Tadabbur Surat Ar-Rahman adalah kunci utama bagi setiap mukmin untuk memahami betapa luasnya hamparan kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu di langit dan di bumi, sekaligus menjadi tamparan halus bagi jiwa-jiwa yang sering kali lupa bersyukur. Surat ke-55 dalam Al-Qur’an ini sering dijuluki sebagai ’Arus Al-Qur’an (Pengantin Al-Qur’an) karena keindahan gaya bahasanya yang puitis dan simetris. Namun, di balik keindahan rima ayat-ayatnya, tersimpan sebuah peringatan yang diulang sebanyak 31 kali: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Sahabat Muslim, pernahkah Anda merenungkan mengapa Allah perlu mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali dalam satu surat? Apakah ini hanya sekadar gaya bahasa, atau ada rahasia besar di balik angka 31 tersebut? Mari kita bedah tuntas tadabbur surat yang penuh kasih sayang ini agar kita tidak lagi termasuk dalam golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya.
Mengenal Ar-Rahman: Sifat Allah yang Mendahului Segalanya
Surat ini dibuka dengan satu kata yang sangat agung: “Ar-Rahman” (Yang Maha Pengasih). Ini adalah satu-satunya surat yang dibuka dengan nama Allah tanpa didahului oleh kata pengantar lain. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh isi surat ini adalah manifestasi dari sifat kasih sayang Allah.
Allah SWT berfirman dalam pembukaan surat ini:
” (Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman: 1-4)
Urutan Nikmat: Ilmu Sebelum Penciptaan
Sahabat Muslim, perhatikan betapa menakjubkannya urutan ayat ini. Allah menyebutkan “Mengajarkan Al-Qur’an” sebelum “Menciptakan manusia”. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ini menunjukkan nikmat ilmu dan hidayah jauh lebih tinggi kedudukannya daripada nikmat keberadaan fisik kita di dunia. Tanpa Al-Qur’an sebagai panduan, keberadaan manusia hanyalah seumpama makhluk yang berjalan tanpa arah.
Rahasia Angka 31: Mengapa Harus Diulang Sebanyak Itu?
Pertanyaan “Fabiayyi ala’i Rabbikuma Tukadzdziban” diulang sebanyak 31 kali. Ini adalah bentuk Taukid (penegasan) yang sangat kuat. Dalam tradisi bahasa Arab, pengulangan digunakan untuk menetapkan sebuah kebenaran di dalam hati pendengarnya agar tidak ada ruang untuk mengelak.
Pembagian 31 Pengulangan Menurut Para Ulama
Sebagian ulama tafsir, termasuk Imam Al-Kirmani, membagi pengulangan ini ke dalam beberapa bagian yang sangat sistematis. Pembagian ini membantu kita memahami struktur logika di balik “curahan” nikmat Allah.
| Kelompok Pengulangan | Frekuensi | Konteks Ayat yang Mendahuluinya |
|---|---|---|
| Kelompok Pertama | 8 Kali | Penjelasan tentang keajaiban penciptaan alam semesta dan nikmat dunia. |
| Kelompok Kedua | 7 Kali | Penjelasan tentang ancaman neraka dan hari pembalasan (sebagai peringatan). |
| Kelompok Ketiga | 8 Kali | Penjelasan tentang surga pertama (puncak tertinggi bagi orang yang takut pada-Nya). |
| Kelompok Keempat | 8 Kali | Penjelasan tentang surga kedua (tingkatan di bawahnya namun tetap penuh nikmat). |
Sahabat Muslim, perhatikan totalnya. 8 + 7 + 8 + 8 = 31. Ada hikmah menarik di sini: jumlah pengulangan setelah menyebutkan neraka adalah 7 (sesuai jumlah pintu neraka), sedangkan pengulangan lainnya berkaitan dengan nikmat dan surga berjumlah 24 (8+8+8), yang jika dijumlahkan menunjukkan kasih sayang Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya.
Tadabbur Ayat: Keseimbangan Alam dan Larangan Berbuat Zalim
Setelah menyebutkan penciptaan, Allah menekankan pentingnya keseimbangan (Mizan).
“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9)
Sahabat Muslim, ayat ini bukan hanya bicara soal timbangan di pasar. Ini adalah perintah untuk menjaga ekosistem alam, menjaga keadilan dalam hukum, hingga menjaga keseimbangan dalam diri kita sendiri antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Mendustakan nikmat sering kali dimulai dari perilaku kita yang merusak “keseimbangan” yang telah Allah ciptakan dengan sempurna.
Dialog Rasulullah dengan Bangsa Jin Tentang Ar-Rahman
Ada sebuah kisah menarik yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi mengenai bagaimana seharusnya kita merespons surat ini. Suatu hari, Rasulullah SAW membacakan Surat Ar-Rahman kepada para sahabat, namun mereka semua diam mendengarkan dengan khusyuk.
Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Mengapa kalian diam saja? Sungguh, bangsa jin memiliki respons yang lebih baik daripada kalian. Setiap kali aku sampai pada ayat ‘Fabiayyi ala’i Rabbikuma Tukadzdziban’, mereka menjawab: ‘La bi syay’in min ni’amika Rabbana nukadzdzibu falakal hamdu’ (Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan, maka bagi-Mu segala puji).” (HR. Tirmidzi no. 3291).
Pelajaran bagi Kita:
Setiap kali Sahabat Muslim mendengar atau membaca ayat pengulangan tersebut, hadirkanlah jawaban bangsa jin tersebut di dalam hati. Akui nikmat-Nya, puji asma-Nya, dan jangan biarkan lisan kita kelu untuk bersyukur.
Mengapa Kita Sering Mendustakan Nikmat?
Mendustakan nikmat tidak selalu berarti murtad. Ada “pendustaan kecil” yang sering kita lakukan tanpa sadar:
- Fokus pada Kekurangan: Kita memiliki 99 nikmat, namun kita menangisi 1 hal yang hilang. Ini adalah bentuk pendustaan terhadap 99 hal lainnya.
- Atribusi yang Salah: Merasa sukses karena kecerdasan sendiri, bukan karena taufik dari Allah (seperti karakter Qarun).
- Mengeluh dalam Ketaatan: Merasa berat menjalankan ibadah seolah-olah ibadah tersebut adalah beban, padahal ibadah adalah nikmat hidayah yang tak ternilai.
Keindahan Deskripsi Surga dalam Ar-Rahman
Dalam Tadabbur Surat Ar-Rahman, kita diajak bertamasya secara spiritual melihat kemegahan surga. Allah mendeskripsikan mata air yang memancar, buah-buahan yang mudah dipetik, hingga bidadari-bidadari yang suci.
Allah berfirman: “Di dalam kedua surga itu ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (QS. Ar-Rahman: 68)
Penyebutan kurma dan delima secara khusus setelah kata “buah-buahan” menunjukkan keistimewaan keduanya. Secara ilmiah pun, kita tahu betapa besar manfaat medis dari kedua buah ini. Allah memberikan kita “sampel” kenikmatan surga melalui apa yang bisa kita temukan di dunia.
Implementasi Syukur: Cara Menjadi Hamba yang Tidak Mendustakan
Bagaimana cara praktis agar kita selamat dari ancaman “pendusta nikmat”?
- Zikir Pagi dan Petang: Jangan lewatkan kalimat “Alhamdulillah”. Rasulullah bersabda bahwa kalimat ini memenuhi timbangan amal.
- Audit Nikmat: Luangkan waktu 5 menit sebelum tidur untuk menuliskan atau mengingat 3 nikmat yang Anda terima hari ini yang sering Anda anggap remeh (seperti napas yang lega atau air minum yang bersih).
- Berbagi kepada Sesama: Bukti bahwa kita tidak mendustakan nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakat dan sedekah.
- Menjaga Lingkungan: Karena Ar-Rahman bicara tentang keseimbangan alam, maka menjaga kebersihan bumi adalah bagian dari syukur kita.
Kesimpulan
Tadabbur Surat Ar-Rahman adalah perjalanan untuk menyadarkan kita bahwa kita sedang “tenggelam” dalam samudera nikmat-Nya. Pengulangan ayat sebanyak 31 kali bukanlah tanpa alasan; ia adalah alarm bagi hati yang mulai mati rasa terhadap kebaikan Tuhan. Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan pengulangan itu adalah bentuk kesabaran Allah dalam menunggu hamba-Nya kembali bersyukur.
Jangan biarkan hari ini berlalu tanpa Anda mengakui satu saja nikmat Allah yang selama ini Anda lupakan. Jadilah hamba yang pandai berterima kasih, karena janji Allah sangat nyata: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah (nikmat-Ku) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Sahabat Muslim, apakah Anda merasa hati Anda lebih tenang dan damai setelah meresapi keindahan kasih sayang Allah dalam Surat Ar-Rahman? Atau mungkin Anda ingin melihat langsung kebesaran Allah melalui perjalanan spiritual ke tanah suci di mana setiap doa dan syukur berlipat ganda pahalanya?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar rahasia keberkahan hidup, tafsir ayat-ayat pilihan, hingga panduan lengkap ibadah yang menyejukkan hati hanya di umroh.co. Mari kita terus belajar dan bertumbuh menjadi pribadi muslim yang lebih baik setiap harinya. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





