Memahami Cara Mengajarkan Shalat kepada buah hati memang membutuhkan kesabaran seluas samudra dan pendekatan yang menyentuh relung hati, bukan sekadar perintah lahiriah.
Kita semua ingin anak-anak kita sujud dengan cinta, bukan karena takut pada rotan atau omelan. Mari kita duduk sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan jadikan proses belajar ini sebagai sarana self-healing bagi kita sebagai orang tua sekaligus jembatan hidayah bagi mereka.
Mengapa Menanamkan Rasa Cinta Lebih Penting dari Sekadar Kewajiban?
Banyak dari kita tumbuh dengan bayang-bayang “kalau tidak shalat nanti disiksa di neraka”. Meskipun itu benar, untuk anak yang fitrahnya masih murni, kita ingin mengenalkan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengasih.
Tujuan utama kita bukan hanya membuat mereka “melakukan” shalat, tapi “mencintai” shalat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabarlah kamu dalam mengerjakannya…” (QS. Thaha: 132).
Kata “sabarlah” di sini menunjukkan bahwa proses ini adalah maraton, bukan lari cepat. Tidak perlu terburu-buru, Sahabat Muslim.
7 Cara Mengajarkan Shalat dengan Pendekatan Persuasif dan Humanis
Mendidik dengan hati akan sampai ke hati. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Sahabat Muslim terapkan di rumah:
1. Jadilah “Magnet” Shalat bagi Mereka
Anak adalah peniru yang ulung. Sebelum kita menuntut mereka berdiri di atas sajadah, biarkan mereka melihat betapa kita sangat menantikan waktu shalat.
- Tunjukkan wajah ceria saat adzan berkumandang.
- Gunakan pakaian terbaik dan parfum yang lembut saat hendak menghadap Allah.
- Biarkan mereka melihat kita tenang dan khusyuk, seolah semua beban hilang saat kita bertakbir.
2. Mulai Sejak Dini Tanpa Paksaan
Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat bijak dalam sebuah hadist:
“Perintahkan anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukul mereka (dengan pukulan yang mendidik) jika mereka meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun…” (HR. Abu Daud).
Perhatikan jarak antara usia 7 ke 10 tahun. Ada waktu 3 tahun atau sekitar 5.475 waktu shalat bagi kita untuk mengajak mereka dengan lembut sebelum ada unsur “ketegasan”. Gunakan waktu ini untuk membangun kebiasaan yang menyenangkan.
3. Ciptakan Sudut Shalat yang Menenangkan
Jangan biarkan shalat terasa kaku. Anda bisa membuat “Mini Mushala” di pojok rumah dengan:
- Penerangan yang hangat.
- Sajadah yang empuk dan berwarna-warni sesuai kesukaan anak.
- Wewangian terapi yang membuat rileks.
- Hal ini membuat anak merasa bahwa shalat adalah momen yang eksklusif dan nyaman.
4. Gunakan Bahasa Cinta, Bukan Ancaman
Alih-alih berkata, “Ayo shalat, nanti berdosa!”, cobalah gunakan kalimat yang lebih persuasif seperti:
- ”Sayang, yuk kita lapor sama Allah kalau kita senang sekali hari ini.”
- ”Kakak, temani Ayah/Bunda yuk, kita minta perlindungan Allah supaya mimpi indah nanti malam.”
- Ketika mereka merasa shalat adalah bentuk komunikasi kasih sayang, mereka akan melakukannya dengan sukarela.
5. Ceritakan Kisah-Kisah Keajaiban Shalat
Anak-anak sangat menyukai narasi. Ceritakan bagaimana Rasulullah SAW tetap tenang saat sujud meski cucu beliau, Hasan dan Husain, menaiki punggungnya. Ini mengajarkan mereka bahwa Allah itu Maha Baik dan shalat adalah tempat yang aman, bahkan untuk bermain di sekitarnya saat mereka masih balita.
6. Berikan Apresiasi, Bukan Sekadar Hadiah Materi
Pujian yang tulus seringkali lebih membekas daripada mainan mahal. Saat mereka shalat tanpa disuruh, peluklah mereka dengan erat dan katakan:
“Bunda senang sekali melihat kakak shalat, rasanya hati Bunda adem. Terima kasih ya sudah jadi anak shalih.”
Apresiasi ini membangun konsep diri positif pada anak sebagai seorang muslim.
7. Doa Orang Tua adalah Kunci Utama
Seringkali kita terlalu fokus pada teknik mengajar, tapi lupa pada Sang Pemilik Hati. Jangan pernah putus mendoakan mereka di waktu-waktu mustajab. Bacalah doa Nabi Ibrahim AS:
“Robbij’alni muqimas-sholati wa min dzurriyyati…” (Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat).
Tips Tambahan: Menghadapi Anak yang Sedang Malas
Sahabat Muslim, ada kalanya anak merasa bosan atau malas. Jangan langsung menghakimi. Cobalah untuk:
- Validasi perasaan mereka: “Lagi capek ya? Mau Bunda imami supaya lebih ringan?”
- Berikan pilihan: “Mau shalat sekarang atau 5 menit lagi setelah selesai mewarnai?”
- Hadirkan kedekatan fisik: Usap punggungnya atau berikan pelukan sebelum mengajaknya berwudhu.
Kesimpulan
Mendidik anak agar cinta shalat adalah perjalanan panjang yang juga mendidik kita untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan penyayang. Ingatlah, tujuan kita adalah membentuk jiwa yang merasa butuh pada Tuhannya, bukan robot yang hanya bergerak tanpa makna. Lakukanlah dengan pelan, dengan senyuman, dan dengan doa yang tak putus.
Semoga buah hati kita menjadi penyejuk pandangan mata (qurrata a’yun) yang senantiasa menjaga sujudnya hingga akhir hayat. Amin ya Rabbal Alamin.
Ingin tahu lebih banyak tentang tips pola asuh islami atau informasi menarik seputar dunia muslim lainnya? Sahabat Muslim bisa menjelajahi berbagai artikel inspiratif, mulai dari panduan ibadah hingga gaya hidup halal hanya di umroh.co. Mari terus bertumbuh menjadi muslim yang lebih baik setiap harinya!



