Penyakit Hati Ujub adalah racun spiritual yang paling berbahaya karena ia sering kali menyerang justru saat kita sedang merasa sangat saleh, sangat pintar, atau sangat berjasa bagi orang lain. Pernahkah Anda merasa bangga secara berlebihan setelah menyelesaikan sebuah ibadah besar? Atau mungkin, pernahkah terlintas di pikiran bahwa keberhasilan yang Anda raih murni karena kecerdasan dan kerja keras Anda sendiri tanpa campur tangan Allah? Perasaan “kagum pada diri sendiri” inilah yang disebut ujub sebuah lubang hitam yang siap menelan cahaya pahala yang telah susah payah Anda kumpulkan.
Sebagai seorang Muslim yang selalu haus akan pengetahuan, kita perlu menyadari bahwa musuh terbesar kita bukanlah setan yang tampak dari luar, melainkan ego yang membengkak di dalam dada.
Izinkan saya mengajak Sahabat Muslimah dan Muslim untuk mengulas secara mendalam mengapa membiarkan rasa bangga diri ini tumbuh adalah risiko besar yang bisa menghanguskan investasi akhirat kita. Artikel ini akan menjadi panduan bagi Anda untuk mengenali, mewaspadai, dan mengobati penyakit hati yang sangat halus ini.
Apa Itu Ujub? Membedah Akar Kesombongan yang Halus
Secara terminologi, ujub adalah perasaan kagum seseorang terhadap dirinya sendiri, baik itu karena amal ibadah, ilmu, rupa, maupun harta, dengan melupakan bahwa semua itu adalah nikmat murni dari Allah SWT. Berbeda dengan riya yang membutuhkan “penonton” untuk pamer, ujub bisa terjadi bahkan saat Anda sedang sendirian di dalam kamar.
Perbedaan Ujub, Riya, dan Takabur
Agar kita tidak salah diagnosa terhadap hati kita sendiri, mari kita pahami perbedaannya:
- Riya: Melakukan amal agar dipuji manusia (butuh orang lain).
- Takabur (Sombong): Merasa lebih hebat dari orang lain dan meremehkan mereka.
- Ujub: Mengagumi kelebihan diri sendiri dan merasa bahwa itu adalah hasil usahanya, meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Ujub adalah “pintu masuk” menuju takabur. Seseorang tidak akan sombong kepada orang lain jika ia tidak terlebih dahulu merasa kagum pada dirinya sendiri.
Mengapa Ujub Begitu Mematikan dalam Islam?
Islam menempatkan Penyakit Hati Ujub sebagai salah satu hal yang paling membinasakan (Al-Muhlikat). Mengapa? Karena ia secara langsung menyerang tauhid kita—yakni pengakuan bahwa segala daya dan upaya hanya milik Allah (Laa hawla wa laa quwwata illa billah).
Landasan Wahyu: Peringatan dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat serius mengenai hal ini:
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri (ujub).” (HR. Al-Bazzar dan Al-Bayhaqi, dinilai Shahih oleh Al-Albani)
Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata: “Kebinasaan itu ada pada dua perkara: putus asa (dari rahmat Allah) dan ujub.” Hal ini karena orang yang ujub merasa sudah cukup dengan amalnya sehingga ia berhenti berusaha untuk bertaubat atau memperbaiki diri.
5 Tanda Anda Sedang Terjangkit Penyakit Hati Ujub
Bagi Anda yang ingin melakukan “detoksifikasi” hati, berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
- Sering Menyebut-nyebut Keberhasilan Sendiri: Baik dalam lisan maupun dalam pikiran, Anda terus mengulang-ulang narasi betapa hebatnya kontribusi Anda dalam suatu proyek atau ibadah.
- Merasa “Suci” dan Aman dari Dosa: Anda merasa bahwa shalat dan sedekah Anda sudah cukup untuk menjamin surga, sehingga rasa takut kepada Allah (Khauf) mulai memudar.
- Sulit Menerima Kritik dan Saran: Karena merasa sudah paling benar atau paling ahli, setiap masukan dari orang lain dianggap sebagai gangguan atau tanda iri hati.
- Memandang Rendah Orang Lain yang Belum Berhijrah: Saat melihat orang lain bermaksiat, muncul rasa “lebih baik” daripada rasa kasihan atau keinginan untuk mendoakan hidayah.
- Lupa Bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat: Anda lebih banyak berkata “Saya telah melakukan…” daripada “Allah telah memudahkan saya untuk…”.
Tabel: Perbandingan Hati yang Ikhlas vs Hati yang Ujub
| Dimensi | Hati yang Ikhlas (Tawadhu) | Hati yang Terjangkit Ujub |
|---|---|---|
| Sumber Kekuatan | Yakin semua adalah pertolongan Allah. | Yakin semua karena kemampuan diri sendiri. |
| Respon terhadap Amal | Takut amalnya ditolak dan merasa kurang. | Puas dengan amal dan merasa sudah banyak. |
| Pandangan pada Orang Lain | Selalu melihat kelebihan orang lain. | Selalu mencari celah kekurangan orang lain. |
| Orientasi Pujian | Tidak terpengaruh, fokus pada rida Allah. | Merasa pantas dipuji dan sakit hati jika diabaikan. |
| Ketenangan Jiwa | Tenang karena bersandar pada Yang Abadi. | Cemas karena takut “kehebatannya” hilang. |
Dampak Buruk Ujub: Mengapa Amal Anda Bisa Hangus?
Mengapa kita harus sangat takut pada Penyakit Hati Ujub? Berikut adalah dampak fatalnya:
- Menghapus Pahala Kebaikan: Ujub adalah api yang memakan kayu bakar pahala. Amal yang dilakukan dengan ujub tidak akan naik ke langit karena tidak murni karena Allah.
- Menutup Pintu Hidayah: Orang yang sudah merasa pintar dan benar tidak akan mau belajar lagi. Hatinya tertutup dari kebenaran yang baru.
- Mengundang Murka Allah: Allah sangat membenci kesombongan. Orang yang ujub seolah-olah sedang menantang Allah dengan mengklaim kehebatan yang sebenarnya hanya titipan.
- Dijatuhkan dalam Kehinaan: Allah sering kali menjatuhkan orang yang ujub pada kesalahan yang memalukan agar ia sadar akan kelemahannya.
Expert Guide: 5 Cara Ampuh Mengobati Ujub
Jika Anda merasa bibit ujub mulai tumbuh, jangan biarkan ia mengakar. Berikut adalah panduan praktis untuk mengobatinya:
1. Menyadari Hakikat Diri
Ingatlah dari mana Anda berasal (setetes air yang hina) dan ke mana Anda akan pergi (tanah yang gelap). Semua kelebihan yang Anda miliki—kecerdasan, kekayaan, rupa—bisa diambil oleh Allah dalam sekejap melalui satu saraf yang pecah atau satu musibah kecil.
2. Memandang Nikmat sebagai Titipan (Amanah)
Setiap kali Anda meraih kesuksesan, langsung ucapkan: “Hadza min fadhli Rabbi” (Ini adalah karunia Tuhanku). Pindahkan fokus dari “hasil karya saya” menjadi “pemberian Allah kepada saya”.
3. Mengingat Dosa-Dosa Masa Lalu
Saat rasa bangga atas amal saleh muncul, ingatlah kembali dosa-dosa tersembunyi yang pernah Anda lakukan. Bayangkan jika Allah membongkar satu saja aib Anda, apakah manusia masih akan menghargai Anda? Kesadaran ini akan membunuh rasa ujub seketika.
4. Sering Berkumpul dengan Orang yang Lebih Saleh
Jika Anda merasa sudah paling rajin ibadah, carilah komunitas atau baca sejarah para Sahabat Nabi yang shalatnya sampai kakinya bengkak namun tetap menangis karena takut tidak diterima. Hal ini akan membuat kita merasa “bukan apa-apa”.
5. Rahasiakan Amal Kebaikanmu
Sebagaimana Anda menyembunyikan aib, usahakan memiliki amal rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah. Amal yang tersembunyi adalah latihan terbaik untuk memurnikan niat dan menjauhkan diri dari keinginan untuk mengagumi diri sendiri.
Kesimpulan
Memahami bahaya Penyakit Hati Ujub adalah langkah awal untuk menyelamatkan iman kita. Kita tidak diciptakan untuk menjadi hebat di mata sendiri, melainkan untuk menjadi hamba yang tunduk di hadapan Sang Maha Agung. Jangan biarkan satu tetes kesombongan menghancurkan samudera amal yang telah Anda bangun. Ingatlah, bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, dan ketakwaan tidak pernah berjalan beriringan dengan rasa bangga diri.
Mari kita jaga hati kita agar tetap “merasa kurang” dalam beramal agar kita terus terpacu untuk memperbaiki diri hingga akhir hayat.
Ingin Memperdalam Pengetahun Tentang Penyakit Hati dan Solusinya?
Perjalanan menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nufs) adalah maraton seumur hidup. Jangan biarkan semangat Anda padam. Masih banyak pembahasan menarik mengenai cara mengatasi rasa malas beribadah, tips khusyuk, hingga kisah inspiratif para ulama dalam menjaga keikhlasan yang menanti untuk Anda pelajari.
Yuk, temukan artikel-artikel edukatif dan informatif lainnya hanya di umroh.co. Mari perkuat benteng iman kita, perkaya ilmu kita, dan jadilah Muslim yang memiliki hati yang selamat (Qolbun Salim) setiap hari!




