Memahami Cara Menghadapi Bullying sejak dini bukan hanya tentang membela diri secara fisik, tetapi tentang menanamkan izzah (kemuliaan diri) agar anak tumbuh tangguh tanpa kehilangan rasa kasih sayang kepada sesama.
Dunia anak-anak memang penuh warna, namun tak jarang ada mendung berupa perundungan yang bisa melukai fitrah mereka. Mari kita duduk sejenak, tenangkan pikiran, dan bicarakan bagaimana membekali mereka dengan “perisai” mental dan fisik yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Membangun Benteng Mental: Kekuatan di Balik Senyuman
Sahabat Muslim, sebelum kita melatih otot anak, kita perlu melatih “otot” jiwa mereka. Bullying seringkali menyerang rasa percaya diri. Jika seorang anak tahu bahwa ia berharga di mata Allah, maka kata-kata buruk manusia tidak akan mudah merubuhkan dunianya.
Menanamkan Konsep Izzah (Kemuliaan Diri)
Ajarkan anak bahwa mereka adalah hamba Allah yang mulia. Katakan pada mereka, “Sayang, kamu adalah ciptaan Allah yang istimewa. Tidak ada satu pun manusia yang berhak merendahkanmu, karena kemuliaanmu datang dari Allah, bukan dari penilaian teman-temanmu.” Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139).
Ayat ini adalah penyembuh batin yang luar biasa. Ketika anak merasa “tinggi” karena imannya, ia tidak akan merasa perlu merendahkan orang lain (menjadi pelaku) dan tidak akan hancur saat direndahkan (menjadi korban).
Bela Diri Dasar: Kekuatan untuk Melindungi, Bukan Menyakiti
Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi lemah. Rasulullah SAW justru sangat menganjurkan umatnya untuk menjadi kuat. Namun, kekuatan dalam Islam selalu dibarengi dengan pengendalian diri.
Sunnah Memiliki Tubuh yang Kuat
Membekali anak dengan bela diri dasar (seperti memanah, berenang, atau seni bela diri lainnya) sangatlah penting. Tujuannya bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk memberikan kepercayaan diri dan kemampuan melindungi diri saat keadaan darurat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan…” (HR. Muslim).
Dengan memiliki keahlian bela diri, anak akan memiliki vibe atau aura yang tenang. Biasanya, perundung akan berpikir dua kali untuk mengganggu anak yang terlihat siap dan memiliki ketenangan mental yang terjaga.
7 Strategi Praktis Cara Menghadapi Bullying
Yuk, Sahabat Muslim, kita coba terapkan 7 langkah ini agar anak kita memiliki “jaket pelindung” yang kokoh:
- Latihan Kontak Mata dan Postur Tubuh: Ajarkan anak untuk berdiri tegak dan menatap mata lawan bicara dengan tenang. Postur tubuh yang layu seringkali menjadi magnet bagi perundung.
- Gunakan Suara yang Tegas, Bukan Berteriak: Latih anak untuk berkata, “Aku tidak suka kamu bicara begitu, tolong berhenti,” dengan nada yang rendah namun mantap. Ini menunjukkan kekuatan mental tanpa harus memicu pertengkaran.
- Berjalan dalam Kelompok: Perundung biasanya mencari sasaran yang menyendiri. Dorong anak untuk membangun pertemanan yang sehat dan saling menjaga.
- Bela Diri sebagai Disiplin Diri: Ikutkan anak dalam kelas bela diri yang menekankan pada adab dan kontrol emosi. Ini akan memberinya rasa aman dari dalam diri.
- Ajarkan Teknik Mengalihkan Perhatian: Terkadang, humor atau mengabaikan ejekan dengan cara yang elegan bisa membuat perundung merasa bosan karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan.
- Terbuka dalam Bercerita: Pastikan rumah adalah tempat paling aman untuk mengadu. Jangan langsung menyalahkan anak saat ia bercerita sedang diganggu. Dengarkan dengan hati.
- Doa Perlindungan: Ajarkan anak untuk selalu membaca doa perlindungan (seperti Al-Falaq dan An-Nas) setiap pagi. Tanamkan keyakinan bahwa penjagaan Allah adalah yang utama.
Mencegah Anak Menjadi Pelaku: Menanamkan Empati
Sahabat Muslim, terkadang garis antara membela diri dan menjadi pelaku bullying itu sangat tipis. Kita harus memastikan anak kita tidak hanya aman dari serangan, tapi juga tidak menyerang orang lain.
Allah SWT melarang keras perilaku mengolok-olok dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”
Ajak anak memahami bahwa setiap orang punya luka dan masalahnya masing-masing. Membantu orang lain yang tertindas adalah bentuk keshalehan yang nyata. Beritahu mereka pesan Rasulullah: “Tolonglah saudaramu, baik dia sebagai penzalim maupun sebagai orang yang dizalimi.” Sahabat bertanya, “Menolong orang zalim bagaimana?” Beliau menjawab, “Engkau cegah dia dari kezalimannya.” (HR. Bukhari).
Menemukan Kedamaian di Tengah Ujian
Melihat anak diuji dengan lingkungan yang keras memang berat, Sahabat Muslim. Namun, percayalah bahwa setiap tantangan adalah cara Allah mendewasakan jiwa mereka. Tugas kita adalah menjadi pendamping yang menyejukkan, yang memberikan pelukan hangat saat mereka lelah, dan memberikan bimbingan saat mereka bingung.
Jangan biarkan rasa takut menguasai kita. Teruslah berikhtiar dan berserah diri kepada Allah. Dengan persiapan yang matang, insyaAllah anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat seperti baja namun berhati lembut seperti sutra.
Kesimpulan
Menyiapkan Cara Menghadapi Bullying adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak. Ketika fisik terlatih, mental terasah, dan iman terjaga, anak-anak kita akan mampu melewati badai apa pun di sekolah maupun di kehidupan sosialnya nanti. Mari kita terus belajar menjadi orang tua yang bijak dalam mendampingi tumbuh kembang mereka.
Ingin mendapatkan informasi lebih mendalam tentang tips pola asuh islami, cara menjaga kesehatan mental keluarga menurut sunnah, hingga panduan ibadah yang menenangkan jiwa? Sahabat Muslim bisa menjelajahi berbagai artikel inspiratif lainnya hanya di umroh.co. Mari bersama-sama membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah dengan cahaya ilmu keislaman!



