Penjelasan Surat Al-Infitar memberikan gambaran yang begitu dahsyat mengenai peristiwa kiamat, di mana keteraturan alam semesta yang selama ini kita saksikan akan berakhir dengan terbelahnya langit. Sahabat Muslim, pernahkah kita merenung sejenak, apa yang akan terjadi ketika bintang-bintang yang menghiasi malam tiba-tiba jatuh berserakan? Surah yang terdiri dari 19 ayat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah peringatan keras sekaligus pengingat kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang sering kali terlena oleh gemerlap dunia.
Sebagai bagian dari kelompok surah Makkiyah, Al-Infitar turun di periode Mekkah untuk memperkuat akidah dan keyakinan akan hari pembalasan. Melalui artikel ini, kita akan menyelami kedalaman makna setiap ayatnya, memahami bagaimana proses hancurnya alam semesta, dan mengapa Allah mempertanyakan ketaatan kita sebagai manusia.
Mengenal Surah Al-Infitar: Sebuah Gambaran Kosmik
Surah Al-Infitar adalah surah ke-82 dalam Al-Qur’an. Nama “Al-Infitar” sendiri diambil dari kata infatharat yang terdapat pada ayat pertama, yang berarti “terbelah”. Surah ini memiliki kaitan erat dengan Surah At-Takwir dan Surah Al-Mutaffifin dalam hal tema besar mengenai hari kiamat.
Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai kedahsyatan surah-surah ini:
“Barangsiapa yang ingin melihat hari kiamat seolah-olah ia melihatnya dengan mata kepala sendiri, maka hendaklah ia membaca ‘Idzasy syamsu kuwwirat’ (Surah At-Takwir), ‘Idzas samaa-un fatharat’ (Surah Al-Infitar), dan ‘Idzas samaa-un syaqqat’ (Surah Al-Insyiqaq).” (HR. Tirmidhi).
1. Ketika Langit Terbelah: Perubahan Total Alam Semesta
Sahabat Muslim, ayat-ayat awal dalam surah ini langsung membawa imajinasi kita pada kehancuran total elemen-elemen besar alam semesta. Allah SWT berfirman:
“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,” (QS. Al-Infitar: 1-4).
Tafsir Peristiwa Langit yang Terbelah (Infitar)
Kata infatharat mengacu pada pecahnya struktur langit yang selama ini kokoh tanpa retak. Langit yang biasanya menjadi pelindung bumi akan hancur lebur. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang abadi kecuali Sang Pencipta.
Jatuhnya Bintang-Bintang (Intitsaar)
Setelah langit terbelah, bintang-bintang yang tertata rapi di orbitnya akan kehilangan gaya gravitasi dan jatuh berserakan (intatsarat). Bayangkan Sahabat Muslim, benda-benda langit yang luar biasa besarnya itu berjatuhan tanpa arah.
Meluapnya Lautan
Lautan yang menutupi sebagian besar bumi akan dijadikan meluap. Para mufassir menjelaskan bahwa air laut yang asin dan tawar akan bercampur, atau air tersebut akan meluap hingga menutupi seluruh daratan, bahkan ada pendapat yang menyebutkan lautan akan mengeluarkan api.
2. Kebangkitan dari Alam Barzakh
Puncak dari rangkaian bencana alam tersebut adalah dibongkarnya kuburan-kuburan (bu’tsirat). Pada saat itulah, setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah ia kerjakan di dunia.
- Penyadaran Diri: Manusia akan melihat seluruh rekaman amal mereka, baik yang telah dilakukan di awal umur maupun yang ditinggalkan sebagai tradisi di akhir hayatnya.
- Kejelasan Nasib: Tidak ada lagi keraguan. Semua yang disembunyikan dalam hati akan tampak nyata di hadapan Allah SWT.
3. Teguran Allah: “Apa yang Telah Menipu Mu?”
Setelah menggambarkan kehancuran kiamat, Allah SWT beralih pada pertanyaan yang sangat menyentuh hati sanubari kita sebagai hamba. Sahabat Muslim, mari kita renungkan ayat ke-6:
“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih?”
Mengapa Kita Terpedaya?
Pertanyaan ini ditujukan kepada orang-orang kafir maupun mukmin yang lalai. Sering kali, sifat Allah yang Maha Pengasih (Al-Karim) justru disalahartikan. Kita sering merasa aman berbuat dosa karena berpikir Allah Maha Pengampun, padahal itu adalah tipu daya setan.
Beberapa hal yang sering menipu manusia antara lain:
- Harta dan jabatan yang dianggap abadi.
- Kesehatan yang membuat kita lupa akan kematian.
- Pujian manusia yang semu.
- Penundaan tobat karena merasa masih muda.
4. Keajaiban Penciptaan Manusia sebagai Bukti Kekuasaan
Allah SWT mengingatkan kita pada proses penciptaan diri kita sendiri di ayat 7 dan 8:
“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki-Nya, Dia menyusun tubuhmu.”
Sahabat Muslim, perhatikanlah tubuh kita. Allah menciptakan kita dengan simetri yang sempurna (dua mata, dua tangan, dua kaki) dan fungsi organ yang sangat kompleks. Kesempurnaan ini seharusnya membuat kita tunduk dan malu untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika Allah mampu menciptakan kita dari ketiadaan, tentu sangat mudah bagi-Nya untuk membangkitkan kita kembali di hari kiamat.
5. Keberadaan Malaikat Pencatat Amal (Kiraman Katibin)
Satu alasan mengapa manusia berani bermaksiat adalah karena mereka merasa tidak ada yang melihat. Namun, Surah Al-Infitar menegaskan keberadaan “pengawas” yang sangat setia.
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10-12).
Karakteristik Malaikat Kiraman Katibin:
- Hafizhin: Mereka adalah penjaga yang tidak pernah lalai sedetik pun.
- Kiraman: Mereka adalah makhluk yang mulia, tidak mungkin disuap atau berbohong dalam pencatatan.
- Katibin: Mereka menuliskan setiap detail kecil, mulai dari niat di hati hingga tindakan nyata.
Menyadari hal ini, seharusnya kita sebagai Sahabat Muslim merasa diawasi (muraqabah) sehingga lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak.
6. Pembagian Manusia di Akhirat: Al-Abrar vs Al-Fujjar
Di akhir surah, Allah mengklasifikasikan manusia menjadi dua kelompok besar berdasarkan amal perbuatannya:
Kelompok Al-Abrar (Orang-orang Baik)
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga) yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infitar: 13).
Al-Abrar adalah mereka yang jujur dalam keimanan dan konsisten dalam amal saleh. Surga Naim menjadi tempat peristirahatan abadi mereka.
Kelompok Al-Fujjar (Orang-orang Durhaka)
“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infitar: 14).
Al-Fujjar adalah mereka yang mendustakan hari pembalasan dan melanggar batasan-batasan Allah. Mereka akan masuk ke dalam neraka Jahim dan tidak akan pernah bisa keluar darinya.
7. Hari di Mana Tiada Jiwa yang Dapat Menolong Jiwa Lain
Penjelasan Surat Al-Infitar ditutup dengan penegasan bahwa pada hari kiamat, segala otoritas kembali kepada Allah semata.
” (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infitar: 19).
Di dunia, kita mungkin bisa mengandalkan koneksi, harta, atau keluarga untuk lepas dari masalah. Namun di akhirat, masing-masing orang akan sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan orang tua akan lari dari anaknya, dan suami akan lari dari istrinya. Hanya syafaat yang diizinkan Allah-lah yang dapat membantu.
Kesimpulan
Sahabat Muslim, Surah Al-Infitar adalah sebuah pengingat kosmik yang sangat kuat. Ia mengajarkan kita untuk:
- Meningkatkan Takwa: Selalu ingat bahwa setiap gerak-gerik kita dicatat oleh malaikat yang mulia.
- Mensyukuri Nikmat Fisik: Menggunakan tubuh yang telah Allah susun dengan sempurna ini untuk ketaatan, bukan kemaksiatan.
- Waspada Terhadap Tipu Daya: Jangan sampai kasih sayang Allah membuat kita meremehkan dosa.
- Mempersiapkan Bekal: Karena pada hari itu, hanya amal saleh dan rahmat Allah yang bisa menyelamatkan kita.
Dahsyatnya peristiwa terbelahnya langit ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri sebelum waktu kita di dunia berakhir.
Cari Tahu Lebih Banyak Tentang Islam di Umroh.co
Sahabat Muslim ingin memperdalam pemahaman agama, mencari tips kehidupan islami, atau merencanakan ibadah umroh dengan tenang? Jangan lewatkan artikel inspiratif lainnya!
👉 Baca Artikel Keislaman Menarik Lainnya di Umroh.co
Dapatkan informasi terbaru seputar tafsir Al-Qur’an, kisah inspiratif para nabi, hingga panduan praktis ibadah harian hanya di website kami. Mari terus bertumbuh dalam iman dan ilmu bersama Umroh.co!
Referensi:
- Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, Surah Al-Infitar.
- Tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab.
- Sahih Al-Bukhari & Muslim terkait Hari Kiamat.
- Kementerian Agama RI (Quran Kemenag).





