Mengelola emosi anak dimulai dari kerelaan kita untuk meminjamkan telinga dan melapangkan hati sebagai tempat mereka berlabuh saat badai perasaan sedang menerjang.
Melihat anak sedih adalah salah satu momen tersulit bagi orang tua. Namun, mari kita tarik napas dalam-dalam sejenak. Anggaplah momen ini sebagai kesempatan emas bagi kita untuk mempraktikkan self-healing bersama anak, sekaligus menanamkan benih iman bahwa hanya kepada Allah-lah hati akan menemukan ketenangannya.
Mencontoh Rasulullah SAW dalam Memvalidasi Perasaan
Sahabat Muslim, tahukah Anda bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat peka terhadap perasaan anak-anak? Beliau tidak pernah mengabaikan kesedihan seorang anak, sekecil apa pun penyebabnya.
Dikisahkan dalam sebuah hadits, ketika seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair kehilangan burung pipit kesayangannya yang mati, Rasulullah SAW tidak mengatakan “ah, itu cuma burung”. Sebaliknya, beliau mendatangi anak tersebut dan menghiburnya dengan penuh kelembutan (HR. Bukhari & Muslim). Ini adalah bukti nyata bahwa dalam Islam, menghargai perasaan anak adalah bagian dari adab yang mulia.
7 Langkah Menjadi Pendengar yang Menyejukkan Hati
Berikut adalah beberapa panduan untuk Sahabat Muslim agar bisa menjadi “pendengar langit” yang membantu si kecil menyembuhkan luka hatinya dengan cara yang Islami.
1. Hadirkan Seluruh Jiwa dan Raga
Saat anak mulai bercerita, letakkan gadget Anda, sejajarkan posisi mata dengan mereka, dan berikan perhatian penuh. Tindakan ini secara tidak langsung mengatakan kepada mereka, “Kamu penting bagiku, dan perasaanmu berharga.”
2. Validasi Tanpa Menghakimi
Hindari kalimat seperti “Jangan nangis, gitu aja kok sedih.” Kalimat ini justru membuat mereka merasa salah karena memiliki emosi. Sebaliknya, gunakan kalimat humanis seperti, “Bunda paham kakak merasa sedih karena kehilangan mainan itu, ya? Tidak apa-apa untuk merasa sedih.”
3. Ajarkan Anak Mengenali Nama Emosinya
Bantu mereka melabeli apa yang dirasakan. Apakah itu marah, kecewa, takut, atau sedih? Dengan memberi nama pada emosi, anak akan lebih mudah mengelola emosi anak tersebut. Dalam Islam, kejujuran pada diri sendiri adalah langkah awal menuju keikhlasan.
4. Peluk dengan Kekuatan Doa
Sentuhan fisik seperti pelukan dapat menurunkan hormon stres pada anak. Sambil memeluk, bisikkan doa-doa perlindungan atau kalimat zikir dengan lembut di telinga mereka. Ini adalah bentuk spiritual healing yang sangat efektif.
5. Kenalkan Konsep Sabar dan Shalat sebagai Penolong
Setelah mereka mulai tenang, ajjaklah si kecil untuk berbicara kepada Allah. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Ajarkan mereka bahwa saat hati terasa luka, “curhat” terbaik adalah melalui hamparan sajadah.
6. Gunakan Kisah-Kisah Nabi sebagai Teladan
Ceritakan bagaimana para Nabi menghadapi kesedihan mereka. Misalnya, kisah Nabi Ya’qub AS yang sangat sedih saat berpisah dengan Nabi Yusuf AS, namun beliau tetap mengadu hanya kepada Allah. Ini mengajarkan anak bahwa sedih itu manusiawi, namun tempat kembali yang utama adalah Sang Khaliq.
7. Berikan Ruang untuk Diam
Terkadang, anak hanya butuh ditemani dalam diam. Tidak semua kesedihan butuh solusi instan. Kehadiran Sahabat Muslim di sampingnya sudah cukup untuk memberi tahu mereka bahwa mereka tidak sendirian.
Mengubah Luka Menjadi Kekuatan Iman
Ketika kita berhasil menemani anak melewati masa sedihnya tanpa amarah, kita sedang membangun fondasi mental yang kuat. Anak yang merasa didengar akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati tinggi dan tidak mudah putus asa.
Ingatlah janji Allah dalam Al-Qur’an:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Menanamkan ayat ini sejak dini melalui sikap kita yang tenang akan membuat anak selalu merasa “cukup” dengan kasih sayang Allah dan orang tuanya.
Kesimpulan
Menjadi orang tua yang mampu mengelola emosi anak adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh pahala. Dengan menjadi pendengar yang baik, kita tidak hanya menyembuhkan luka hati mereka hari ini, tapi juga sedang mendidik calon orang tua masa depan yang penuh kasih sayang.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita untuk bisa menjadi pelindung dan pendengar yang baik bagi anak-anak kita. Mari kita jadikan rumah sebagai madrasah pertama yang penuh dengan kedamaian dan keridhaan-Nya.
Ingin mendalami lebih banyak rahasia parenting Islami dan tips kehidupan Muslim lainnya?
Sahabat Muslim, mari terus perkaya wawasan dan perkuat silaturahmi dengan membaca artikel inspiratif lainnya hanya di umroh.co. Temukan berbagai panduan ibadah, hikmah harian, hingga info perjalanan suci yang menyejukkan hati. Mari bertumbuh bersama dalam iman dan ilmu!



