Melatih Keberanian Bicara pada anak sejak usia dini adalah investasi akhlak terbaik untuk membangun mental nahi munkar (mencegah kemungkaran) agar mereka tumbuh menjadi pembela kebenaran yang tetap rendah hati dan santun.
Dunia saat ini penuh dengan tantangan pergaulan. Sebagai orang tua, terkadang kita pun merasa lelah dan cemas menghadapi kerasnya lingkungan luar. Mari kita jadikan momen mendidik anak ini sebagai sarana self-healing, di mana kita kembali belajar untuk tenang, memiliki prinsip yang kokoh, dan bersandar pada kekuatan Allah SWT yang Maha Menolong.
Mengapa Mental Nahi Munkar Harus Dipupuk Sejak Kecil?
Sahabat Muslim, dalam Islam, kita tidak hanya diajarkan untuk menjadi orang baik (shaleh), tapi juga menjadi orang yang membawa perbaikan (mushlih). Mengajak pada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemurkaan (nahi munkar) adalah identitas kita sebagai umat terbaik.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, Surat Ali ‘Imran ayat 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
Mendidik anak agar berani menegur hal yang salah adalah cara kita memberikan “perisai” bagi jiwa mereka. Namun, keberanian ini harus dibungkus dengan kain kelembutan agar pesan kebenaran tersebut bisa diterima oleh hati orang lain.
Strategi Menanamkan Keberanian Tanpa Kehilangan Kesantunan
Membangun keberanian bicara membutuhkan pendekatan yang humanis. Anak perlu merasa aman terlebih dahulu sebelum ia bisa memberikan rasa aman pada orang lain melalui tegurannya. Berikut adalah panduan ahli untuk Sahabat Muslim:
1. Menjadi Teladan dalam Kejujuran dan Ketegasan
Anak adalah pengamat yang paling ulung. Sebelum meminta anak berani bicara, pastikan Sahabat Muslim juga menunjukkan ketegasan yang santun dalam keseharian. Misalnya, saat ada yang menyerobot antrean, Sahabat Muslim bisa menegur dengan suara rendah namun mantap: “Maaf Pak/Bu, antreannya di sebelah sana.” Tindakan nyata ini jauh lebih bermakna daripada ribuan nasihat.
2. Ajarkan Teknik “Qulan Layyinan” (Perkataan yang Lemah Lembut)
Banyak anak takut menegur karena mereka pikir menegur berarti marah. Ajarkan mereka konsep dari Surat Taha ayat 44, di mana Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara kepada Firaun dengan Qulan Layyinan (kata-kata yang lemah lembut).
- Berikan contoh kalimat: “Teman, kayaknya lebih baik kalau sampahnya dibuang di tempatnya, deh, biar sekolah kita tetap bersih.”
- Hindari kalimat yang menghakimi seperti: “Kamu nakal ya, buang sampah sembarangan!”
3. Roleplay: Latihan Menghadapi Situasi Sulit
Sahabat Muslim bisa mengajak anak bermain peran. Berikan skenario sederhana, misalnya: “Apa yang Kakak lakukan kalau lihat teman mengambil pensil orang lain?” Latihan ini akan mengurangi rasa cemas (anxiety) anak karena mereka sudah memiliki “skrip” atau gambaran apa yang harus dilakukan.
4. Mengenalkan Tingkatan Nahi Munkar
Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW, ajarkan anak bahwa ada tiga cara untuk merespons hal yang salah:
- Dengan Tangan (Tindakan): Jika ia mampu dan aman (misalnya mengembalikan barang yang jatuh).
- Dengan Lisan: Jika ia bisa bicara dengan sopan.
- Dengan Hati: Jika ia merasa takut atau dalam bahaya, cukup membenci perbuatan itu dalam hati dan segera menjauh atau melapor pada orang dewasa (guru/orang tua).
Hadis ini sangat penting agar anak tidak memaksakan diri dalam situasi yang membahayakan dirinya (HR. Muslim).
7 Tips Praktis Melatih Keberanian Bicara di Rumah
Mari kita terapkan langkah-langkah praktis ini agar rumah menjadi madrasah pertama bagi keberanian mereka:
- Dengarkan Pendapat Anak: Berikan ruang bagi anak untuk bernegosiasi atau menyatakan ketidaksukaannya di rumah dengan cara yang baik. Jika di rumah ia dihargai saat bicara, di luar ia akan lebih percaya diri.
- Validasi Perasaannya: Saat ia bercerita melihat sesuatu yang salah, katakan: “Masya Allah, Kakak hebat ya bisa tahu kalau itu perbuatan yang kurang baik. Ayah/Bunda bangga sama kepekaan Kakak.”
- Tanamkan Konsep “Izzah” (Kemuliaan Diri): Ajarkan bahwa membela yang benar adalah perbuatan mulia di mata Allah.
- Ajarkan Adab Sebelum Bicara: Ingatkan untuk selalu memulai dengan senyuman atau sapaan jika memungkinkan.
- Berikan Konsekuensi yang Logis: Jelaskan dampak jika kesalahan dibiarkan (misalnya lingkungan jadi kotor atau teman jadi sedih).
- Jangan Membungkam Anak: Hindari kalimat “Anak kecil nggak usah ikut campur” saat mereka mencoba memberikan pendapat yang benar.
- Doakan Keteguhan Hatinya: Mintalah kepada Allah agar anak kita dijadikan pribadi yang berani karena benar dan takut hanya kepada-Nya.
Keberanian Bicara sebagai Bentuk Kasih Sayang
Sahabat Muslim, ajarkan pada anak bahwa menegur teman yang salah bukan karena kita benci pada teman itu, tapi karena kita sayang padanya. Kita tidak ingin teman kita berbuat dosa atau mendapatkan masalah.
Konsep ini akan menghindarkan anak dari sifat sombong atau merasa “paling suci”. Menegur karena cinta akan menghasilkan nada suara yang jauh lebih teduh dan menenangkan. Ini adalah bagian dari self-healing keluarga; kita belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan kedamaian jika niatnya adalah karena Allah.
Kesimpulan
Mendidik anak agar memiliki mental nahi munkar adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran. Dengan Melatih Keberanian Bicara, Sahabat Muslim sedang mempersiapkan mereka menjadi individu yang tidak hanya baik secara personal, tapi juga menjadi pembawa kebermanfaatan bagi lingkungan sosialnya.
Ingatlah, suara kecil mereka yang berani berkata jujur hari ini adalah cikal bakal karakter pemimpin yang amanah di masa depan. Tetaplah menjadi pelabuhan yang tenang bagi setiap kegelisahan mereka saat menghadapi dunia.
Sahabat Muslim ingin mendapatkan lebih banyak wawasan tentang pola asuh islami, tips mengelola emosi anak sesuai sunnah, hingga informasi menarik seputar perjalanan ibadah yang menenangkan jiwa? Yuk, temukan berbagai artikel inspiratif dan menyejukkan hati lainnya hanya di umroh.co. Mari bersama-sama terus belajar untuk membangun keluarga yang diridai Allah SWT dan penuh keberkahan!



