Pernahkah Sahabat Muslim merasa sesak di dada saat melihat foto Ka’bah, merindukan aroma kain kiswah, namun seketika tersadar bahwa saldo tabungan saat ini seolah masih jauh dari kata cukup? Pembiayaan Umrah Syariah hadir sebagai oase bagi Sahabat yang sudah sangat terpanggil untuk bersujud di depan Baitullah namun ingin tetap menjaga kesucian harta dari jeratan bunga yang meresahkan jiwa.
Mungkin ada rasa cemas yang menyelinap, “Apakah berutang untuk Umrah itu diperbolehkan?” atau “Bagaimana jika skemanya justru memberatkan?”. Mari kita tarik napas dalam-dalam, tenangkan pikiran, dan duduk sejenak. Kita akan bahas bersama bagaimana cara menjemput undangan Allah ini melalui jalan yang amanah, transparan, dan tentunya mendatangkan ketenangan batin (self-healing) karena bebas dari unsur riba.
Mengenal Lebih Dekat: Apa Itu Pembiayaan Umrah Syariah?
Sahabat Muslim, dalam ekonomi Islam, pembiayaan untuk ibadah biasanya menggunakan akad Ijarah Multijasa atau Murabahah. Berbeda dengan kredit konvensional yang mengandalkan bunga (riba), pembiayaan berbasis syariah mengedepankan prinsip jual beli jasa atau manfaat.
Artinya, lembaga keuangan syariah membeli paket umrah dari travel, lalu menjualnya kembali kepada Sahabat dengan margin keuntungan yang disepakati di awal. Harganya tetap, cicilannya pasti, dan tidak ada denda yang terus menggulung. Allah SWT memberikan tuntunan indah dalam Al-Qur’an:
“…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275)
Dengan prinsip ini, Sahabat tidak perlu merasa terbebani secara spiritual. Sahabat sedang melakukan transaksi dagang yang halal untuk memenuhi kebutuhan spiritual yang agung.
Mengapa Memilih Jalur Syariah Bisa Menenangkan Hati?
Memilih Pembiayaan Umrah Syariah bukan hanya soal teknis perbankan, tapi soal menjaga keistiqomahan hati. Berikut adalah alasan mengapa skema ini terasa lebih menyejukkan:
- Kepastian Biaya: Tidak ada kenaikan cicilan di tengah jalan akibat fluktuasi suku bunga.
- Tanpa Riba: Hati menjadi tenang karena proses keberangkatan tidak tercampur dengan sesuatu yang dilarang.
- Proteksi Asuransi Syariah: Biasanya sudah termasuk perlindungan yang dikelola secara tolong-menolong (Takaful).
- Pendampingan Ibadah: Lembaga keuangan syariah umumnya bekerja sama dengan travel yang memiliki rekam jejak amanah.
4 Langkah Praktis Mengajukan Pembiayaan Umrah Syariah
Bagi Sahabat Muslim yang sudah tak sabar ingin mencium hajar aswad, berikut adalah panduan langkah demi langkah yang bisa Sahabat tempuh:
1. Memilih Lembaga Keuangan Syariah yang Amanah
Langkah pertama adalah memilih bank syariah atau lembaga pembiayaan syariah yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan diawasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI). Pilihlah yang memiliki layanan khusus umrah dengan proses yang memudahkan, bukan mempersulit.
2. Memilih Paket dari Travel Rekanan
Biasanya, bank sudah bekerja sama dengan travel umrah terpercaya. Sahabat bisa memilih paket yang sesuai dengan kemampuan cicilan bulanan. Ingat, pilihlah yang “masuk akal”, jangan memaksakan diri di luar kemampuan finansial agar ibadah nanti tidak terganggu oleh pikiran cicilan di tanah air.
3. Melengkapi Dokumen dengan Niat yang Lurus
Persiapkan dokumen standar seperti KTP, Kartu Keluarga, dan bukti penghasilan. Saat mengumpulkan dokumen ini, bisikkan dalam hati: “Ya Allah, ini adalah ikhtiarku untuk bertamu ke rumah-Mu. Mudahkanlah.” Percayalah, niat yang tulus akan membukakan jalan yang tak disangka-sangka.
4. Akad yang Transparan dan Menenangkan
Di sinilah momen pentingnya. Sahabat akan melakukan akad di depan petugas bank. Pastikan Sahabat memahami berapa margin yang diambil bank dan berapa cicilan tetapnya. Dalam Islam, kejelasan di awal adalah kunci keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Allah merahmati orang yang mudah (baik hati) ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih utang.” (HR. Bukhari)
Menata Mental: Berangkat Umrah dengan Jiwa yang Ringan
Mungkin muncul pertanyaan, “Bolehkah berangkat ibadah dengan berutang?”. Sahabat Muslim, para ulama berpendapat bahwa selama Sahabat memiliki penghasilan yang pasti untuk melunasinya dan tidak mengganggu kebutuhan pokok keluarga, maka hal tersebut diperbolehkan.
Anggaplah cicilan ini sebagai cara Sahabat “menabung secara paksa” namun sudah bisa merasakan nikmatnya ibadah terlebih dahulu. Ini adalah bentuk self-healing yang luar biasa; menyembuhkan kerinduan jiwa yang teramat dalam dengan segera, tanpa harus menunggu bertahun-tahun hingga tabungan terkumpul penuh.
Tips Menjaga Keberkahan Pembiayaan Umrah
Agar perjalanan ini benar-benar membawa perubahan positif bagi hidup Sahabat, perhatikan hal berikut:
- Ukur Kemampuan: Pastikan cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan bulanan.
- Tetap Tawakal: Setelah mengajukan, serahkan hasilnya kepada Allah. Jika disetujui, itu adalah undangan-Nya. Jika belum, mungkin Allah ingin Sahabat bersiap lebih matang lagi.
- Doa di Setiap Cicilan: Setiap kali membayar cicilan, jadikan itu sebagai sarana zikir dan syukur karena telah diizinkan menjadi tamu Allah.
Kesimpulan
Memahami Pembiayaan Umrah Syariah membuka cakrawala baru bahwa keterbatasan dana saat ini bukanlah penghalang permanen untuk sampai ke Baitullah. Dengan skema yang adil, tanpa bunga, dan penuh transparansi, Sahabat bisa berangkat dengan hati yang plong dan pulang membawa predikat umrah yang mabrur.
Ketenangan batin dimulai saat kita berani mengambil langkah nyata di atas jalan yang diridhai-Nya. Jangan biarkan keraguan memadamkan api kerinduan Sahabat untuk bersujud di depan Ka’bah.
Ingin mendapatkan informasi lebih detail mengenai pilihan travel umrah yang bekerja sama dengan pembiayaan syariah, tips manasik yang menenangkan, atau artikel inspiratif lainnya seputar kehidupan Muslim? Yuk, luangkan waktu sejenak untuk membaca koleksi artikel bermanfaat lainnya di umroh.co. Temukan segala bimbingan spiritual yang akan menemani perjalanan hijrah Sahabat menuju kehidupan yang lebih tenang dan berkah!
Semoga Allah memudahkan langkah kaki Sahabat Muslim untuk segera bertamu ke Baitullah. Amin.




