Tafsir Surat Al-Mutaffifin membuka mata kita tentang betapa Allah SWT sangat membenci ketidakjujuran, terutama dalam urusan muamalah atau jual beli yang menyangkut hak orang lain. Sahabat Muslim, pernahkah kita berpikir bahwa mencurangi timbangan meski hanya beberapa gram saja bisa menjadi tiket menuju lembah kecelakaan di akhirat kelak?
Surah yang terdiri dari 36 ayat ini merupakan salah satu surat yang unik karena turun di masa transisi antara Mekkah dan Madinah, membawa pesan moral yang sangat kuat tentang integritas seorang mukmin.
Melalui artikel ini, kita akan mentadabburi setiap rangkaian ayatnya, memahami siapa itu “Al-Mutaffifin”, dan mengapa ancaman bagi mereka begitu dahsyat. Mari kita selami lebih dalam agar kita terhindar dari sifat-sifat yang merugikan ini.
Siapakah Golongan Al-Mutaffifin Itu?
Secara bahasa, kata Al-Mutaffifin berasal dari kata thaffafa yang berarti sesuatu yang sedikit atau remeh. Namun, dalam konteks syariat, ini merujuk pada orang-orang yang mengurangi takaran atau timbangan secara licik.
Sahabat Muslim, mari kita perhatikan ayat 1 sampai 3 dalam surah ini:
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”
Karakteristik Si Curang
Berdasarkan ayat tersebut, ada dua ciri utama golongan ini:
- Egois dalam Hak: Saat mereka menjadi pembeli, mereka menuntut haknya dipenuhi secara sempurna tanpa kurang sedikit pun.
- Zalim dalam Kewajiban: Saat mereka menjadi penjual atau pemberi jasa, mereka dengan sengaja mengurangi timbangan atau kualitas untuk keuntungan pribadi.
Konteks Historis yang Nyata
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, penduduk kota tersebut adalah orang-orang yang paling buruk dalam hal takaran dan timbangan. Lantas Allah SWT menurunkan surat ini. Setelah itu, penduduk Madinah menjadi orang-orang yang paling jujur dalam berniaga (Tafsir Ibnu Katsir). Ini menunjukkan bahwa kejujuran adalah pilar utama dalam membangun ekonomi masyarakat Islam yang berkah.
Sijjin: Penjara Gelap Bagi Para Pendusta
Allah SWT tidak main-main dalam memberikan peringatan. Bagi mereka yang gemar berbuat curang dan mendustakan hari pembalasan, Allah telah menyiapkan sebuah tempat bernama Sijjin.
“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan amal orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.” (QS. Al-Mutaffifin: 7).
Apa itu Sijjin?
Sahabat Muslim, para ulama tafsir menjelaskan bahwa Sijjin berasal dari kata sijn yang berarti penjara. Namun, dalam konteks ini, Sijjin memiliki makna yang lebih dalam:
- Tempat Terbawah: Letaknya berada di bumi yang ketujuh, tempat yang paling sempit dan gelap.
- Buku Catatan Hitam: Sijjin juga merujuk pada nama kitab atau daftar yang mencatat seluruh perbuatan buruk orang-orang kafir dan durhaka secara permanen (Kitabun Marqum).
Bayangkan betapa sesaknya jiwa seseorang yang amalnya tercatat di tempat yang penuh kehinaan ini. Hal ini terjadi karena mereka menganggap remeh hari kebangkitan dan menganggap Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.
Bahaya “Ar-Ran”: Ketika Hati Mulai Berkarat
Salah satu bagian yang paling menggetarkan hati dalam Surah Al-Mutaffifin adalah penjelasan mengenai penutup hati. Sahabat Muslim, mengapa ada orang yang sudah diingatkan berkali-kali namun tetap saja berbuat curang? Jawabannya ada pada ayat ke-14:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Mengenal Fenomena Hati yang Berkarat (Ar-Ran)
Rasulullah SAW menjelaskan fenomena ini dalam sebuah hadits yang sangat populer:
“Sesungguhnya seorang mukmin, jika dia melakukan satu dosa, maka akan ada satu titik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti, dan beristighfar, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika dosanya bertambah, maka titik hitam itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ‘Ran’ yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.” (HR. Tirmidzi & Nasai).
Pelajaran bagi kita:
- Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus (seperti curang sedikit dalam timbangan) akan menumpuk.
- Lama-kelamaan, hati menjadi keras dan mati rasa terhadap kebenaran.
- Orang yang hatinya tertutup Ran akan merasa bahwa kemaksiatan adalah hal yang wajar.
Kabar Gembira Bagi Al-Abrar di Illiyyin
Setelah menceritakan nasib orang durhaka, Allah SWT memberikan oase kesejukan dengan menceritakan golongan Al-Abrar (orang-orang yang berbakti).
“Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.” (QS. Al-Mutaffifin: 18).
Kemuliaan di Sisi Allah
Berbanding terbalik dengan Sijjin, Illiyyin berada di tempat yang paling tinggi, yaitu di bawah Arsy Allah. Sahabat Muslim, inilah balasan bagi mereka yang menjaga amanah dan kejujuran:
- Minuman Khusus: Mereka akan diberi minum dari Rahiqim Makhtum (khamar murni yang dilak), yang aromanya adalah kasturi.
- Memandang Wajah Allah: Inilah puncak kenikmatan yang tidak bisa dibayangkan oleh akal manusia.
- Dipan-dipan Kemuliaan: Mereka beristirahat di atas dipan sambil memandang keindahan surga yang tak bertepi.
Relevansi Surah Al-Mutaffifin di Era Digital
Mungkin kita berpikir, “Saya bukan pedagang pasar, jadi saya aman dari dosa ini.” Tunggu dulu, Sahabat Muslim. Di zaman modern, perilaku Tatfif (curang) bisa bertransformasi dalam berbagai bentuk:
- Dalam Pekerjaan: Datang terlambat dan pulang lebih awal namun menuntut gaji penuh. Ini adalah bentuk pengurangan “timbangan” waktu.
- Jualan Online: Mengedit foto produk secara berlebihan hingga sangat berbeda dengan aslinya, atau menyembunyikan cacat barang.
- Timbangan Digital: Mengakali timbangan digital agar berat yang tertera tidak sesuai dengan kenyataan.
- Tugas dan Kewajiban: Sebagai pelajar atau mahasiswa yang menyontek, itu adalah bentuk kecurangan terhadap proses yang seharusnya jujur.
Surah ini mengajarkan kita bahwa kejujuran bukan soal nominal, tapi soal keberkahan. Apa gunanya untung seribu rupiah namun harus dibayar dengan kehancuran di Sijjin?
Penutup
Sahabat Muslim, Surah Al-Mutaffifin bukan sekadar ancaman, melainkan bimbingan kasih sayang dari Allah agar kita selamat. Kejujuran memang berat di awal, namun ia memberikan ketenangan yang luar biasa. Saat kita jujur, Allah akan mencukupi rezeki kita dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Hikmah Utama yang Bisa Kita Ambil:
- Tanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat (Al-Bashir) setiap transaksi yang kita lakukan.
- Ingatlah bahwa setiap gram yang kita kurangi akan dipertanggungjawabkan di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat.
- Segeralah bertaubat jika pernah melakukan kecurangan, dan kembalikan hak orang lain jika memungkinkan.
Perdalam Ilmu Keislaman Sahabat di Umroh.co
Memahami tafsir Al-Qur’an adalah langkah awal untuk memperbaiki kualitas ibadah kita. Sahabat Muslim ingin mendapatkan lebih banyak asupan rohani, tips islami harian, hingga info perjalanan ibadah yang amanah?
Jangan lewatkan beragam artikel menarik lainnya yang akan menambah wawasan keislaman Sahabat. Mulai dari panduan doa, kisah nabi yang inspiratif, hingga tips gaya hidup muslim modern.
👉 Klik di sini untuk membaca artikel Keislaman lainnya di Umroh.co
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari sifat curang dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang jujur serta istiqomah di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Referensi Sahih:
- Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim karya Imam Ibnu Katsir.
- Tafsir Al-Azhar karya Prof. Dr. Hamka.
- Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasai tentang noda hitam di hati.
- Tafsir Jalalain (Imam Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi).




