5 Rahasia Adab Berbicara Anak Agar Santun ke Guru & Lansia

31 Januari 2026

5 Menit baca

Wali ahmad firdaus ahmad rizal JyP8BozN0OA unsplash

​Sahabat Muslim, pernahkah hati Anda terenyuh saat melihat si kecil mulai berani meninggikan suara, padahal kita sedang berusaha keras menanamkan Adab Berbicara Anak agar tetap lembut kepada kakek, nenek, atau guru mereka? Memang ada kalanya rasa lelah menghampiri saat instruksi kita seolah tak didengar, namun mari kita ambil napas dalam-dalam. Menanamkan adab bukan sekadar tentang sopan santun lahiriah, melainkan tentang menyemai benih kemuliaan di dalam jiwa mereka yang masih murni.

​Dalam Islam, lisan adalah cerminan hati. Mengajarkan anak untuk merendahkan suara dan memilih kata yang tepat bukan hanya urusan etika sosial, tapi merupakan bagian dari ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Mari kita pelajari bersama bagaimana membimbing mereka dengan penuh cinta dan kelembutan.

​Mengapa Nada Suara Rendah Begitu Bermakna dalam Islam?

​Mungkin kita sering bertanya-tanya, mengapa sih harus repot-repot mengatur nada bicara? Ternyata, di balik suara yang tenang terdapat penghormatan yang tulus. Bagi anak-anak, nada suara adalah cara mereka mengekspresikan emosi. Jika kita berhasil melatih mereka mengelola nada bicara, kita sebenarnya sedang melatih kecerdasan emosional mereka sejak dini.

​Perintah Allah dalam Al-Quran

​Allah SWT telah memberikan panduan yang sangat indah dalam Al-Quran mengenai cara kita berinteraksi dengan orang tua. Dalam Surat Al-Isra ayat 23, Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

​Ayat ini adalah pondasi utama dalam Adab Berbicara Anak. Kata “ah” saja dilarang, apalagi nada suara yang tinggi atau membentak. Ini adalah standar kemuliaan yang perlu kita perkenalkan kepada si kecil dengan bahasa yang mudah mereka pahami.

​Karakteristik Pengasuhan yang Menghargai Lansia dan Guru

​Kakek, nenek, dan guru memiliki kedudukan istimewa. Guru adalah orang tua rohani yang memberikan cahaya ilmu, sementara kakek dan nenek adalah akar keberkahan dalam keluarga kita.

​Rasulullah SAW bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengerti hak (menghormati) orang yang tua di antara kami.” (HR. Tirmidzi, Shahih).

​Sahabat Muslim, mari kita jelaskan kepada anak bahwa saat mereka berbicara lembut kepada guru atau kakek-nenek, mereka sedang menjemput rida Allah melalui rida orang-orang mulia tersebut.

​5 Langkah Praktis Melatih Adab Berbicara Anak

​Mengubah kebiasaan memerlukan waktu. Berikut adalah panduan ahli yang bisa Sahabat Muslim terapkan di rumah dengan santai:

  1. Menjadi Cermin (Uswah Hasanah): Anak adalah peniru ulung. Sebelum meminta anak merendahkan suara, pastikan kita juga berbicara dengan nada yang tenang saat berdiskusi dengan mereka atau saat berbicara di telepon. Kelembutan kita adalah sekolah pertama bagi mereka.
  2. Mengenalkan Panggilan yang Memuliakan: Ajarkan anak untuk tidak langsung memanggil nama. Gunakan sebutan “Ustadz/Ustadzah” untuk guru, atau panggilan sayang yang hormat untuk kakek dan nenek. Panggilan yang baik akan otomatis menset otak anak ke mode “hormat”.
  3. Latihan “Suara Dalam Ruangan”: Berikan pengertian tentang perbedaan volume suara saat bermain di lapangan dan saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Gunakan permainan peran (roleplay) agar anak merasa senang saat mempraktikkannya.
  4. Menanamkan Empati: “Bagaimana Perasaan Mereka?”: Ajak anak berdialog. “Sayang, kalau Kakek sudah sepuh, pendengarannya mungkin berkurang, tapi hatinya sangat lembut. Kalau kita bicara keras, Kakek bisa kaget dan sedih.” Pendekatan ini menyentuh sisi humanis anak.
  5. Apresiasi Setiap Progres: Jangan hanya menegur saat mereka salah. Saat anak berhasil berbicara dengan sopan, berikan pelukan hangat atau pujian. “MasyaAllah, Bunda bangga sekali tadi kamu menjawab pertanyaan Ibu Guru dengan suara yang lembut.”

​Mengelola Distraksi dan Emosi Orang Tua

​Seringkali, alasan anak bicara kasar adalah karena mereka merasa tidak didengar. Saat kita memberikan perhatian penuh (seperti dalam konsep Mindful Parenting), anak akan merasa dihargai dan cenderung tidak perlu berteriak untuk mencari perhatian.

​Jika Sahabat Muslim merasa ingin marah saat anak tidak sopan, ingatlah bahwa mereka sedang dalam fase belajar. Alih-alih membentak balik, lebih baik kita diam sejenak, beristighfar, dan memberikan konsekuensi logis yang mendidik. Ini adalah bentuk self-healing bagi kita agar tidak mewariskan luka emosional kepada generasi mendatang.

​Kesimpulan

​Melatih Adab Berbicara Anak memang membutuhkan ketelatenan, namun hasilnya adalah investasi dunia dan akhirat. Anak yang santun akan dicintai manusia dan diridai oleh Sang Pencipta. Mari kita terus dampingi mereka dengan doa-doa terbaik di setiap sujud kita.

​Semoga langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah SWT. Ingatlah Sahabat Muslim, Anda tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kita semua sedang sama-sama belajar menjadi orang tua yang lebih baik.

​Ingin mendapatkan inspirasi lebih dalam tentang pendidikan karakter anak secara islami, tips mempererat hubungan keluarga, hingga panduan ibadah yang menyejukkan hati? Jangan ragu untuk membaca artikel-artikel pilihan lainnya di umroh.co. Mari bersama-sama menebar manfaat dan memperkaya wawasan keislaman kita setiap harinya!

Artikel Terkait

Baluran

5 Februari 2026

5 Fakta Kelahiran Nabi Muhammad: Cahaya di Tahun Gajah!

​Kelahiran Nabi Muhammad SAW terjadi justru di tengah kegentingan luar biasa, saat kota Mekkah terancam runtuh oleh pasukan gajah, mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Rahasia Agar Anak Kangen Ka’bah & Ingin Kembali Umrah

​Motivasi Umrah untuk Anak sebenarnya dimulai dari bagaimana kita merajut kenangan indah dan emosi positif selama berada di sana, agar pengalaman tersebut bukan sekadar ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

Rahasia Kain Putih: 5 Filosofi Ihram untuk Anak & Maknanya

​Filosofi Ihram untuk Anak adalah pintu masuk terbaik untuk menjelaskan bahwa di dunia ini, tidak ada yang lebih hebat, lebih kaya, atau lebih mulia ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Tips Sabar Umrah Bawa Anak: Rahasia Ibadah Tetap Tenang!

​Sabar Umrah Bawa Anak adalah kunci utama agar perjalanan suci ini tidak berubah menjadi ajang adu emosi, melainkan menjadi momen self-healing yang justru mendekatkan ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Cara Mengajak Anak Berdoa di Mekkah: Hati Jadi Tenang!

​Mengajak Anak Berdoa di Mekkah adalah kesempatan emas yang Allah titipkan untuk memperkenalkan mereka pada konsep “berdialog” langsung dengan Sang Pencipta tanpa sekat, seolah ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Cara Emas Umrah Bawa Anak Jadi Momen Bonding Terbaik!

​ Umrah Bawa Anak: Bonding Time adalah kesempatan langka yang Allah hadiahkan kepada kita untuk menjeda dunia, melepaskan semua distraksi, dan kembali membangun jembatan ... Read more