Tafsir Surat Abasa mengungkapkan salah satu peristiwa paling mengharukan sekaligus penuh pelajaran dalam sejarah Islam, di mana Allah SWT memberikan teguran langsung kepada kekasih-Nya, Rasulullah SAW, mengenai skala prioritas dalam berdakwah dan nilai seorang mukmin di hadapan-Nya.
Surat ke-80 dalam Mushaf Al-Qur’an ini termasuk kategori Makkiyah yang turun untuk meluruskan pandangan manusia bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kedudukan sosial atau kekayaan, melainkan dari kebersihan hati dan semangatnya dalam menjemput hidayah. Bagi Sahabat Muslim, mendalami makna di balik ayat-ayatnya merupakan sarana untuk merenungi kembali adab kita dalam berinteraksi dengan sesama, terutama kepada mereka yang sering kali dianggap sebelah mata oleh dunia.
Sahabat Muslim, pernahkah Anda merasa lebih mementingkan orang yang berkedudukan tinggi daripada mereka yang tulus mencari ilmu? Mengapa Allah perlu mengabadikan “wajah masam” Nabi dalam kitab suci yang dibaca hingga akhir zaman? Mari kita bedah tuntas mutiara hikmah di balik Surat Abasa agar kualitas dakwah dan ukhuwah kita semakin selaras dengan keridaan Allah SWT.
Sejarah dan Asbabun Nuzul: Pertemuan di Balik Teguran Langit
Memahami Tafsir Surat Abasa harus dimulai dari momen ketika Rasulullah SAW sedang berada dalam diskusi yang sangat krusial. Beliau tengah berusaha keras meyakinkan para pembesar Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahl, dan Abbas bin Abdul Muthalib, agar mau memeluk Islam. Nabi berharap, jika para pemimpin ini masuk Islam, maka pengikutnya akan berbondong-bondong mengikuti.
Datangnya Abdullah bin Ummi Maktum
Di tengah perbincangan serius tersebut, datanglah seorang sahabat tunanetra bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.” Ia terus mendesak karena tidak mengetahui bahwa Nabi sedang sibuk.
Merasa terganggu dengan interupsi tersebut, Rasulullah SAW bermuka masam dan memalingkan muka dari Abdullah untuk tetap fokus pada para pembesar Quraisy. Atas sikap tersebut, Allah SWT langsung menurunkan sepuluh ayat pertama Surat Abasa sebagai bentuk edukasi dan teguran yang penuh kasih sayang.
1. Makna “Abasa wa Tawalla”: Peralihan dari Orang Ketiga ke Orang Kedua
Sahabat Muslim, perhatikan gaya bahasa unik pada awal surat ini: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. Abasa: 1).
Para ulama seperti Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa Allah memulai dengan kata ganti orang ketiga (Gha’ib) sebagai bentuk kelembutan. Allah tidak langsung berkata “Kamu bermuka masam”, melainkan “Dia”, agar beban teguran tersebut tidak langsung menghantam hati Rasulullah SAW. Namun, pada ayat ketiga, Allah mengubahnya menjadi orang kedua: “Tahukah kamu (Muhammad) barangkali dia ingin membersihkan dirinya?”. Ini adalah metode pendidikan rabbani agar pesan tersebut benar-benar meresap.
2. Nilai Seorang Mukmin vs Arogansi Pembesar (Ayat 3-10)
Dalam Tafsir Surat Abasa, Allah membandingkan dua sosok yang sangat kontras. Di satu sisi ada Abdullah bin Ummi Maktum yang datang dengan penuh rasa takut kepada Allah (yakhsya), dan di sisi lain ada para pembesar Quraisy yang merasa dirinya sudah cukup (istaghna).
Tabel: Perbandingan Skala Prioritas Dakwah Menurut Surat Abasa
| Karakteristik | Abdullah bin Ummi Maktum | Pembesar Quraisy (Kafir) |
|---|---|---|
| Kondisi Fisik/Sosial | Tunanetra dan Miskin | Berkuasa dan Kaya Raya |
| Sikap terhadap Ilmu | Segenap hati mencari petunjuk | Enggan dan Menyombongkan diri |
| Status di Mata Allah | Mulia dan Patut Diprioritaskan | Tidak berharga jika tetap kufur |
| Respon Nabi (Saat itu) | Terabaikan karena interupsi | Diperhatikan karena potensi politik |
| Teguran Allah | Seharusnya didahulukan | Tidak perlu dikejar jika berpaling |
Sahabat Muslim, pelajaran besar bagi kita adalah jangan pernah mengukur keberhasilan dakwah dari “siapa” yang kita ajak, tapi dari “bagaimana” kesiapan hati mereka menerima kebenaran. Satu orang yang ikhlas jauh lebih berharga daripada seribu orang yang angkuh.
3. Keagungan Al-Qur’an dan Lembaran-Lembaran yang Suci (Ayat 11-16)
Setelah memberikan teguran, Allah SWT mengingatkan tentang sifat wahyu itu sendiri. Al-Qur’an adalah peringatan (Tadzkirah) yang tersimpan dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan (Suhufin Mukarramah).
“Di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (QS. Abasa: 15-16)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak butuh kepada kebesaran manusia. Justru manusialah yang butuh kepada Al-Qur’an. Maka, menyebarkannya tidak boleh dilakukan dengan cara merendahkan martabat ilmu di hadapan orang-orang yang sombong.
4. Kritik terhadap Kekufuran Manusia (Ayat 17-23)
Allah kemudian beralih mengecam sifat dasar manusia yang sering kali melampaui batas. “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya!” (Ayat 17).
Sahabat Muslim, dalam bagian ini Allah mengajak kita flashback ke asal muasal kita:
- Dari Sperma (Nuthfah): Kita berasal dari sesuatu yang hina.
- Ditentukan Takdirnya: Allah yang mengatur fase hidup kita.
- Dimudahkan Jalannya: Allah yang mengeluarkan kita dari rahim ibu.
Mengapa setelah diberikan semua fasilitas itu, manusia masih berani sombong dan enggan tunduk pada syariat? Ini adalah pertanyaan retoris yang seharusnya membuat kita semakin merunduk di hadapan Sang Khalik.
5. Bukti Kekuasaan Allah Melalui Makanan (Ayat 24-32)
Sebagaimana pola dalam Juz Amma, Tafsir Surat Abasa juga mengajak kita melakukan observasi alam sebagai bukti akan adanya hari kebangkitan.
- “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (Ayat 24).
- Allah menceritakan proses irigasi langit (hujan), belahan bumi yang mengeluarkan tunas, hingga tumbuhnya biji-bijian, anggur, zaitun, dan kurma.
Pesan spiritualnya: Dzat yang mampu menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan, sangat mudah bagi-Nya untuk menghidupkan kembali manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Segala nikmat makanan ini Allah sediakan sebagai “Mata’al lakum” (kesenangan bagimu) dan untuk hewan ternakmu agar kalian bersyukur.
6. As-Shakhkhah: Hari Saat Ikatan Darah Terputus (Ayat 33-42)
Bagian akhir surat ini membawa kita pada visualisasi kiamat yang disebut dengan istilah As-Shakhkhah (Suara yang memekakkan telinga).
Pelarian dari Keluarga Terdekat
Sahabat Muslim, pada hari itu Allah menggambarkan suasana yang sangat mencekam:
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. Abasa: 34-36)
Mengapa manusia lari? Karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri (Sya’nun yughnih). Mereka takut dituntut oleh keluarganya atas hak-hak yang dulu tidak terpenuhi di dunia. Di hari itu, wajah manusia terbagi dua:
- Wajah yang Berseri (Musfirah): Tertawa dan gembira karena melihat balasan amalnya.
- Wajah yang Berdebu (Ghabarah): Tertutup kegelapan karena kekufuran mereka.
Hadits Terkait Penghormatan Nabi kepada Ibn Ummi Maktum
Pasca turunnya Surat Abasa, Rasulullah SAW selalu memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Setiap kali bertemu, beliau membentangkan surbannya untuk diduduki Abdullah sambil berkata dengan nada hangat: “Selamat datang kepada orang yang karenanya Tuhanku telah menegurku.” (Tafsir Ibnu Katsir).
Bahkan, tercatat dalam sejarah bahwa ketika Nabi SAW pergi berperang, beliau beberapa kali mempercayakan Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi imam shalat di Madinah menggantikan posisi beliau. Inilah bukti nyata betapa Nabi SAW sangat mencintai dan menerima didikan Allah SWT.
Implementasi Tadabbur Surat Abasa bagi Sahabat Muslim
Bagaimana kita mengamalkan hikmah Surat Abasa di zaman modern ini?
- Adab Terhadap Pencari Ilmu: Jika Sahabat Muslim adalah seorang guru atau aktivis, dahulukan mereka yang antusias belajar, meskipun mereka bukan orang kaya atau berpengaruh.
- Jangan “Wajah Masam” pada Orang Lemah: Jangan biarkan penampilan fisik atau status sosial seseorang membuat kita bersikap dingin atau kasar.
- Tawadhu dengan Asal-Usul: Ingatlah kita berasal dari nuthfah. Tidak ada alasan untuk merasa lebih hebat dari orang lain.
- Tadabbur Rezeki: Setiap kali makan, sadarilah ada campur tangan Allah yang sangat rumit (hujan, tanah, tunas) di balik hidangan Anda.
Kesimpulan
Mempelajari Tafsir Surat Abasa menyadarkan kita bahwa agama ini tegak di atas prinsip keadilan spiritual. Allah menegur Rasul-Nya bukan karena Nabi berbuat dosa (karena Nabi maksum), melainkan untuk menetapkan standar dakwah bagi umatnya: bahwa orang yang tulus ingin bertaubat jauh lebih mulia daripada pemimpin dunia yang congkak.
Mari kita bersihkan hati dari sifat membeda-bedakan manusia. Jadikan setiap pertemuan kita dengan sesama mukmin sebagai kesempatan untuk memuliakan mereka yang dicintai oleh Allah SWT.
Sahabat Muslim, apakah penjelasan mengenai teguran penuh cinta dari Allah ini membuat Anda semakin bersemangat untuk memuliakan saudara seiman tanpa memandang status? Atau mungkin Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang kisah keberanian para sahabat Nabi yang memiliki keterbatasan fisik namun tetap gigih berjuang di jalan Allah?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar kedalaman makna Al-Qur’an, panduan hidup berkah, hingga tips perjalanan ibadah haji dan umroh yang mencerahkan hanya di umroh.co. Mari kita terus memperkaya iman dan wawasan kita agar setiap langkah hidup kita senantiasa dalam rida-Nya. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





