman.
Ia berkata kepada jiwanya:
“Wahai jiwaku, jika kau tidak terbunuh sekarang, kau tetap akan mati juga suatu saat nanti…”
Pesan self-healing dari Abdullah sangat dalam: Jangan biarkan rasa takut menghalangimu melakukan hal yang benar. Keraguan adalah manusiawi, namun iman adalah kompas yang akan membawamu pulang. Akhirnya, Abdullah pun menyusul kedua sahabatnya sebagai syahid yang mulia.
Mukjizat dari Kejauhan dan Hadirnya “Pedang Allah”
Tahukah Sahabat muslim? Saat pertempuran hebat ini berlangsung, Rasulullah SAW berada di Madinah. Namun, atas izin Allah, beliau melihat seluruh kejadian itu seolah-olah berada di depan mata. Beliau menceritakannya kepada para sahabat di Madinah dengan mata yang berkaca-kaca karena cinta dan rindu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Zaid memegang bendera lalu ia gugur. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan ia pun gugur. Kemudian bendera diambil oleh Ibnu Rawahah dan ia pun gugur… hingga akhirnya bendera diambil oleh salah satu pedang di antara pedang-pedang Allah (Khalid bin Walid) hingga Allah memberikan kemenangan kepada mereka.” (HR. Bukhari).
Mengapa Kisah Ini Penting untuk Ketenangan Hatimu?
Meresapi peristiwa Perang Mut’ah membantu kita memproses rasa cemas dalam menghadapi tantangan hidup:
- Angka Bukan Segalanya: Sebagaimana 3.000 orang tidak gentar melawan 200.000, masalahmu yang terasa besar tetaplah kecil di mata Allah Sang Pemilik Semesta.
- Kematian Bukan Akhir: Bagi seorang muslim, “kehilangan” di jalan Allah adalah sebuah “keuntungan” besar di kehidupan berikutnya.
- Hargai Proses: Kemenangan yang diraih Khalid bin Walid adalah buah dari keteguhan tiga panglima sebelumnya. Usahamu hari ini mungkin belum terlihat hasilnya, tapi ia sedang membangun jalan menuju kemenangan besok.
Allah SWT berfirman mengenai para syuhada:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali ‘Imran: 169).
Kesimpulan
Kisah tiga pahlawan di Perang Mut’ah mengajarkan kita bahwa keberanian sejati adalah saat kita tetap melangkah meskipun hati sedang berdebar, selama kita tahu bahwa Allah bersama kita. Zaid, Ja’far, dan Abdullah adalah teladan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diabdikan untuk kemaslahatan umat dan rida Tuhan.
Jika hari ini Sahabat muslim merasa sedang menghadapi “pasukan Romawi” dalam bentuk beban hidup yang berat, ingatlah sayap-sayap Ja’far dan ketenangan lisan Abdullah bin Rawahah. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.
Ingin mendalami lebih banyak rahasia hikmah di balik peristiwa bersejarah Islam atau mencari panduan praktis kehidupan muslim yang menyejukkan hati lainnya?
Sahabat muslim bisa menemukan berbagai panduan spiritual, kisah inspiratif sahabat, hingga informasi keislaman yang mendalam di umroh.co. Mari terus perkaya ilmu dan iman kita agar setiap langkah kita selalu dalam rida-Nya dan memberikan ketenangan bagi jiwa.
Yuk, klik dan baca artikel inspiratif lainnya di website umroh.co untuk informasi lainnya seputar keislaman dan kehidupan muslim yang inspiratif!



