Ambil Untung Besar? Cek 3 Batas Keuntungan Dagang dalam Islam!

16 Januari 2026

5 Menit baca

Sander hallaste Wy9Z4rzBY0U unsplash

​Pernahkah Sahabat Muslim merasa ada sedikit keraguan atau bahkan rasa tidak enak hati saat menentukan harga jual produk, seolah-olah ada bisikan kecil yang bertanya, “Apakah keuntungan yang saya ambil ini terlalu besar dan menyakiti pembeli?” Batas Keuntungan Dagang dalam Islam sebenarnya bukan sekadar angka matematis yang kaku, melainkan sebuah seni menjaga harmoni antara kebutuhan duniawi dan ketenangan ukhrawi agar setiap rupiah yang masuk ke kantong kita benar-benar menjadi sarana self-healing yang menenangkan jiwa.

​Dunia perdagangan sering kali digambarkan sebagai medan perang yang keras, padahal dalam kacamata syariat, pasar adalah ladang ibadah. Saat kita menetapkan harga dengan penuh kesadaran dan kejujuran, kita sebenarnya sedang memeluk keberkahan yang akan menjauhkan kita dari rasa cemas dan kegelisahan. Mari kita tarik napas dalam-dalam, tenangkan pikiran, dan bahas bersama bagaimana Islam memberikan arahan yang begitu humanistis mengenai keuntungan dagang.

​Mengapa Mencari Berkah Lebih Penting daripada Sekadar “Cuan”?

​Sahabat Muslim, dalam Islam, rezeki bukan hanya soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi seberapa “bersih” proses mendapatkannya. Harta yang banyak namun didapat dengan cara menzalimi orang lain biasanya akan membawa kegelisahan batin (anxiety). Sebaliknya, keuntungan yang diambil secara wajar dan transparan akan mendatangkan perasaan ringan dan bahagia.

​Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang prinsip dasar perdagangan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu…” (QS. An-Nisa: 29).

​Kata “suka sama suka” atau An-Taradin adalah kunci utama. Keuntungan yang besar tidak menjadi masalah selama pembeli merasa rida, tahu kualitas barangnya, dan tidak ada unsur penipuan.

​Apakah Ada Persentase Pasti untuk Batas Keuntungan Dagang?

​Mungkin Sahabat Muslim bertanya-tanya, apakah ada angka pasti seperti 20%, 50%, atau 100%? Secara umum, syariat Islam tidak menetapkan batas maksimal persentase keuntungan tertentu. Hal ini dikarenakan biaya operasional, tingkat risiko, dan kelangkaan barang setiap pedagang berbeda-beda.

​Namun, bukan berarti kita bisa bebas tanpa batas. Para ulama memberikan batasan moral yang sangat indah agar kita tetap berada di jalur yang benar:

  • Prinsip Ihsan (Berbuat Baik): Meskipun boleh mengambil untung, Islam sangat menganjurkan kita untuk bersikap murah hati (Samhah). Membantu memudahkan urusan pembeli dengan memberikan harga yang bersahabat adalah investasi pahala yang luar biasa.
  • Keadilan Sosial: Jika barang yang kita jual adalah kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan orang banyak (seperti sembako atau obat-obatan), mengambil untung secara berlebihan di tengah kesulitan orang lain sangat dibenci.

​3 Kondisi yang Membuat Keuntungan Besar Menjadi Dilarang

​Agar hati Sahabat tetap tenang, mari perhatikan tiga kondisi di mana pengambilan keuntungan bisa berubah menjadi haram atau tidak berkah:

​1. Adanya Praktik Al-Ghabn al-Fahish (Penipuan Harga Ekstrem)

​Ini terjadi ketika Sahabat menjual barang jauh di atas harga pasar kepada orang yang tidak tahu harga (seperti orang asing atau orang tua yang lugu). Mengambil untung berlipat-lipat karena memanfaatkan ketidaktahuan pembeli adalah bentuk kezaliman.

​2. Praktik Ihtikar (Penimbunan Barang)

​Menahan barang agar langka di pasar, lalu menjualnya dengan harga selangit saat orang-orang sangat membutuhkannya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menimbun barang, maka ia telah berbuat dosa.” (HR. Muslim).

​3. Menyembunyikan Cacat Barang (Tadlis)

​Mengambil untung besar dengan mengklaim barang dalam kondisi sempurna padahal ada cacat yang disembunyikan. Keuntungan dari hasil “memoles” kekurangan adalah harta yang tidak akan pernah mendatangkan ketenangan.

​Menjaga Keberkahan: Tips Menetapkan Harga yang Menenangkan Hati

​Menjadi penjual muslim yang profesional berarti kita memiliki standar moral yang tinggi. Berikut adalah beberapa langkah praktis sebagai panduan ahli untuk Sahabat:

  • Transparansi modal jika diperlukan: Dalam akad Murabahah, kita memberitahu modal dan keuntungan yang kita ambil. Ini sangat menyejukkan karena ada kejujuran total di sana.
  • Riset Harga Pasar: Cobalah untuk tidak terlalu jauh menyimpang dari harga pasar agar tidak memberatkan pembeli.
  • Niatkan Menolong: Niatkan dagangan Sahabat sebagai sarana membantu orang memenuhi kebutuhannya. Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
  • Berikan Sedekah dari Keuntungan: Untuk membersihkan harta dan jiwa, sisihkan sebagian keuntungan untuk mereka yang membutuhkan. Ini adalah obat self-healing terbaik untuk rasa syukur kita.

​Kesimpulan

​Memahami Batas Keuntungan Dagang dalam Islam menyadarkan kita bahwa bisnis adalah tentang membangun hubungan, bukan sekadar transaksional. Islam tidak melarang Sahabat menjadi kaya, namun Islam ingin Sahabat menjadi kaya dengan cara yang terhormat dan menenangkan jiwa. Saat kita menetapkan harga dengan rida Allah sebagai kompasnya, maka setiap hasil yang kita terima akan terasa mencukupi dan membawa kedamaian bagi keluarga.

​Jangan biarkan ambisi mengejar angka membuat Sahabat melupakan ketenangan batin. Pilihlah jalan yang jujur, ambillah keuntungan yang adil, dan saksikan bagaimana Allah melapangkan jalan rezeki Sahabat dari arah yang tak disangka-sangka.

​Ingin mendapatkan lebih banyak wawasan tentang fiqh muamalah harian, panduan ibadah yang menenangkan jiwa, atau informasi persiapan umroh agar perjalanan spiritual Sahabat semakin bermakna? Yuk, perkaya pengetahuan keislaman Sahabat dengan membaca berbagai artikel inspiratif lainnya di umroh.co. Temukan segala bimbingan spiritual yang akan menuntun langkah Sahabat Muslim menuju kehidupan yang lebih tenang, berkah, dan penuh cahaya rida-Nya!

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap langkah usaha kita dan menjaga hati kita agar tetap tenang dalam kejujuran. Amin.

Artikel Terkait

Baluran

26 Januari 2026

Hukum Jual Beli Hewan: 4 Hal Ini Bikin Ibadah Makin Berkah!

​Hukum Jual Beli Hewan merupakan pengetahuan yang sangat penting untuk kita selami agar setiap interaksi kita dengan sesama makhluk ciptaan Allah tidak hanya mendatangkan ... Read more

Baluran

21 Januari 2026

4 Hukum Jual Beli Hewan: Rahasia Hobi Jadi Berkah & Tenang!

​Hukum Jual Beli Hewan merupakan pengetahuan yang sangat penting untuk kita selami agar setiap interaksi kita dengan sesama makhluk ciptaan Allah tidak hanya mendatangkan ... Read more

Baluran

20 Januari 2026

5 Doa Keberkahan Rezeki Agar Lelahmu Berbuah Surga, Cek!

​Doa Keberkahan Rezeki adalah kunci utama yang akan mengubah setiap lelah Sahabat Muslim menjadi lillah, sehingga apa pun yang kita dapatkan hari ini terasa ... Read more

Baluran

20 Januari 2026

3 Rahasia Bisnis Tiket Pesawat Islam: Jujur & Pasti Berkah!

​Bisnis Tiket Pesawat Islam adalah peluang usaha yang sangat mulia jika dijalankan dengan landasan kejujuran dan transparansi, terutama bagi Sahabat Muslim yang ingin membantu ... Read more

Baluran

20 Januari 2026

2 Jenis Akad Mudharabah Ini Bikin Investasi Kamu Lebih Tenang!

​Jenis Akad Mudharabah adalah fondasi utama bagi siapa saja yang ingin menjalankan investasi syariah dengan prinsip bagi hasil yang adil dan transparan. Mudharabah sendiri ... Read more

Baluran

20 Januari 2026

Nikah Pakai Hafalan Surat? Cek 3 Syarat Mahar Jasa Ini!

​Mahar Jasa dalam Islam merupakan salah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan agar ikatan suci pernikahan tidak terhalang oleh beratnya beban materi semata. Pernahkah ... Read more