Mengajarkan Toleransi pada Anak sebenarnya bukan tentang mengaburkan batasan keyakinan, melainkan tentang menanamkan akar iman yang kuat agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang santun dan inklusif di tengah keberagaman.
Dunia ini memang penuh warna, dan sebagai orang tua, kita adalah kompas utama bagi mereka. Mari kita duduk sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan bicarakan bagaimana cara membimbing hati mungil mereka dengan penuh cinta dan tuntunan syariat yang menenangkan.
Mengapa Toleransi Adalah Bagian dari Iman?
Banyak dari kita yang mungkin khawatir, apakah mengenalkan perbedaan akan membuat akidah anak menjadi goyah? Jawabannya justru sebaliknya. Islam adalah agama yang mengajarkan rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi semesta alam. Ketika kita mengajarkan anak untuk menghargai orang lain, kita sedang mengajarkan mereka salah satu akhlak mulia Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”
Ayat ini adalah pondasi utama. Kita tidak diciptakan seragam agar kita belajar cara mencintai dalam perbedaan. Menanamkan karakter inklusif berarti memberi tahu anak bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan ladang untuk menunjukkan keindahan akhlak seorang muslim.
Strategi Membentuk Karakter Inklusif yang Menenangkan Hati
Membangun karakter anak tidak bisa dilakukan dengan paksaan atau sekadar teori. Ia harus mengalir secara natural dalam keseharian. Berikut adalah pendekatan yang bisa Sahabat Muslim terapkan:
1. Menanamkan “Izzah” (Kebanggaan Berislam) Sejak Dini
Sebelum anak melihat keluar, mereka harus merasa aman dan kokoh di dalam. Ajarkan mereka bahwa menjadi muslim adalah sebuah identitas yang indah. Jika anak sudah mencintai Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak akan mudah ikut-ikutan. Mereka akan menghargai orang lain karena mereka merasa cukup dan bahagia dengan keyakinannya sendiri.
2. Memahami Batasan “Lakum Dinukum Waliyadin”
Penting bagi Sahabat Muslim untuk memberikan pemahaman tentang batas toleransi. Toleransi dalam Islam adalah dalam hal muamalah (hubungan sosial), bukan dalam hal akidah (keyakinan).
- Contoh nyata: Kita boleh berbagi makanan dengan tetangga yang berbeda agama, menyapa dengan santun, atau membantu mereka yang sedang kesulitan. Namun, kita tidak mengikuti ritual ibadah mereka.
3. Mengisahkan Keluhuran Akhlak Rasulullah SAW
Anak-anak sangat menyukai cerita. Ceritakanlah bagaimana Rasulullah SAW tetap menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di depan beliau dengan cara berdiri. Ketika ditanya mengapa beliau berdiri, beliau menjawab, “Bukankah ia juga seorang manusia?” (HR. Bukhari & Muslim). Kisah ini sangat efektif untuk menyentuh empati anak.
7 Langkah Praktis Mengajarkan Toleransi pada Anak
Agar lebih mudah diterapkan, yuk coba 7 langkah yang membuat hati tenang ini dalam rutinitas harian keluarga:
- Jadilah Teladan Utama: Anak adalah peniru yang hebat. Jika mereka melihat Sahabat Muslim berbicara santun dengan rekan kerja atau tetangga yang berbeda keyakinan, mereka akan otomatis menyerap perilaku tersebut.
- Gunakan Bahasa yang Positif: Hindari menggunakan kata-kata yang merendahkan keyakinan orang lain di depan anak. Alih-alih mencela, lebih baik kita fokus menjelaskan keindahan ajaran agama kita sendiri.
- Berikan Penjelasan yang Logis: Jika anak bertanya, “Kenapa dia tidak salat?”, Sahabat Muslim bisa menjawab, “Karena setiap orang punya cara berkomunikasi yang berbeda dengan Tuhan-nya, namun kita bersyukur karena Allah sudah memberi tahu kita cara salat yang paling dicintai-Nya.”
- Ajak Anak Berbagi Tanpa Syarat: Saat momen berbagi, libatkan anak untuk memberikan sedekah atau hadiah kecil kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang agamanya.
- Kenalkan Literasi yang Inklusif: Bacakan buku-buku cerita yang menunjukkan betapa luasnya bumi Allah dan bagaimana umat muslim di berbagai belahan dunia hidup berdampingan dengan damai.
- Ajarkan Adab dalam Perbedaan: Tekankan bahwa berbeda pendapat atau keyakinan bukan alasan untuk menyakiti. Ajarkan mereka untuk tetap tersenyum dan berkata baik (qulan ma’rufan).
- Doakan Hati Mereka: Ini adalah kunci dari segala kunci. Selipkan doa di setiap sujud Sahabat Muslim agar Allah menjaga lisan dan hati anak-anak kita dari kebencian.
Mengatasi Rasa Takut: Bagaimana Jika Anak Terpengaruh?
Adalah wajar jika kita sebagai orang tua memiliki rasa takut. Namun, rasa takut yang berlebihan justru bisa membuat anak merasa terkekang dan malah ingin tahu lebih banyak dengan cara yang salah.
Tugas kita bukan memutus hubungan anak dengan dunia luar, melainkan memberi mereka “jaket pelindung”. Jaket pelindung itu adalah pemahaman akidah yang benar dan kasih sayang yang tulus di rumah. Sering-seringlah memeluk mereka, jadilah teman curhat yang asyik, sehingga saat mereka bingung melihat dunia luar, mereka akan kembali pada Sahabat Muslim untuk mencari jawaban.
Kesimpulan
Membentuk karakter inklusif adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran. Dengan mengajarkan toleransi pada anak, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang luas. Mereka akan tetap teguh dengan imannya, bangga dengan sujudnya, namun tangannya selalu terbuka untuk merangkul kemanusiaan dengan kesantunan yang luar biasa.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah kita dalam mendidik amanah kecil ini. Ingatlah, bahwa setiap benih kebaikan yang kita tanam hari ini, akan menjadi peneduh bagi mereka di masa depan.
Ingin tahu lebih banyak tips seputar kehidupan muslim, pola asuh anak dalam Islam, hingga informasi keberangkatan umroh yang nyaman? Sahabat Muslim bisa langsung mengunjungi umroh.co untuk mendapatkan artikel-artikel inspiratif lainnya yang akan menemani perjalanan spiritual keluarga Anda. Mari terus belajar dan bertumbuh bersama dalam rida Allah SWT!



