Tafsir Ayat Tentang Kebesaran Allah di Lautan (QS. An-Nur: 40) merupakan sebuah gambaran luar biasa mengenai fenomena alam yang tidak mungkin diketahui oleh manusia pada zaman Rasulullah SAW, kecuali melalui wahyu Ilahi yang menegaskan betapa dahsyatnya kegelapan dan struktur gelombang di kedalaman samudera.
Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan perumpamaan tentang kondisi orang-orang kafir yang tersesat laksana seseorang yang terjebak di dasar laut yang sangat dalam, di mana cahaya matahari sama sekali tidak mampu menembus dan gelombang air berlapis-lapis menghimpitnya.
Memahami esensi dari firman-Nya dalam Surat An-Nur ayat 40 akan menyadarkan Sahabat Muslim bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci agama, melainkan mukjizat ilmiah yang secara akurat menjelaskan kondisi laut dalam (deep sea) ribuan tahun sebelum teknologi kapal selam dan sonar ditemukan oleh manusia modern.
Sahabat Muslim, mari kita selami samudra hikmah di balik ayat yang menggetarkan ini agar kita semakin yakin akan kebenaran Al-Qur’an dan kekuasaan mutlak Sang Pencipta alam semesta.
Mengenal QS. An-Nur Ayat 40: Perumpamaan Kegelapan yang Berlapis
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nur ayat 40 dengan deskripsi yang sangat mendetail:
“Au każulumātin fī baḥril lujjiyyiy yagsyāhu maujum min fauqihī maujum min fauqihī saḥāb, żulumātum ba’ḍuhā fauqa ba’ḍ, iżā akhraja yadahū lam yakad yarāhā, wa man lam yaj’alillāhu lahū nūran fa mā lahū min nūr.”
Artinya: “Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang, yang di atasnya ada gelombang (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS. An-Nur: 40).
Tafsir Linguistik: Makna Bahril Lujjiy
Sahabat Muslim, para mufassir seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa istilah Bahril Lujjiy merujuk pada laut yang sangat dalam, luas, dan dasarnya sangat jauh dari permukaan. Secara ilmiah, kedalaman laut yang dimaksud di sini adalah zona di mana cahaya matahari sudah tidak lagi bisa masuk, yaitu di bawah kedalaman 200 hingga 1.000 meter. Perumpamaan ini digunakan Allah untuk menggambarkan betapa pekatnya kesesatan hati orang-orang yang berpaling dari cahaya tauhid.
5 Bukti Mukjizat Ilmiah dalam Penjelasan Lautan QS. An-Nur: 40
Berdasarkan Tafsir Ayat Tentang Kebesaran Allah di Lautan (QS. An-Nur: 40) dan temuan sains modern, kita dapat menemukan lima poin keajaiban yang membuktikan keagungan Allah SWT:
1. Rahasia Kegelapan di Laut Dalam (Deep Sea)
Sains modern mengonfirmasi bahwa cahaya matahari terdiri dari tujuh warna spektrum. Saat cahaya masuk ke air, warna-warna ini diserap satu per satu. Pada kedalaman 10 meter, warna merah hilang; pada 50 meter, warna kuning hilang; dan pada kedalaman di bawah 1.000 meter, terjadi kegelapan total (aphotic zone). Al-Qur’an menyebutkan “Żulumātum ba’ḍuhā fauqa ba’ḍ” (kegelapan yang tindih-bertindih), yang secara akurat menggambarkan hilangnya warna-warna spektrum tersebut secara bertahap.
2. Penemuan Gelombang Internal (Internal Waves)
Ini adalah bagian yang paling menakjubkan bagi para ilmuwan kelautan. Ayat ini menyebutkan: “yagsyāhu maujum min fauqihī maujum” (diliputi oleh gelombang, yang di atasnya ada gelombang pula). Secara ilmiah, laut dalam ternyata memiliki dua lapis gelombang:
- Gelombang Permukaan: Yang biasa kita lihat di pantai.
- Gelombang Internal: Yang terjadi di bawah permukaan laut (di perbatasan antara lapisan air yang berbeda kepadatan). Sahabat Muslim, keberadaan gelombang internal ini baru ditemukan oleh manusia pada tahun 1900-an, namun Al-Qur’an sudah menyebutkannya dengan sangat jelas 1.400 tahun yang lalu.
3. Fenomena Awan dan Penyerapan Cahaya
Lanjutan ayat menyebutkan “min fauqihī saḥāb” (di atasnya lagi ada awan). Awan adalah penghalang pertama bagi cahaya matahari. Deskripsi urutan ini sangat logis dan sistematis: awan menghalangi cahaya, gelombang permukaan memantulkan sebagian cahaya, dan gelombang internal di bawahnya serta kedalaman air menyerap sisa cahaya hingga habis total di dasar laut.
4. Hilangnya Penglihatan Manusia secara Total
Allah berfirman, “iżā akhraja yadahū lam yakad yarāhā” (apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya). Ini adalah deskripsi fisik yang nyata di laut dalam. Tanpa bantuan senter atau alat pencahayaan modern, seseorang yang berada di kedalaman laut tersebut benar-benar tidak bisa melihat anggota tubuhnya sendiri karena pekatnya kegelapan.
5. Metafora Cahaya Petunjuk (Nur)
Puncak dari ayat ini adalah pesan spiritualnya. Sebagaimana fisik manusia tidak bisa berfungsi di kegelapan laut dalam tanpa cahaya, jiwa manusia pun akan mati dan tersesat dalam kegelapan dunia jika tidak mendapatkan “Cahaya” (hidayah) dari Allah SWT. Ini adalah pengingat bagi Sahabat Muslim bahwa sumber kebahagiaan hanya ada pada kedekatan dengan Sang Pencipta.
Tabel Analisis: Sinkronisasi Al-Qur’an dan Ilmu Kelautan Modern
Agar Sahabat Muslim lebih mudah memahami keselarasan ini, mari perhatikan tabel berikut:
| Unsur dalam QS. An-Nur: 40 | Fakta Sains Kelautan (Oceanography) | Makna Spiritual (Tafsir) |
|---|---|---|
| Bahril Lujjiy | Kedalaman laut > 200m (Photic Zone end) | Kedalaman kesesatan orang kafir |
| Maujum min fauqihi maujum | Adanya Internal Waves di bawah permukaan | Himpitan beban dosa yang berlapis |
| Min fauqihi sahab | Awan sebagai penghalang radiasi cahaya | Hijab (penghalang) antara hati & hidayah |
| Zulumatum ba’duha fauqa ba’d | Penyerapan spektrum warna (merah ke biru) | Kegelapan hati yang tidak beriman |
| Lam yakad yaraha | Kebutaan total di zona aphotic | Hilangnya kompas moral dalam hidup |
Tafsir Ibnu Katsir: Kegelapan Hati dan Amal Perbuatan
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perumpamaan laut dalam ini merujuk pada tiga hal yang dialami oleh orang-orang yang ingkar:
- Kegelapan Keyakinan: Hatinya tidak mengenal kebenaran.
- Kegelapan Perkataan: Lisannya tidak mengucapkan kebenaran.
- Kegelapan Perbuatan: Amalnya tidak mendatangkan rida Allah.
Beliau mengutip sebuah atsar dari Ubay bin Ka’ab RA yang mengatakan bahwa orang kafir itu terombang-ambing dalam lima kegelapan: perkataannya gelap (salah), perbuatannya gelap, tempat masuknya gelap (kubur), tempat keluarnya gelap, dan tempat kembalinya gelap (neraka).
Sahabat Muslim, betapa mengerikannya kondisi jiwa yang jauh dari Allah. Ayat ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang menjadi “lampu penerang” di tengah kegelapan dunia.
Hadits Relevan: Perumpamaan Cahaya dan Kegelapan
Rasulullah SAW juga sering memberikan perumpamaan mengenai cahaya iman. Beliau bersabda:
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan malam menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadits ini sangat selaras dengan akhir ayat 40 Surat An-Nur. Siapa saja yang mau mencari cahaya Allah melalui ibadah (seperti shalat di kegelapan malam), maka Allah akan mengganti kegelapan tersebut dengan cahaya yang abadi di akhirat nanti.
Implementasi Nilai QS. An-Nur: 40 bagi Sahabat Muslim Modern
Bagaimana kita mengamalkan kandungan Tafsir Ayat Tentang Kebesaran Allah di Lautan (QS. An-Nur: 40) dalam kehidupan sehari-hari?
- Meningkatkan Rasa Syukur: Setiap kali melihat keindahan laut atau meminum air, ingatlah bahwa ada rahasia kekuasaan-Nya yang tak terbatas di sana.
- Istiqomah Mencari Ilmu: Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang sedikit. Teruslah menuntut ilmu agama dan sains untuk memperkokoh akidah.
- Menjaga Hati dari Kegelapan: Hindari perbuatan maksiat yang bisa memberikan bintik hitam di hati, yang jika dibiarkan akan membuat hati menjadi gelap seperti dasar laut.
- Menjadi Pembawa Cahaya: Sesuai semangat dakwah, mari kita ajak orang di sekitar kita untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.
Kesimpulan
Tadabbur Tafsir Ayat Tentang Kebesaran Allah di Lautan (QS. An-Nur: 40) menyadarkan kita bahwa keselarasan sempurna antara deskripsi wahyu mengenai struktur gelombang internal dan kegelapan berlapis di laut dalam dengan temuan sains modern merupakan bukti tak terbantahkan bahwa Al-Qur’an bersumber dari Sang Khalik yang Maha Mengetahui setiap jengkal ciptaan-Nya, di mana perumpamaan fisik yang luar biasa ini ditujukan untuk memberi peringatan kepada manusia agar tidak membiarkan hatinya terjebak dalam kegelapan kekufuran yang mematikan.
Melalui ayat ini, Allah SWT mengajak Sahabat Muslim untuk menyadari betapa lemahnya manusia tanpa cahaya petunjuk-Nya, sehingga setiap mukmin dituntut untuk senantiasa merawat keimanan sebagai satu-satunya penerang yang akan menuntun kita melewati badai ujian dunia menuju pelabuhan rida-Nya yang abadi.
Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap fenomena alam sebagai sarana untuk mempertebal tauhid, menjauhi kesombongan intelektual, dan terus bersandar pada cahaya Al-Qur’an agar kita tidak termasuk golongan yang kehilangan arah di tengah samudera kehidupan yang fana ini.




