Melatih Sabar pada Anak adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya akan membuat suasana rumah lebih tenang, tetapi juga membekali si kecil dengan mentalitas baja untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan. Sahabat Muslim, pernahkah Anda merasa batin tersiksa saat melihat anak terus-menerus mengeluh, tidak puas dengan apa yang ada, atau meledak amarahnya hanya karena permintaannya tidak segera dituruti?
Rasanya wajar jika kita merasa gagal atau marah dalam situasi tersebut. Namun, mari kita jadikan momen ini sebagai sarana self-healing. Kesabaran anak tidak tumbuh secara instan; ia adalah otot mental yang perlu dilatih dengan kelembutan, bukan dengan bentakan. Dalam Islam, sabar dan syukur adalah dua sayap yang membawa kita pada kebahagiaan sejati. Mari kita bahas bagaimana cara menanamkan kedua nilai mulia ini pada anak-anak kita dengan cara yang natural dan menyenangkan.
Mengapa Sabar dan Syukur Begitu Penting dalam Islam?
Sahabat Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang betapa indahnya keadaan seorang mukmin:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya… Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim).
Ketika kita mengajari anak untuk sabar, kita sebenarnya sedang mengenalkan mereka pada cara untuk “menang” dalam setiap keadaan. Allah SWT juga berjanji dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
Dengan melatih mereka bersyukur, kita sedang membuka pintu keberkahan yang tak terbatas bagi hidup mereka.
7 Cara Sederhana Melatih Mental Sabar dan Syukur pada Anak
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa Sahabat Muslim mulai terapkan di rumah mulai hari ini:
1. Menjadi Teladan Kesabaran (Mirroring)
Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tapi mereka selalu melihat apa yang kita lakukan.
- Saat terjebak macet atau antrean panjang, cobalah untuk tidak menggerutu.
- Tunjukkan cara mengelola emosi dengan berkata, “Wah, antreannya panjang ya, yuk kita dzikir atau tebak-tebakan kata sambil menunggu.”
2. Berlatih “Delayed Gratification” (Menunda Keinginan)
Jangan selalu memberikan apa yang anak minta saat itu juga. Memberikan segalanya secara instan justru akan mematikan kemampuan mereka untuk bersabar.
- Jika anak minta mainan baru, ajak dia menabung atau menunggunya sampai akhir pekan.
- Ajarkan bahwa ada waktu untuk menunggu, dan menunggu itu adalah proses yang berharga.
3. Membangun “Jurnal Syukur” Keluarga
Ajak anak untuk melihat betapa banyaknya nikmat yang sering terlupakan.
- Setiap malam sebelum tidur, tanyakan: “Hari ini hal baik apa yang bikin Kakak senang?” atau “Tadi Allah kasih nikmat apa ya sama kita?”.
- Menuliskan atau menceritakan nikmat harian membantu otak anak terbiasa mencari sisi positif dalam setiap situasi.
4. Validasi Perasaan, Bukan Melarang Mengeluh
Seringkali kita langsung memarahi anak saat mereka mengeluh: “Jangan ngeluh terus!”. Ini justru membuat mereka merasa tidak dipahami.
- Cobalah katakan: “Bunda tahu Kakak capek nunggu, ya? Sabar sebentar lagi ya, Kakak anak hebat.”
- Saat perasaan mereka divalidasi, mereka akan merasa lebih tenang dan lebih mudah diajak untuk bersabar.
5. Melibatkan Anak dalam Aktivitas Sosial
Melihat ke bawah akan menumbuhkan rasa syukur yang luar biasa.
- Sesekali, ajak anak untuk berbagi makanan atau mainan dengan mereka yang kurang beruntung.
- Pengalaman ini akan memberinya perspektif bahwa apa yang ia miliki saat ini adalah nikmat besar yang harus dijaga.
6. Menggunakan Teknik Napas dan Dzikir
Ajarkan cara menenangkan diri secara fisik saat rasa tidak sabar mulai muncul.
- Ajarkan anak menarik napas dalam-dalam saat marah atau kesal.
- Kenalkan kalimat thayyibah seperti Subhanallah atau Istighfar sebagai “tombol tenang” saat hati mereka sedang bergejolak.
7. Memberikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hasil
Saat anak berhasil menunggu dengan tenang, berikan pujian yang spesifik.
- “Bunda bangga banget tadi Kakak bisa sabar nunggu antrean meskipun agak lama.”
- Apresiasi ini akan memperkuat identitas dirinya sebagai “Anak yang Sabar”.
Menyembuhkan Hati Orang Tua: Sebuah Self-Healing
Sahabat Muslim, dalam proses Melatih Sabar pada Anak, kadang justru kesabaran kitalah yang paling diuji. Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika sesekali Sahabat Muslim masih kehilangan kesabaran. Mendidik adalah maraton, bukan lari cepat.
Setiap kali merasa lelah, ingatlah bahwa Allah melihat setiap peluh dan air mata Sahabat Muslim dalam menjaga amanah ini. Kesabaran Anda hari ini adalah benih kebaikan yang akan dipanen oleh anak-anak Anda berpuluh-puluh tahun mendatang.
Kesimpulan
Mendidik anak untuk tidak mudah mengeluh dan selalu bersyukur adalah tugas mulia yang membutuhkan ketelatenan. Dengan pendekatan yang humanistis, menghadirkan teladan yang baik, dan senantiasa melibatkan Allah dalam setiap langkah, insyaAllah buah hati kita akan tumbuh menjadi pribadi yang jiwanya tenang dan hatinya penuh cahaya iman.
Ingin mendapatkan lebih banyak inspirasi seputar parenting islami, adab sehari-hari, atau tips kehidupan muslimah yang menyejukkan hati lainnya? Sahabat Muslim bisa menjelajahi berbagai artikel edukatif lainnya hanya di umroh.co. Mari terus belajar dan bertumbuh bersama demi membangun generasi yang mencintai Allah dan diridhai-Nya!



