Nafkah Harta Syubhat adalah kondisi di mana rezeki yang kita jemput berada di wilayah abu-abu tidak jelas kehalalannya namun tidak pula terang keharamannya—dan ternyata, hal inilah yang seringkali menjadi pencuri ketenangan di dalam rumah tangga kita.
Banyak dari kita yang terlalu fokus pada “berapa banyak” angka yang masuk ke rekening, sampai-sampai kita luput memperhatikan “bagaimana” cara angka-angka itu hadir. Sebagai seorang Muslim yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, memahami dampak dari apa yang kita suapkan ke mulut buah hati adalah bentuk self-healing yang paling mendasar. Sebab, ketenangan batin tidak bisa dibeli dengan nominal, ia hanya hadir dari sumber yang benar-benar bersih dan rida Allah.
Mengenal Syubhat: Si Abu-Abu yang Mengusik Hati
Sahabat Muslim, dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang sangat indah tentang batasan rezeki. Beliau bersabda:
”Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wilayah syubhat ini ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang; ia sangat berisiko tergelincir. Dalam konteks modern, harta syubhat bisa berupa komisi yang tidak jelas asal-usulnya, memanipulasi waktu kerja, hingga menerima pemberian yang tujuannya untuk “memuluskan” urusan.
Dampak Harta Syubhat bagi Tumbuh Kembang Buah Hati
Kita semua ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang salih dan salihah. Namun, tahukah Sahabat bahwa makanan yang kita berikan akan menjadi darah dan daging yang mengalir di tubuh mereka?
1. Membentuk Karakter yang Sulit Diatur
Makanan yang bersumber dari Nafkah Harta Syubhat dapat mempengaruhi kecenderungan perilaku anak. Harta yang tidak bersih seringkali membuat hati menjadi keras. Ketika hati anak mengeras karena asupan yang tidak berkah, mereka cenderung lebih sulit menerima nasihat kebaikan dan nilai-nilai agama.
2. Terhambatnya Keberkahan dalam Menuntut Ilmu
Anak yang dibesarkan dengan harta yang masih samar kehalalannya seringkali mengalami kesulitan dalam menyerap ilmu yang bermanfaat. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan mudah masuk ke dalam tubuh yang tumbuh dari sisa-sisa perkara yang tidak disukai Allah.
Mengapa Rumah Tangga Terasa “Gerah” dan Sering Cekcok?
Pernahkah Sahabat Muslim merasa tidak ada masalah besar, tapi rasanya ingin marah terus kepada pasangan? Bisa jadi, itu adalah sinyal bahwa keberkahan (Barakah) sedang dicabut dari rumah kita.
3. Hilangnya Rasa Sakinah (Ketenangan)
Tujuan utama pernikahan adalah mencapai ketenangan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:
”Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…”
Kata “Tayyib” (baik) di sini bukan hanya soal nutrisi, tapi juga soal proses mendapatkannya. Harta syubhat membawa energi kegelisahan. Seberapapun mewah rumah Sahabat, jika di dalamnya terdapat harta syubhat, rasa tenang itu akan terasa sangat mahal harganya.
4. Doa yang Terhalang Langit
Ini adalah dampak yang paling memilukan. Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mengangkat tangan ke langit dan berdoa, namun makanannya haram, minumannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya dikabulkan? (HR. Muslim).
Bayangkan saat Sahabat Muslim mendoakan kebahagiaan keluarga, namun “sumbat” harta syubhat menghalangi doa itu sampai ke singgasana Allah.
5 Langkah Mengembalikan Keberkahan di Rumah Tangga
Jika hari ini Sahabat merasa ada yang salah dengan arus rezeki keluarga, jangan berkecil hati. Selalu ada pintu untuk kembali. Berikut adalah beberapa langkah untuk membersihkan diri:
- Audit Niat dan Sumber Rezeki: Duduklah sejenak dengan pasangan, bicarakan secara terbuka dari mana saja sumber penghasilan selama ini.
- Berani Meninggalkan yang Ragu: Jika ada pekerjaan atau proyek yang membuat hati Sahabat tidak tenang, tinggalkanlah. Ingat, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.”
- Perbanyak Istighfar dan Sedekah: Sedekah berfungsi sebagai pembersih harta. Namun, pastikan niatnya adalah bertaubat, bukan untuk “mencuci” uang yang sengaja diambil secara haram.
- Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas: Lebih baik sedikit namun membuat tidur nyenyak dan anak-anak patuh, daripada banyak namun mengundang musibah dan penyakit.
- Membangun Komunikasi “Halal” dengan Pasangan: Saling mengingatkan untuk selalu menjaga integritas di tempat kerja masing-masing.
Penutup
Sahabat Muslim yang dicintai Allah, perjalanan hidup ini hanyalah sebentar. Memastikan Nafkah Harta Syubhat menjauh dari rumah kita adalah investasi jangka panjang untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Saat rezeki yang kita bawa pulang benar-benar bersih, insya Allah, rumah tangga akan terasa lebih sejuk, anak-anak lebih mudah diarahkan, dan setiap doa yang kita panjatkan akan terasa lebih dekat dengan ijabah-Nya.
Mari kita jalani hidup dengan penuh kesadaran. Rezeki sudah diatur oleh Allah, tugas kita hanyalah menjemputnya dengan cara yang paling manis dan terhormat.
Ingin mempelajari lebih dalam tentang fikih muamalah yang menenangkan hati, atau mencari tips-tips praktis seputar kehidupan Islami lainnya untuk keluarga kecil Sahabat?
Yuk, temukan berbagai artikel edukatif dan inspiratif seputar dunia keislaman dan kehidupan Muslim harian hanya di umroh.co. Mari terus perkaya ilmu kita agar setiap langkah hidup kita selalu dalam lindungan cahaya-Nya.




