Membangun rasa ingin tahu anak sebenarnya dimulai dari bagaimana kita merespon setiap pertanyaan yang keluar dari lisan suci mereka. Di balik kata “kenapa” itu, tersimpan potensi besar seorang calon ilmuwan, ulama, atau pembelajar sepanjang hayat yang sedang berusaha memahami indahnya ciptaan Allah SWT.
Mari kita tarik napas dalam-dalam, tenangkan hati, dan sadari bahwa setiap pertanyaan mereka adalah amanah. Sebagai orang tua, kita bukan hanya sumber jawaban, melainkan jembatan bagi mereka untuk mengenal Rabb-nya dan dunia yang luas ini.
Mengapa Pertanyaan “Kenapa” Adalah Anugerah yang Perlu Disyukuri?
Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Rasa ingin tahu adalah mesin penggerak dari kewajiban tersebut. Saat anak bertanya, itu tandanya sel-sel otaknya sedang berkembang pesat dan jiwanya sedang haus akan kebenaran. Menekan rasa ingin tahu mereka sama saja dengan memadamkan cahaya ilmu yang sedang mulai berpijar.
7 Strategi Membangun Rasa Ingin Tahu Anak Agar Haus Akan Ilmu
Sahabat Muslim, berikut adalah beberapa cara santun dan efektif untuk merespon pertanyaan anak agar mereka tumbuh menjadi sosok yang kritis namun tetap rendah hati.
1. Jangan Terburu-buru Memberikan Jawaban Langsung
Saat anak bertanya, “Kenapa langit warnanya biru, Bunda?”, cobalah untuk tidak langsung menjawabnya dengan teori sains. Sebaliknya, ajak mereka berpikir dengan balik bertanya, “Wah, pertanyaan hebat! Menurut kakak, kenapa ya kira-kira?”. Cara ini melatih mereka untuk berani berpendapat dan menganalisis sebelum menerima informasi.
2. Validasi Perasaan Ingin Tahu Mereka
Kalimat sederhana seperti, “Masya Allah, Bunda senang sekali kakak memperhatikan warna langit!” akan membuat anak merasa dihargai. Validasi ini membangun kepercayaan diri mereka bahwa bertanya adalah hal yang baik dan membanggakan.
3. Hubungkan dengan Kebesaran Allah SWT (Tafakkur)
Jadikan setiap pertanyaan sebagai sarana self-healing bagi kita dan anak untuk mengingat Sang Pencipta. Jika mereka bertanya tentang hujan, kita bisa menjelaskan siklus air sambil menyelipkan pesan bahwa Allah-lah yang menurunkan rahmat tersebut agar bumi tidak kekeringan.
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati…” (QS. Ar-Rum: 50)
4. Jadikan “Saya Tidak Tahu” Sebagai Pintu Eksplorasi
Sahabat Muslim, kita tidak perlu menjadi ensiklopedia berjalan. Jika memang tidak tahu, katakan dengan jujur, “Wah, Bunda juga penasaran. Bagaimana kalau besok kita cari tahu bersama di buku atau video pengetahuan?”. Ini mengajarkan anak bahwa orang dewasa pun terus belajar.
5. Berikan Jawaban yang Sesuai dengan Usia (Bahasa Humanis)
Hindari istilah teknis yang terlalu berat. Gunakan analogi yang dekat dengan keseharian mereka. Gunakan bahasa yang tenang dan penuh kasih sayang, seolah kita sedang bercerita tentang keajaiban dunia.
6. Fasilitasi dengan Media Belajar yang Menyenangkan
Sediakan buku-buku bergambar, ajak ke museum, atau sekadar mengamati semut di halaman rumah. Pengalaman sensorik akan memperkuat ingatan mereka dan membuat proses belajar terasa seperti petualangan yang tidak ada habisnya.
7. Tanamkan Semangat “Iqra” Sejak Dini
Ingatkan anak bahwa perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ (Bacalah). Jelaskan bahwa dengan membaca dan memperhatikan sekitar, kita sedang menjalankan perintah Allah untuk mengenal dunia.
Menyiapkan Generasi “Ulul Albab” yang Berakal
Sahabat Muslim, tujuan akhir kita dalam membangun rasa ingin tahu anak bukanlah sekadar agar mereka pintar secara akademik. Kita ingin mereka menjadi Ulul Albab—orang-orang yang berakal, yang senantiasa berdzikir dan berpikir.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Anak yang haus ilmu akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah goyah oleh hoaks, memiliki empati tinggi terhadap sesama makhluk, dan selalu merasa dekat dengan Allah karena mereka melihat “tanda-tanda” kekuasaan-Nya di mana-mana.
Kesimpulan
Menghadapi pertanyaan “kenapa” adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak. Dengan merespon secara tenang, edukatif, dan bernafaskan nilai Islami, Sahabat Muslim sedang membentuk karakter pembelajar sejati yang akan terus membawa manfaat bagi umat.
Jangan biarkan kesibukan duniawi mematikan binar mata anak saat mereka menemukan hal baru. Rangkul rasa ingin tahu itu, dan jadilah saksi tumbuh kembang mereka menjadi pribadi yang cemerlang.
Ingin tahu lebih banyak tentang tips parenting Islami dan kabar dunia Muslim lainnya?
Yuk, perkaya wawasan Sahabat Muslim dengan membaca artikel inspiratif lainnya hanya di umroh.co. Temukan berbagai panduan kehidupan Muslim, informasi umroh, hingga hikmah harian yang menyejukkan hati. Mari terus belajar dan bertumbuh bersama!



