Makna Surat Al-Inshiqaq memberikan kita gambaran yang sangat menggetarkan jiwa tentang bagaimana seluruh alam semesta, termasuk langit yang luas, menunjukkan kepatuhan mutlak kepada Sang Pencipta saat hari kiamat tiba. Sahabat Muslim, pernahkah kita merenungkan betapa megahnya langit yang kita pandang setiap hari?
Namun, di balik kemegahan itu, ia adalah makhluk yang sangat tunduk. Surah ke-84 dalam Al-Qur’an ini bukan sekadar berita tentang kehancuran alam semesta, melainkan sebuah pesan tentang tanggung jawab setiap jiwa manusia di hadapan Allah SWT.
Sebagai surah Makkiyah yang terdiri dari 25 ayat, Al-Inshiqaq turun untuk memperkuat keimanan penduduk Mekkah (dan kita semua) terhadap hari kebangkitan. Mari kita selami lebih dalam setiap tetes hikmah yang terkandung di dalamnya dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.
1. Kepatuhan Langit dan Bumi: Sebuah Teladan Bagi Manusia
Sahabat Muslim, surah ini dibuka dengan pemandangan kosmik yang luar biasa. Allah SWT berfirman:
“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh,” (QS. Al-Inshiqaq: 1-2).
Mengapa Langit Terbelah?
Kata Inshiqaq sendiri berarti “terbelah”. Langit yang selama ini kita lihat sebagai kubah yang kokoh tanpa retak, pada hari itu akan kehilangan kekuatannya. Namun, hal yang paling menarik di sini adalah penggunaan kata adzina yang berarti “mendengarkan dan patuh”.
- Kepatuhan Tanpa Syarat: Langit tidak punya pilihan selain patuh. Ia menyadari bahwa ia hanyalah makhluk ciptaan Allah.
- Sindiran Untuk Manusia: Di sini Allah secara halus menyindir manusia. Langit yang begitu besar saja patuh kepada-Nya, lalu mengapa kita manusia yang kecil sering kali sombong dan enggan tunduk pada perintah-Nya?
Bumi yang Meratakan Dirinya
Setelah langit, bumi pun menyusul dalam kepatuhan:
“Dan apabila bumi diratakan, dan melemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh.” (QS. Al-Inshiqaq: 3-5).
Bumi akan mengeluarkan seluruh isi perutnya, termasuk jasad-jasad manusia yang telah terkubur berabad-abad, seolah-olah bumi ingin melepaskan semua beban untuk menghadap Allah dalam keadaan “kosong” dan murni.
2. Hakikat Perjalanan Manusia Menuju Allah
Sahabat Muslim, ayat ke-6 surah ini adalah salah satu ayat yang paling mendalam maknanya bagi kehidupan kita sehari-hari:
“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya.”
Kelelahan yang Berujung Pertemuan
Hidup ini adalah sebuah kadh atau kerja keras yang melelahkan. Baik orang baik maupun orang jahat, semuanya lelah dalam menjalani hidup ini. Namun, perbedaannya terletak pada tujuan kelelahan tersebut:
- Kelelahan dalam Ketaatan: Akan berbuah manis saat bertemu Allah dalam keadaan ridha dan diridhai.
- Kelelahan dalam Maksiat: Akan berujung pada penyesalan yang tak berkesudahan.
Poin pentingnya adalah: tidak ada satu pun manusia yang bisa lari dari pertemuan dengan Tuhannya. Kita semua sedang berjalan menuju satu titik yang sama.
3. Rahasia Penyerahan Catatan Amal: Kanan vs Belakang
Setelah kebangkitan, terjadilah momen yang paling menentukan nasib setiap manusia: pembagian buku rapor kehidupan.
Golongan Kanan (Ashabul Yamin)
“Adapun orang yang catatan amalnya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Inshiqaq: 7-9).
Sahabat Muslim, yang dimaksud dengan “pemeriksaan yang mudah” (hisaban yasira) adalah al-ardh, yaitu hanya ditunjukkan amalnya tanpa didebat atau dihisab secara detail. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang didebat (diperinci) hisabnya, niscaya ia akan binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Golongan dari Belakang Punggung
Mengapa “dari belakang punggung” dan bukan “dari sebelah kiri”? Para mufassir menjelaskan bahwa karena saking hinanya, tangan kiri mereka dibelenggu ke belakang punggung, sehingga mereka menerima kitabnya dengan cara yang sangat menyulitkan dan memalukan. Mereka akan berteriak, “Celakalah aku!” dan akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.
4. Analisis Mengapa Manusia Menjadi Durhaka
Allah SWT mengungkap akar permasalahan mengapa seseorang bisa menjadi begitu durhaka hingga mengabaikan peringatan-Nya.
- Terlalu Senang dengan Maksiat: “Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).” (Ayat 13). Mereka merasa aman dan puas dengan kelezatan dunia yang semu.
- Merasa Tidak Akan Kembali: “Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (Ayat 14). Inilah penyakit utama: mengingkari adanya hari pembalasan.
Sahabat Muslim, sifat merasa aman dari azab Allah adalah salah satu jebakan setan yang paling berbahaya. Kita harus selalu menyeimbangkan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’).
5. Sumpah Allah dan Tahapan Kehidupan (At-Thabaq)
Salah satu keindahan sastra Al-Qur’an dalam surah ini adalah sumpah Allah dengan fenomena alam:
“Maka Aku bersumpah demi cahaya kemerah-merahan di waktu senja, demi malam dan apa yang diselubunginya, demi bulan apabila jadi purnama, sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Inshiqaq: 16-19).
Apa Makna “Tingkat Demi Tingkat”?
Istilah Thabaqan ‘an thabaq memiliki beberapa tafsir yang sangat relevan bagi kita:
- Fase Kehidupan: Dari nuthfah, janin, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, hingga mati.
- Transisi Alam: Dari alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, hingga alam akhirat.
- Kondisi di Akhirat: Dari kiamat, kebangkitan, mahsyar, hingga surga atau neraka.
Pesan moralnya jelas: Sahabat Muslim, hidup ini tidak statis. Segala sesuatu berubah, dan perubahan itu membawa kita semakin dekat pada akhir perjalanan.
Mengapa Mereka Tidak Mau Beriman?
Di bagian akhir surah, Allah bertanya dengan nada keheranan: “Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud.”
Ayat ke-21 ini adalah ayat Sajdah, di mana kita disunnahkan untuk bersujud (Sujud Tilawah) sebagai bentuk pengakuan bahwa kita berbeda dengan orang-orang kafir yang sombong. Kita adalah hamba yang tunduk dan patuh, sebagaimana langit dan bumi patuh kepada penciptanya.
Kesimpulan
Sahabat Muslim, dari Makna Surat Al-Inshiqaq ini kita belajar bahwa kepatuhan adalah kunci keselamatan. Alam semesta sudah memberikan contoh terbaik bagi kita. Langit terbelah karena patuh, bumi merata karena patuh. Lalu, bagaimana dengan hati kita?
Berikut adalah rangkuman hikmah yang bisa kita bawa pulang:
- Jadilah hamba yang sadar bahwa setiap langkah kaki kita adalah perjalanan menuju Allah.
- Usahakan sekuat tenaga agar catatan amal kita diterima dengan tangan kanan melalui perbanyak amal jariyah dan taubat.
- Jangan pernah merasa aman dari dosa, karena setiap tahapan kehidupan memiliki tantangannya sendiri.
- Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama agar kita tidak tersesat dalam kebahagiaan dunia yang menipu.
Semoga Allah SWT memudahkan hisab kita dan mengumpulkan kita bersama keluarga tercinta di dalam surga-Nya yang seluas langit dan bumi. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Dalami Kekayaan Ilmu Islam Lainnya Hanya di Umroh.co
Sahabat Muslim, mempelajari tafsir Al-Qur’an adalah perjalanan tanpa akhir yang penuh keberkahan. Jangan biarkan semangat belajar ini berhenti di sini. Ingin tahu lebih banyak tentang rahasia surah-surah lain atau tips praktis menjalani kehidupan sesuai sunnah?
Website Umroh.co hadir sebagai sahabat setia Sahabat Muslim dalam menyajikan informasi keislaman yang akurat, menyejukkan, dan menginspirasi. Dapatkan panduan ibadah, artikel hikmah, hingga informasi persiapan umroh dan haji yang terpercaya.
👉 Klik di sini untuk membaca koleksi artikel Islami terbaru di Umroh.co
Mari kita terus memperkaya diri dengan ilmu agar iman semakin kokoh dan ibadah semakin bermakna. Sampai jumpa di artikel inspiratif lainnya!
Referensi & Rujukan:
- Tafsir Al-Misbah – Prof. Dr. M. Quraish Shihab.
- Tafsir Ibnu Katsir – Imam Ibnu Katsir (Ringkasan Syekh Ahmad Syakir).
- Shahih Bukhari & Muslim (Hadits tentang Hisab).
- Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya – Kementerian Agama Republik Indonesia.




