Melatih Prinsip pada Anak adalah kunci utama untuk membangun filter mental agar mereka memiliki identitas diri yang kuat dan tidak sekadar menjadi pengikut gaya hidup hedonis yang semu.
Di era media sosial ini, anak-anak kita dibombardir dengan gaya hidup mewah dan pamer (flexing) yang seringkali menjauhkan mereka dari rasa syukur. Sebagai orang tua, mari kita tarik napas dalam-dalam, lepaskan rasa cemas itu, dan mulai belajar bagaimana menanamkan akar yang kuat agar mereka tidak mudah tumbang ditiup angin tren.
Mengapa Anak Perlu Memiliki “Filter Mental”?
Sahabat Muslim, dunia saat ini seringkali menilai seseorang dari apa yang ia pakai, bukan siapa dia di hadapan Allah. Jika anak tidak memiliki filter mental, mereka akan terus merasa “kurang” dan haus akan validasi manusia. Dalam Islam, kita mengenal konsep Izzah—kemuliaan diri yang bersumber dari iman, bukan dari materi.
Tantangan Hedonisme di Mata Islam
Gaya hidup hedonis yang mengutamakan kesenangan duniawi semata seringkali membuat seseorang lupa akan tujuan penciptaannya. Allah SWT mengingatkan kita dalam QS. Al-An’am ayat 162:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’.”
Dengan Melatih Prinsip pada Anak sejak dini, kita sebenarnya sedang mengajarkan mereka bahwa pusat kebahagiaan adalah rida Allah, bukan komentar atau “like” dari manusia.
Membangun Identitas Lewat “Sibghah Allah”
Identitas diri yang kuat dalam Islam disebut dengan Sibghah Allah (celupan Allah). Ini adalah karakter yang terbentuk karena iman yang meresap ke dalam jiwa.
Menanamkan Konsep “Izzah”
Ajarkan anak bahwa mereka adalah hamba Allah yang istimewa. Katakan pada mereka, “Sayang, kamu berharga karena Allah yang menciptakanmu, bukan karena sepatu bermerek yang kamu pakai.” Ketika anak merasa cukup dengan dirinya, mereka tidak akan merasa perlu mengejar gaya hidup mewah hanya agar diterima di lingkungan pergaulannya.
7 Langkah Praktis Melatih Prinsip pada Anak
Membangun filter mental bukan berarti melarang anak menyukai hal bagus, melainkan mengajarkan mereka skala prioritas dan prinsip hidup. Berikut langkahnya:
- Menjadi Teladan yang Bersyukur (Qana’ah): Anak adalah peniru yang hebat. Jika mereka melihat Sahabat Muslim selalu bersyukur dengan apa yang ada dan tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, mereka akan belajar arti cukup.
- Ajarkan Konsep Kebutuhan vs Keinginan: Setiap kali anak meminta sesuatu karena tren, ajak mereka berdiskusi. “Apakah kita butuh ini untuk ibadah atau sekolah, atau hanya karena ingin sama dengan teman?” Ini melatih logika dan prinsip mereka.
- Kenalkan Tokoh Teladan yang Sederhana: Ceritakan kisah Rasulullah SAW yang tidur di atas pelepah kurma hingga berbekas di punggungnya, padahal beliau adalah pemimpin umat. Ini membantu anak memahami bahwa kemuliaan tidak diukur dari kemewahan.
- Beri Ruang untuk Berkata “Tidak”: Latih anak untuk berani tampil beda jika hal itu bertentangan dengan prinsip agama. Berikan pujian saat mereka berani menolak ajakan yang kurang baik.
- Batasi Paparan Iklan dan Media Sosial: Filter mental sulit terbentuk jika filter matanya terbuka lebar terhadap konten hedonis. Berikan jadwal penggunaan gadget yang bijak.
- Ajak Berbagi dan Berempati: Libatkan anak dalam kegiatan sosial. Melihat orang yang kurang beruntung akan melunakkan hati mereka dan menghancurkan benih-benih hedonisme.
- Doakan Keteguhan Hati Mereka: Kekuatan terbesar adalah doa. Mintalah agar Allah menjadikan mereka pribadi yang Istiqomah (teguh pendirian).
Belajar dari Sunnah: Jangan Jadi “Imma’ah”
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras agar kita tidak menjadi orang yang hanya ikut-ikutan tanpa prinsip. Beliau bersabda:
“Janganlah kalian menjadi ‘Imma’ah’, yaitu kalian berkata: ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami pun berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Akan tetapi, teguhkanlah diri kalian…” (HR. Tirmidzi).
Hadist ini adalah landasan kuat dalam Melatih Prinsip pada Anak. Kita ingin anak-anak kita menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, bukan pengikut arus yang tak tentu arah.
Menjaga Hati Orang Tua: Sebuah Self-Healing
Mendidik anak di tengah arus dunia yang deras memang melelahkan. Namun, sadarilah Sahabat Muslim, setiap usaha kita adalah bentuk healing bagi jiwa kita sendiri. Dengan mengajarkan kesederhanaan pada anak, kita pun diingatkan untuk kembali ke esensi hidup yang tenang dan sederhana.
Jangan terbebani dengan ekspektasi dunia. Fokuslah pada bagaimana Allah memandang keluarga kita. Rasa damai itu akan hadir saat kita berhasil melepas keterikatan hati pada materi dan beralih pada ketenangan dalam ketaatan.
Kesimpulan
Dunia mungkin menawarkan kemilau yang menggoda, namun prinsip hidup yang islami adalah cahaya yang tak akan pernah redup. Dengan Melatih Prinsip pada Anak, Sahabat Muslim sedang membekali mereka dengan “kompas” yang akan menuntun mereka pulang ke jalan yang benar, sejauh apa pun mereka melangkah nantinya.
Teruslah menjadi orang tua yang sabar dan penuh kasih. Perjalanan ini panjang, namun setiap langkah kecil yang kita ambil bersama anak akan menjadi saksi di akhirat kelak.
Ingin mendapatkan lebih banyak wawasan tentang cara mendidik anak sesuai sunnah, tips mengelola emosi orang tua, hingga informasi menarik seputar dunia keislaman? Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai inspirasi dan panduan menyejukkan lainnya hanya di umroh.co. Mari bersama-sama memperkuat identitas muslim kita agar selalu hidup dalam keberkahan dan ketenangan!



