7 Tips Ajak Keluarga Besar Ikut Kajian Tanpa Menggurui

12 Januari 2026

5 Menit baca

Gemini Generated Image rmy4wmrmy4wmrmy4

Dakwah Keluarga Besar adalah amanah mulia yang harus dijalankan dengan penuh kelembutan agar setiap anggota keluarga merasakan indahnya cahaya hidayah secara bersama-sama dalam bingkai silaturahmi. Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat setelah pulang dari sebuah kajian, lalu ingin sekali membagikan ilmu tersebut kepada paman, bibi, hingga sepupu, namun bingung bagaimana memulainya?

Sering kali, niat baik kita justru terhalang oleh rasa sungkan, perbedaan usia yang cukup jauh, atau ketakutan akan dianggap sebagai sosok yang “paling suci” di tengah lingkaran keluarga. Padahal, mengajak orang-orang terdekat menuju jalan kebaikan adalah bentuk cinta tertinggi yang bisa kita berikan kepada mereka.

Membangun tradisi mengaji di tengah keluarga besar memerlukan strategi yang lebih dari sekadar mengirimkan pesan siaran (broadcast) di grup WhatsApp. Diperlukan seni komunikasi yang humanis, pemilihan momentum yang pas, dan tentu saja keteladanan yang nyata. Artikel ini akan mengulas panduan eksklusif bagi Anda yang ingin menjadi wasilah (perantara) kebaikan bagi keluarga besar, sehingga momen berkumpul tidak hanya berisi basa-basi, tetapi juga menjadi ladang pahala yang terus mengalir.

Mengapa Dakwah Harus Dimulai dari Keluarga?

Dalam Islam, keluarga memiliki kedudukan yang sangat sentral. Sebelum kita melangkah jauh berdakwah kepada masyarakat luas, Allah SWT memberikan perintah tegas untuk menjaga orang-orang terdekat terlebih dahulu.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini merupakan fondasi utama mengapa Dakwah Keluarga Besar menjadi prioritas. Menyelamatkan keluarga dari keburukan dan mengajak mereka pada ketaatan adalah bentuk perlindungan yang paling hakiki. Namun, dakwah kepada keluarga sering kali lebih menantang karena mereka sangat mengenal siapa kita. Oleh karena itu, dakwah ini menuntut kita untuk memiliki akhlak yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

7 Strategi Efektif Mengajak Keluarga Besar Ikut Kajian

Berikut adalah langkah-langkah persuasif yang bisa Anda terapkan untuk mengajak keluarga besar mulai aktif mengikuti kajian rutin:

1. Dahulukan Akhlak Sebelum Lisan

Orang tidak akan mendengarkan apa yang Anda katakan jika mereka tidak menyukai apa yang Anda lakukan. Sebelum mengajak mereka mengaji, tunjukkan perubahan positif dalam diri Anda setelah rajin ikut kajian. Jadilah sosok yang paling ringan tangan membantu saat acara keluarga, paling santun dalam berbicara, dan paling sabar menghadapi perbedaan. Saat keluarga melihat akhlak Anda semakin mulia, mereka akan penasaran dengan “sumber” ilmu yang Anda pelajari.

2. Gunakan Strategi “Makan Siang dan Silaturahmi”

Jangan langsung menyebut kata “Kajian” jika itu terasa terlalu formal atau berat bagi mereka. Mulailah dengan ajakan makan siang bersama atau arisan keluarga. Di sela-sela momen santai tersebut, Anda bisa menyisipkan obrolan ringan tentang kegelisahan hidup yang sering dihadapi, lalu menghubungkannya dengan solusi dari salah satu ceramah yang pernah Anda dengar. Jadikan ilmu agama sebagai solusi praktis, bukan sekadar teori yang kaku.

3. Pilih Tema Kajian yang Relevan dan Ringan

Untuk tahap awal, hindari tema-tema yang berat, kontroversial, atau yang bersifat menghakimi gaya hidup seseorang. Pilihlah kajian dengan tema yang menyentuh hati, seperti tentang manajemen stres dalam Islam, cara mendidik anak, atau keutamaan silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda:

“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Hadirkan Ustadz yang Humoris dan Sejuk

Pemilihan sosok pengajar sangat menentukan keberhasilan Dakwah Keluarga Besar. Untuk audiens keluarga yang latar belakang keislamannya beragam, carilah ustadz atau penceramah yang memiliki gaya bahasa yang luwes, banyak menyelipkan humor yang mendidik, dan tidak mudah menyalahkan. Sosok yang merangkul akan lebih mudah diterima daripada sosok yang memukul.

5. Optimalkan Grup WhatsApp Keluarga dengan Bijak

Jangan menjadi “tukang spam” di grup keluarga dengan video ceramah berdurasi panjang setiap jam. Hal ini justru bisa membuat anggota keluarga merasa risih. Sebaliknya, bagikan kutipan singkat yang inspiratif, doa-doa harian yang bermanfaat, atau infografis yang estetik satu kali dalam sehari. Jika ada yang merespons, baru lanjutkan dengan diskusi yang lebih dalam secara pribadi (japri).

6. Berikan Fasilitas dan Kemudahan

Terkadang, alasan orang tidak ikut kajian adalah masalah teknis, seperti jauhnya lokasi atau tidak ada teman. Tawarkan bantuan untuk menjemput paman atau bibi Anda. Atau jika memungkinkan, adakan kajian rutin tersebut di rumah anggota keluarga secara bergiliran (anjang sana). Dengan memberikan kemudahan, hambatan psikologis mereka untuk hadir akan berkurang.

7. Senjata Tersembunyi: Doa yang Tulus

Hidayah sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah SWT. Setelah semua ikhtiar dilakukan, sampaikanlah nama-nama anggota keluarga Anda dalam sujud-sujud panjang. Mintalah agar Allah melembutkan hati mereka. Rasulullah SAW saja tidak bisa memberi hidayah kepada pamannya, Abu Thalib, tanpa izin Allah. Tugas kita hanyalah menyampaikan dengan cara terbaik.

Tabel: Perbedaan Dakwah yang Memaksa vs Dakwah yang Menyejukkan

AspekDakwah Memaksa (Kurang Efektif)Dakwah Menyejukkan (Persuasif)
Gaya BahasaMenggurui dan banyak menggunakan kata “Harus/Wajib”.Berbagi pengalaman dan menggunakan kata “Yuk/Mari”.
MomentumMemberi nasihat saat suasana sedang tegang.Menyisipkan pesan saat suasana santai/bahagia.
Fokus KontenLarangan dan ancaman siksa.Kabar gembira, rahmat, dan solusi hidup.
Reaksi terhadap PenolakanMarah atau memusuhi.Tetap berakhlak baik dan terus mendoakan.
KeteladananBicara agama tapi akhlak di rumah buruk.Bicara sedikit tapi akhlak sangat menonjol.

Menghadapi Penolakan dengan Lapang Dada

Sangat mungkin ajakan Anda tidak langsung disambut dengan antusias. Ada yang beralasan sibuk, ada yang merasa belum butuh, atau bahkan ada yang mencibir. Jika ini terjadi, jangan berkecil hati. Ingatlah prinsip dakwah Nabi Nuh AS atau para nabi lainnya yang penuh kesabaran.

Sikap Anda saat ditolak justru menjadi ujian dakwah yang sesungguhnya. Tetaplah menjadi anggota keluarga yang paling hangat. Jika mereka menolak ikut kajian, jangan kurangi perhatian Anda kepada mereka. Tunjukkan bahwa kecintaan Anda pada agama tidak membuat Anda menjadi eksklusif atau menjauh dari keluarga.

Mengubah Kajian Menjadi Tradisi yang Dirindukan

Agar kajian rutin keluarga besar bisa bertahan lama (istiqomah), buatlah format yang interaktif. Jangan biarkan hanya satu arah (ceramah). Berikan ruang untuk tanya jawab atau curhat bersama. Adanya sesi ramah tamah setelah kajian biasanya menjadi momen yang paling dirindukan karena di sanalah ikatan emosional antar kerabat semakin erat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kajian keluarga adalah perpaduan sempurna antara thalabul ilmi (menuntut ilmu) dan shilaturahim. Keduanya adalah kunci pembuka pintu-pintu langit.

Kesimpulan

Melakukan Dakwah Keluarga Besar adalah investasi peradaban. Ketika kakek, nenek, ayah, dan ibu sudah gemar mengaji, maka anak-anak dan cucu-cucu akan tumbuh dalam lingkungan yang terjaga akidahnya. Anda mungkin hanya orang yang memulai langkah kecil dengan mengajak mereka duduk bersama mendengarkan ustadz, namun dampaknya bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

Jadikan setiap ajakan Anda sebagai hadiah cinta. Sebab, tidak ada hadiah yang lebih mewah daripada mengajak orang yang kita sayangi untuk bersama-sama melangkah menuju surga-Nya.

Apakah Anda ingin menemukan lebih banyak inspirasi seputar adab keluarga, tips mendidik anak secara Islami, atau panduan ibadah harian lainnya? Memperluas pemahaman tentang bagaimana menerapkan Islam dalam kehidupan berkeluarga adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan biarkan hari-hari Anda berlalu tanpa tambahan ilmu yang mencerahkan hati.

Yuk, temukan berbagai artikel edukatif, kisah inspiratif sahabat, hingga tips praktis kehidupan muslim yang sesuai sunnah hanya di website umroh.co. Dapatkan informasi tepercaya yang disajikan dengan bahasa yang ringan dan mendalam untuk membimbing Anda menjadi hamba Allah yang lebih baik. Mari perkuat iman dan silaturahmi bersama kami!

Artikel Terkait

Baluran

13 Januari 2026

7 Cara Menjaga Kemabruran Keluarga, Ibadah Jadi Berkah!

​Pernahkah Bunda atau Ayah merasa ada kekosongan atau kerinduan yang mendalam, sekaligus rasa takut kalau “vibes” ibadah yang begitu kuat di Tanah Suci perlahan ... Read more

Baluran

13 Januari 2026

5 Rahasia Khusyuk Umrah Bawa Anak: Ibadah Tenang & Berkah!

​Khusyuk Umrah Bawa Anak adalah dambaan setiap orang tua yang ingin merasakan keheningan batin di depan Ka’bah tanpa harus merasa “bersalah” karena tingkah laku ... Read more

Baluran

13 Januari 2026

7 Checklist P3K Umrah Keluarga: Ibadah Jadi Lebih Tenang!

​Pernahkah Bunda atau Ayah merasa cemas saat membayangkan tiba-tiba ada anggota keluarga yang jatuh sakit atau sekadar kelelahan di tengah kerumunan jutaan jamaah di ... Read more

Baluran

13 Januari 2026

5 Rahasia Hindari Konflik Saat Safar: Perjalanan Jadi Berkah!

​Pernahkah Anda membayangkan perjalanan yang seharusnya penuh tawa dan kekhusyukan justru berubah menjadi suasana dingin karena adu argumen antara anggota keluarga? Upaya untuk Hindari ... Read more

Baluran

13 Januari 2026

4 Makna Umrah sebagai Titik Balik Hidup Anda, Siap Hijrah?

​Pernahkah Anda merasa lelah dengan rutinitas dunia yang terasa hampa dan merindukan sebuah momen di mana seluruh beban di pundak seolah luruh seketika? Menjadikan ... Read more

Baluran

13 Januari 2026

7 Kunci Sabar saat Umrah: Rahasia Tenang di Tengah Kerumunan

​Sabar saat Umrah merupakan fondasi utama yang akan menentukan sejauh mana kualitas ibadah kita di hadapan Allah SWT. Pernahkah Anda membayangkan betapa syahdunya momen ... Read more