Makna Surat Al-Lahab menyimpan sebuah nubuat atau ramalan yang pasti dari Allah SWT mengenai nasib buruk serta kehancuran abadi bagi siapa pun yang berani merintangi jalan dakwah kebenaran, sebagaimana yang dialami oleh paman Nabi sendiri, Abu Lahab, dan istrinya.
Surat ke-111 dalam mushaf Al-Qur’an ini merupakan kategori Makkiyah yang sangat unik, karena ia melaknat musuh Islam secara spesifik dengan menyebutkan namanya saat orang tersebut masih hidup. Bagi Sahabat Muslim, memahami kandungan surat ini bukan sekadar tentang dendam masa lalu, melainkan sebuah pelajaran teologis tentang betapa tidak berartinya harta dan garis keturunan jika digunakan untuk menentang syariat Allah SWT.
Sahabat Muslim, pernahkah Anda merenungkan mengapa paman kandung Rasulullah SAW sendiri menjadi musuh yang paling sengit? Bagaimana mungkin harta yang melimpah justru menjadi bahan bakar api neraka baginya? Mari kita bedah tuntas mutiara hikmah di balik Surat Al-Lahab agar kita senantiasa waspada terhadap sifat sombong yang bisa membinasakan iman kita.
Sejarah dan Asbabun Nuzul: Teriakan di Bukit Safa
Memahami Makna Surat Al-Lahab (yang juga sering disebut Surat Al-Masad) mengharuskan kita menilik kembali peristiwa besar di awal masa kenabian. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika turun ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. Asy-Syu’ara: 214), Rasulullah SAW segera mendaki Bukit Safa.
Dialog yang Menyakitkan Hati Nabi
Beliau berseru, “Ya Sabahah!” (sebuah teriakan peringatan bahaya di pagi hari). Ketika orang-orang Quraisy berkumpul, Nabi bertanya, “Bagaimana pendapat kalian jika aku beritahu bahwa di balik lembah ini ada pasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab, “Tentu, kami tidak pernah mendapati engkau berbohong.”
Namun, ketika Nabi melanjutkan dengan ajakan Tauhid, Abu Lahab justru berteriak dengan kasar, “Tabban laka sa’iral yaum! A li hadza jama’tana?” (Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk urusan ini engkau mengumpulkan kami?). Akibat ucapan lancang tersebut, Allah SWT langsung menurunkan Surat Al-Lahab sebagai jawaban telak dari langit.
Bedah Ayat demi Ayat: Kehancuran yang Sempurna
Sahabat Muslim, mari kita perhatikan untaian firman Allah dalam Surat Al-Lahab dan membedah maknanya berdasarkan tafsir para ulama kredibel seperti Ibnu Katsir dan Syaikh As-Sa’di.
1. Kebinasaan Tangan dan Diri (Ayat 1)
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!”
Allah memulai surat ini dengan doa sekaligus ketetapan. Kata Tabbat bermakna rugi atau binasa. Penyebutan “dua tangan” merujuk pada segala usaha dan pekerjaan yang dilakukan Abu Lahab untuk menyakiti Nabi. Sahabat Muslim, ia tidak hanya binasa secara fisik, tetapi seluruh eksistensinya sebagai manusia hancur di hadapan sejarah.
2. Harta yang Tidak Memberi Manfaat (Ayat 2)
“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.”
Abu Lahab adalah orang yang sangat kaya. Ia sering sesumbar bahwa jika benar ada hari kiamat, ia akan menebus dirinya dari azab Allah dengan harta dan anak-anaknya. Allah membantah hal itu secara total. Dalam pandangan Islam, harta yang diperoleh dengan cara zalim atau digunakan untuk maksiat hanya akan menjadi beban di hari penghisaban.
3. Gejolak Api Neraka (Ayat 3)
“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).”
Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza, namun ia dijuluki “Abu Lahab” (Bapak Kobaran Api) karena wajahnya yang cerah kemerahan. Allah menggunakan julukan kebanggaannya itu sebagai ironi; ia akan masuk ke dalam Lahab (api yang bergejolak) yang sesuai dengan namanya. Ini adalah janji Allah yang tidak mungkin meleset.
4. Istri Pembawa Kayu Bakar (Ayat 4)
“Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).”
Istri Abu Lahab, Arwah binti Harb (Umm Jamil), adalah wanita bangsawan yang setali tiga uang dengan suaminya. Ia gemar menebarkan duri di jalan yang biasa dilalui Nabi dan menyebarkan fitnah (ghibah) yang panas seperti api. Julukan “pembawa kayu bakar” adalah kiasan bagi orang yang senang memancing keributan dan permusuhan.
5. Kalung dari Sabut yang Melilit (Ayat 5)
“Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”
Allah memberikan gambaran akhir yang sangat menghinakan bagi Umm Jamil. Di akhirat kelak, lehernya akan diikat dengan tali dari api neraka atau sabut yang sangat kasar sebagai balasan atas kalung mewahnya di dunia yang ia gunakan untuk mendanai permusuhan terhadap Islam.
Tabel: Perbandingan Nasib Pembela vs Musuh Dakwah
Agar Sahabat Muslim lebih mudah memetik pelajaran, mari kita lihat perbandingan nasib antara mereka yang menolong Nabi dengan mereka yang memusuhi Nabi:
| Aspek Perbandingan | Pembela Dakwah (Misal: Bilal bin Rabah) | Musuh Dakwah (Abu Lahab) |
|---|---|---|
| Status Sosial Dunia | Budak yang rendah di mata manusia | Bangsawan yang dihormati kaumnya |
| Kekayaan | Miskin harta namun kaya iman | Sangat kaya namun kufur |
| Peninggalan Nama | Harum dan didoakan hingga hari ini | Tercela dan dilaknat dalam shalat umat |
| Nasib Akhirat | Surga yang penuh kenikmatan | Neraka dengan api bergejolak |
| Prinsip Hidup | Kesabaran di atas Tauhid | Kesombongan di atas Syirik |
Karakteristik Umm Jamil: Bahaya Lidah dalam Rumah Tangga
Dalam Makna Surat Al-Lahab, Umm Jamil menjadi simbol bagi wanita yang bukannya menjadi penyejuk hati suami, justru menjadi provokator dalam kemaksiatan. Sahabat Muslim, ada tiga perilaku buruk Umm Jamil yang harus kita hindari:
- Nammimah (Adu Domba): Ia senang mengadu domba antar kabilah agar membenci Rasulullah.
- Iri Dengki: Ia merasa kehormatan keluarganya terancam oleh kemuliaan Nabi Muhammad SAW.
- Mendanai Kejahatan: Ia menjual perhiasan mahalnya hanya untuk membiayai aksi penentangan terhadap dakwah.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (Nammam).” (HR. Bukhari & Muslim).
Mukjizat Ilmiah: Mengapa Abu Lahab Tidak Pura-pura Masuk Islam?
Sahabat Muslim, tahukah Anda bahwa Surat Al-Lahab adalah salah satu bukti terkuat kebenaran Al-Qur’an? Surat ini turun sekitar 10 tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia. Allah menyatakan secara mutlak bahwa Abu Lahab akan masuk neraka (artinya dia akan mati dalam keadaan kafir).
Andai saja saat itu Abu Lahab mau berpikir cerdik, ia cukup berpura-pura masuk Islam di depan umum. Maka ia bisa berkata, “Lihat, Muhammad berkata aku masuk neraka, tapi sekarang aku sudah Muslim. Berarti kitabnya salah!” Namun, faktanya Abu Lahab tidak pernah melakukan itu hingga akhir hayatnya. Hatinya telah dikunci oleh Allah, membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar firman Tuhan yang mengetahui masa depan.
Nasib Buruk di Dunia Sebelum Neraka
Pelajaran dari Makna Surat Al-Lahab tidak hanya berhenti di akhirat. Allah menunjukkan kehinaan Abu Lahab di dunia. Ia meninggal tak lama setelah Perang Badr akibat penyakit kulit yang mengerikan (‘Adasah). Penyakitnya sangat menjijikkan sehingga anak-anaknya sendiri takut mendekatinya. Jenazahnya dibiarkan selama tiga hari hingga membusuk, lalu didorong ke dalam lubang dengan kayu dan dilempari batu dari jauh. Inilah akhir dari sosok yang menyombongkan hartanya.
Ibrah bagi Sahabat Muslim Modern
Bagaimana kita menerapkan hikmah Surat Al-Lahab di zaman sekarang?
- Harta Bukan Segalanya: Jangan pernah merasa aman hanya karena posisi finansial yang mapan. Gunakan harta untuk mendukung agama Allah agar ia menjadi pembela kita.
- Waspadai Sifat Sombong: Jangan meremehkan orang lain hanya karena merasa lebih senior atau lebih kaya. Abu Lahab merasa lebih hebat dari Nabi karena faktor usia dan harta, namun ia berakhir di kerak neraka.
- Menjaga Pasangan: Jadilah pasangan yang saling mengajak dalam ketaatan, bukan saling mendukung dalam kemaksiatan atau hura-hura yang melalaikan.
- Yakin pada Janji Allah: Meskipun saat ini musuh-musuh Islam terlihat kuat, percayalah bahwa kehancuran mereka adalah kepastian sebagaimana kehancuran Abu Lahab.
Kesimpulan
Mempelajari Makna Surat Al-Lahab menyadarkan kita bahwa garis keturunan tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika ia memilih jalan kufur. Abu Lahab adalah paman kandung Nabi, namun ia menjadi “Bapak Api” karena pilihan hidupnya sendiri. Surat ini adalah alarm bagi kita agar tidak menggunakan potensi yang kita miliki baik itu lisan, harta, maupun jabatan—untuk merugikan dakwah Islam.
Mari kita bersihkan hati dari kebencian, kita luruskan niat dalam beramal, dan kita jadikan keluarga kita sebagai benteng dakwah yang kokoh.
Sahabat Muslim, apakah renungan mengenai nasib tragis musuh dakwah ini membuat Anda semakin bersemangat untuk istiqomah di jalan kebenaran? Atau mungkin Anda ingin mempelajari lebih dalam tentang kisah-kisah kemenangan para sahabat Nabi yang semula dimusuhi namun berakhir menjadi pahlawan Islam?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar tafsir Al-Qur’an, sejarah peradaban Islam, hingga panduan lengkap ibadah haji dan umroh hanya di umroh.co. Mari kita terus memperkaya iman dan wawasan kita agar perjalanan hidup kita senantiasa dalam rida Allah SWT. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





