Mengurangi Ego Pernikahan adalah langkah pertama dan paling krusial bagi setiap pasangan Muslim yang ingin mengubah rumah tangganya menjadi cuplikan surga di dunia (Baitii Jannatii). Pernahkah Anda merasa bahwa dalam setiap perdebatan, keinginan untuk “menang” dan diakui lebih kuat daripada keinginan untuk berdamai?
Sifat dominan yang berlebihan, entah itu datang dari suami maupun istri, sering kali menjadi kerikil tajam yang merusak kemesraan yang telah dibangun bertahun-tahun. Ego yang tinggi bukan hanya menjauhkan kita dari pasangan, tetapi juga menjauhkan kita dari keberkahan dan rida Allah Swt. karena di dalam ego sering kali terselip benih kesombongan.
Mengapa Ego adalah Musuh Utama dalam Rumah Tangga?
Secara psikologis, ego adalah mekanisme pertahanan diri. Namun dalam pernikahan, ego yang tidak terkendali justru menjadi penghancur. Dalam Islam, pernikahan adalah tentang tasamuh (toleransi) dan takaful (saling menanggung), bukan tentang siapa yang lebih berkuasa atau siapa yang paling sering benar.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar-Rum: 21)
Ketenteraman (sakinah) hanya bisa dicapai jika rasa kasih (mawaddah) dan sayang (warahmah) lebih dominan daripada ego pribadi. Ego yang besar akan menutup pintu kasih sayang karena membuat kita buta terhadap perasaan pasangan.
5 Langkah Strategis Mengurangi Ego Pernikahan
Menghilangkan sifat dominan memerlukan latihan ruhani dan kedewasaan emosional. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda terapkan:
1. Praktik Syura: Menghargai Suara Pasangan
Islam sangat menekankan konsep Syura (musyawarah) dalam mengambil keputusan, bahkan dalam urusan rumah tangga terkecil sekalipun. Jangan pernah merasa keputusan Anda adalah harga mati tanpa mendengarkan perspektif pasangan.
Allah Swt. berfirman:
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38)
Dengan bermusyawarah, Anda secara sadar sedang menekan ego dan mengakui bahwa pasangan adalah mitra sejajar dalam mengelola kehidupan.
2. Meneladani Kelembutan Rasulullah saw.
Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam menekan ego. Beliau tidak pernah bersikap dominan yang menindas. Bahkan, beliau tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga istrinya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Jika manusia paling mulia saja sudi merendahkan egonya demi melayani keluarga, siapakah kita yang berani merasa lebih tinggi di depan pasangan?
3. Mengubah Pola Kalimat: Dari “Kamu” Menjadi “Kita”
Sifat dominan sering tercermin dari pilihan kata. Hindari kalimat yang bersifat menuduh seperti “Kamu selalu saja…” atau “Kamu tidak pernah…”. Mulailah menggunakan bahasa yang kolaboratif.
- Alihkan ego: “Aku merasa sedih kalau kita tidak bicara dulu sebelum kamu mengambil keputusan,” daripada “Jangan sembarangan memutuskan sendiri!”
4. Belajar Mengalah untuk Menang di Hadapan Allah
Mengalah dalam perdebatan rumah tangga bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kematangan iman. Sering kali, kita mempertahankan argumen hanya untuk memuaskan harga diri. Padahal, ada jaminan besar bagi mereka yang mampu meredam amarah dan ego.
Rasulullah saw. bersabda:
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Daud)
5. Menyadari Bahwa Pasangan adalah Cermin Diri
Saat Anda merasa ingin mendominasi, berhentilah sejenak dan ingatlah bahwa pasangan Anda adalah amanah dari Allah. Apa yang Anda tanam berupa kelembutan, itulah yang akan Anda tuai. Jika Anda selalu menekan dengan ego, maka yang akan Anda dapatkan adalah pasangan yang menjauh atau justru ikut meledak.
Tabel: Perbedaan Pemimpin yang Bijak vs Dominan karena Ego
Memahami perbedaan antara kepemimpinan yang syar’i (Qowwam) dengan dominasi yang egois sangat penting agar tidak terjadi salah kaprah.
| Aspek | Pemimpin yang Bijak (Sakinah) | Dominan karena Ego (Beracun) |
|---|---|---|
| Pengambilan Keputusan | Musyawarah dan mendengar masukan. | Otoriter dan memaksakan kehendak. |
| Saat Terjadi Kesalahan | Memperbaiki bersama dengan sabar. | Menyalahkan pasangan habis-habisan. |
| Gaya Berkomunikasi | Lemah lembut dan persuasif. | Keras, mengancam, atau merendahkan. |
| Tujuan Akhir | Kebahagiaan bersama & rida Allah. | Kepuasan pribadi & pengakuan diri. |
| Sikap terhadap Pasangan | Melindungi dan menghargai. | Mengontrol dan membatasi. |
Tips Praktis Menghancurkan Tembok Ego
Jika Anda merasa sifat dominan mulai muncul, cobalah teknik berikut:
- Istighfar dan Ta’awudz: Ego sering kali ditunggangi oleh setan untuk memicu pertengkaran. Segera mohon perlindungan Allah saat merasa ingin marah atau menang sendiri.
- Pause (Jeda): Jangan bicara saat emosi sedang tinggi. Ambillah waktu 5-10 menit untuk berwudhu atau sekadar diam hingga ego Anda mereda.
- Fokus pada Solusi, Bukan Siapa yang Benar: Ubah orientasi pikiran Anda. Tanyakan, “Bagaimana agar masalah ini selesai?” bukan “Bagaimana agar dia tahu kalau aku benar?”.
Bahaya Kesombongan dalam Pernikahan
Hati-hati, ego yang dipelihara bisa berubah menjadi kesombongan (kibr). Dan Islam sangat tegas mengenai hal ini. Rasulullah saw. memperingatkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)
Menghargai pasangan dengan rendah hati adalah salah satu cara untuk membersihkan hati kita dari sifat buruk ini. Menghilangkan sifat dominan adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu sendiri.
Kesimpulan
Mengurangi Ego Pernikahan memang bukan perkara mudah, namun ia adalah investasi terbaik untuk kebahagiaan jangka panjang. Pernikahan yang berkah adalah yang di dalamnya kedua belah pihak berlomba-lomba untuk saling mengalah demi rida Illahi. Saat ego diturunkan, kasih sayang akan mengalir dengan deras, dan ketenangan yang Anda dambakan akan hadir dengan sendirinya.
Mari kita jadikan setiap momen perselisihan sebagai sarana untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Rendahkanlah hati Anda di hadapan pasangan, maka Allah akan meninggikan derajat Anda di hadapan-Nya.
Ingin Memperdalam Ilmu Keluarga dan Kehidupan Muslim Lainnya?
Menjaga harmoni dalam pernikahan adalah perjalanan spiritual yang membutuhkan ilmu dan kesabaran. Dapatkan berbagai wawasan mendalam mengenai tips rumah tangga islami, manajemen emosi, hingga panduan praktis ibadah harian untuk menyempurnakan kualitas hidup Anda sebagai pasangan Muslim yang bahagia.
Kunjungi dan baca artikel inspiratif lainnya hanya di umroh.co untuk memperluas cakrawala keislaman Anda dan keluarga setiap hari!




