6 Cara Menghargai Profesi Lain: Didik Anak Jadi Rendah Hati

2 Februari 2026

5 Menit baca

Dulana kodithuwakku 0R rPOSUyxw unsplash

​Menghargai Profesi Lain adalah fondasi utama dalam membentuk karakter anak agar ia tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan jauh dari sifat sombong. Pernahkah Sahabat Muslim merasa tersentak atau sedikit malu ketika si kecil tanpa sengaja berkomentar kurang sopan saat melihat petugas kebersihan di pinggir jalan, atau bersikap acuh pada pelayan di restoran?

​Mungkin saat itu hati kita merasa cemas, “Apakah aku salah mendidik?” Tenang, Sahabat Muslim, jangan berkecil hati. Fase rasa ingin tahu anak memang sering kali disertai dengan ketidaktahuan mereka akan nilai sebuah perjuangan. Mari kita bicara santai tentang bagaimana cara membimbing mereka agar mampu melihat kemuliaan dalam setiap keringat manusia, tanpa memandang apa jabatan mereka di dunia.

​Menanamkan Nilai Tawadhu dalam Pandangan Islam

​Sahabat Muslim, sebelum kita melangkah ke tips praktis, mari kita resapi sejenak mengapa menghormati sesama manusia itu sangat krusial. Dalam pandangan Allah SWT, kemuliaan seseorang sama sekali tidak diukur dari seragam yang ia kenakan atau berapa banyak gaji yang ia terima.

​Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13).

​Ayat ini adalah “rem” terbaik bagi kesombongan. Jika Allah saja hanya melihat ketaqwaan, siapakah kita sehingga merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena perbedaan profesi?

​6 Tips Praktis Mengajarkan Anak Menghargai Profesi Lain

​Mendidik anak bukan soal memerintah, tapi soal memberikan teladan dan sudut pandang baru. Berikut adalah cara-cara yang bisa Sahabat Muslim lakukan agar si kecil memiliki jiwa yang luas:

​1. Jadilah Cermin Pertama bagi Anak

​Anak adalah peniru yang ulung. Cara Sahabat Muslim menyapa petugas keamanan di komplek, cara kita mengucapkan terima kasih kepada kurir paket, atau cara kita berbicara dengan asisten rumah tangga adalah kurikulum terbaik bagi mereka. Jika kita memperlakukan mereka dengan penuh hormat, anak akan belajar bahwa itulah standar perilaku yang benar.

​2. Ajarkan Konsep “Saling Membutuhkan” (Simbiosis)

​Gunakan logika yang sederhana. Katakan pada si kecil: “Nak, bayangkan kalau tidak ada paman tukang sampah, rumah kita pasti akan kotor dan berbau. Tanpa mereka, kita tidak bisa hidup nyaman.” Dengan memahami bahwa setiap profesi memiliki peran penting, anak akan mulai memahami konsep Menghargai Profesi Lain secara logis.

​3. Biasakan “Tiga Kata Ajaib”

​Tanamkan kebiasaan mengucapkan: Tolong, Maaf, dan Terima Kasih.

  • Tolong saat meminta bantuan.
  • Maaf jika merepotkan atau melakukan kesalahan.
  • Terima Kasih atas jasa yang diberikan. Latih mereka untuk menatap mata orang tersebut saat mengucapkannya, apa pun pekerjaan orang tersebut.

​4. Kenalkan Sosok di Balik Profesi

​Ajak anak berinteraksi secara manusiawi. Misalnya, saat sedang membeli sayur, ajak anak menyapa: “Paman, sudah jualan dari jam berapa? Capek ya?” Mengenal sisi kemanusiaan (seperti rasa lelah dan kerja keras) akan menumbuhkan rasa empati dan mencegah anak meremehkan orang lain.

​5. Hindari Menjadikan Profesi Tertentu sebagai “Ancaman”

​Ini adalah kesalahan yang sering tidak sengaja dilakukan orang tua. Contohnya: “Kalau nggak mau belajar, nanti jadi tukang sapu lho!” Kalimat ini sangat berbahaya karena secara tidak langsung mengajarkan anak bahwa profesi tersebut rendah dan hina. Gantilah dengan motivasi yang positif tentang manfaat setiap pekerjaan bagi umat.

​6. Ingat Bahaya Sombong dalam Hadits

​Ceritakan pada anak dengan bahasa yang lembut tentang peringatan Rasulullah SAW:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada yang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

​Self-Healing bagi Orang Tua: Menanam Benih Kebaikan

​Mengajarkan anak rendah hati adalah proses yang juga menyembuhkan hati kita sebagai orang tua. Saat kita fokus melatih anak untuk menghormati orang lain, secara tidak sadar kita juga sedang membasuh hati kita dari residu-residu rasa bangga yang berlebihan. Ada rasa tenang yang muncul saat kita melihat anak kita menyalami seorang kakek penjual mainan dengan takzim, sama seperti ia menyalami seorang pimpinan perusahaan. Itulah keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.

​Menghargai Setiap Peran Sebagai Ibadah

​Sahabat Muslim, di dunia ini kita semua sedang “berperan” menjalankan skenario Allah. Ada yang ditugaskan menjadi pemimpin untuk menguji keadilannya, dan ada yang ditugaskan di pelayanan untuk menguji kesabarannya. Semua profesi adalah sarana ibadah selama dilakukan dengan jujur dan ikhlas.

​Ketika kita mampu membantu anak untuk Menghargai Profesi Lain, kita sebenarnya sedang membukakan pintu keberkahan baginya. Anak yang rendah hati akan lebih mudah diterima di lingkungan mana pun dan lebih mampu bersyukur atas nikmat yang ia miliki.

​Kesimpulan

​Menjadi pintar secara akademis memang penting, namun menjadi manusia yang beradab dan tahu cara menghargai sesama adalah warisan yang jauh lebih abadi. Mari kita jadikan rumah sebagai madrasah pertama untuk meluluhkan ego dan menyuburkan rasa hormat. Dengan membiasakan anak melihat kemuliaan dalam setiap usaha manusia, kita telah menyelamatkannya dari gelapnya kesombongan.

​Ingin tahu lebih banyak panduan islami tentang pola asuh anak, tips keluarga sakinah, hingga inspirasi kehidupan muslimah lainnya? Yuk, Sahabat Muslim, temukan artikel-artikel mendalam dan menyejukkan lainnya di umroh.co. Mari kita terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik dan lebih bijak setiap harinya!

Sudahkah kita memberikan senyuman dan sapaan hormat kepada seseorang yang membantu pekerjaan kita hari ini? Mari mulai dari diri kita sendiri.

Artikel Terkait

Baluran

5 Februari 2026

5 Fakta Kelahiran Nabi Muhammad: Cahaya di Tahun Gajah!

​Kelahiran Nabi Muhammad SAW terjadi justru di tengah kegentingan luar biasa, saat kota Mekkah terancam runtuh oleh pasukan gajah, mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Rahasia Agar Anak Kangen Ka’bah & Ingin Kembali Umrah

​Motivasi Umrah untuk Anak sebenarnya dimulai dari bagaimana kita merajut kenangan indah dan emosi positif selama berada di sana, agar pengalaman tersebut bukan sekadar ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

Rahasia Kain Putih: 5 Filosofi Ihram untuk Anak & Maknanya

​Filosofi Ihram untuk Anak adalah pintu masuk terbaik untuk menjelaskan bahwa di dunia ini, tidak ada yang lebih hebat, lebih kaya, atau lebih mulia ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Tips Sabar Umrah Bawa Anak: Rahasia Ibadah Tetap Tenang!

​Sabar Umrah Bawa Anak adalah kunci utama agar perjalanan suci ini tidak berubah menjadi ajang adu emosi, melainkan menjadi momen self-healing yang justru mendekatkan ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Cara Mengajak Anak Berdoa di Mekkah: Hati Jadi Tenang!

​Mengajak Anak Berdoa di Mekkah adalah kesempatan emas yang Allah titipkan untuk memperkenalkan mereka pada konsep “berdialog” langsung dengan Sang Pencipta tanpa sekat, seolah ... Read more

Baluran

4 Februari 2026

7 Cara Emas Umrah Bawa Anak Jadi Momen Bonding Terbaik!

​ Umrah Bawa Anak: Bonding Time adalah kesempatan langka yang Allah hadiahkan kepada kita untuk menjeda dunia, melepaskan semua distraksi, dan kembali membangun jembatan ... Read more