Makna Surat Al-Humazah merupakan peringatan yang sangat keras dan tajam dari Allah SWT mengenai perilaku buruk manusia yang sering menganggap remeh urusan lisan serta terjebak dalam obsesi mengumpulkan harta benda secara berlebihan. Surat ke-104 dalam mushaf Al-Qur’an ini diturunkan di Makkah (Makkiyah) untuk memotret realitas sosial yang rusak, di mana nilai seorang manusia hanya diukur dari timbangan kekayaan, sementara kehormatan orang lain dijatuhkan melalui celaan dan cacian. Bagi kita, mendalami isi surat ini bukan sekadar untuk menghafal ayatnya, melainkan sebagai upaya “detoksifikasi” hati agar tidak terjangkit penyakit kesombongan dan kikir yang membinasakan.
Sahabat Muslim, di era media sosial saat ini, perilaku mencela (Humazah) dan mengejek (Lumazah) menjadi sangat mudah dilakukan hanya melalui ketukan jari. Mari kita tadabburi setiap ayatnya untuk memahami mengapa Allah menjanjikan azab yang begitu mengerikan bagi mereka yang gemar menghina dan menumpuk harta tanpa mempedulikan hak sesama.
Latar Belakang dan Asbabun Nuzul: Cermin Kezaliman Jahiliyah
Memahami Makna Surat Al-Humazah tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah di Makkah saat Islam mulai didakwahkan. Para mufassir menyebutkan bahwa surat ini turun sebagai respons terhadap tokoh-tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Rasulullah SAW dengan cara-cara yang rendah.
Musuh-Musuh yang Gemar Mencela
Beberapa riwayat menyebutkan tokoh seperti Al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, atau Al-Ash bin Wa’il sebagai sebab turunnya surat ini. Mereka adalah orang-orang kaya raya yang merasa bahwa dengan harta mereka, mereka berhak merendahkan martabat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang miskin seperti Bilal bin Rabah atau Ammar bin Yasir. Mereka mengejek dakwah Nabi di hadapan publik dan berbisik-bisik di belakang dengan penuh kebencian.
Pelajaran bagi kita hari ini adalah bahwa karakter “pendusta” atau “pencela” ini tidak pernah mati; ia hanya berganti rupa sesuai dengan perkembangan zaman.
Bedah Ayat demi Ayat: Menyelami Kedalaman Tafsir
Sahabat Muslim, mari kita perhatikan untaian firman Allah dalam Surat Al-Humazah dan membedah maknanya berdasarkan tafsir para ulama kredibel seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi.
1. Celakalah Para Pencela (Ayat 1)
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
Allah memulai surat ini dengan kata “Wail” (Celaka). Ini adalah kata ancaman yang sangat berat. Para ulama menyebutkan bahwa Wail juga merupakan nama sebuah lembah di neraka Jahannam yang sangat panas dan dalam.
- Humazah: Orang yang mencela dengan lisan atau tindakan secara terang-terangan.
- Lumazah: Orang yang mencela dengan isyarat mata, bisikan, atau di belakang punggung orang tersebut.
2. Obsesi terhadap Harta (Ayat 2)
“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”
Allah menyambungkan sifat pencela dengan sifat kikir. Mereka begitu sibuk mengumpulkan harta (Jama’a) dan terus-menerus menghitungnya (Addadah) karena rasa takut kehilangan. Mereka tidak mau menyedekahkannya di jalan Allah karena menganggap harta tersebut adalah hasil jerih payah sendiri.
3. Delusi Keabadian (Ayat 3)
“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”
Inilah penyakit mental yang paling berbahaya. Harta membuat seseorang merasa “abadi” (Akhladah). Mereka merasa dengan uang, mereka bisa membeli kesehatan, umur panjang, bahkan menghindari kematian. Mereka lupa bahwa harta adalah amanah yang akan ditinggalkan di liang lahat.
4. Dilemparkan ke dalam Hutamah (Ayat 4)
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah.”
Allah membantah keyakinan mereka dengan kata “Kalla” (Sekali-kali tidak!). Balasannya adalah Hutamah. Secara bahasa, Hutamah berarti sesuatu yang menghancurkan atau melumatkan apa pun yang masuk ke dalamnya hingga menjadi hancur berkeping-keping.
5. Api yang Menembus Jantung (Ayat 5-9)
“Dan tahukah kamu apa Hutamah itu? (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke jantung.”
Berbeda dengan api dunia, api Hutamah adalah “Narullah” (Api Allah). Ia membakar tidak hanya kulit, tapi menembus hingga ke ulu hati dan jantung (Al-Af’idah). Allah kemudian menutup surat ini dengan gambaran neraka yang tertutup rapat (Mu’shadah) dengan tiang-tiang yang tinggi, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk keluar.
Tabel: Perbandingan Antara Humazah dan Lumazah
Agar Sahabat Muslim lebih waspada, berikut adalah tabel perbedaan antara dua sifat buruk yang disebutkan di awal surat:
| Istilah | Cara Melakukan | Media yang Digunakan | Target Serangan |
|---|---|---|---|
| Humazah | Secara langsung (Terang-terangan) | Lisan, cacian, pukulan fisik | Menjatuhkan mental secara frontal |
| Lumazah | Secara tidak langsung (Sembunyi-sembunyi) | Isyarat mata, sindiran, ghibah, tulisan | Menghancurkan reputasi secara perlahan |
Bahaya Lidah: Ketika Lisan Menjadi Senjata
Dalam Makna Surat Al-Humazah, lisan menjadi perhatian utama. Rasulullah SAW sering mengingatkan kita bahwa keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018).
Sifat Humazah dan Lumazah saat ini banyak berpindah ke ranah digital dalam bentuk:
- Cyberbullying: Menghina orang lain di kolom komentar.
- Fitnah Online: Menyebarkan berita bohong untuk menjatuhkan kredibilitas orang lain.
- Sindiran Media Sosial: Membuat status yang ditujukan untuk merendahkan seseorang tanpa menyebut nama.
Fitnah Harta: Mengapa Menumpuk Kekayaan Menjadi Masalah?
Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Namun, yang dikecam dalam Makna Surat Al-Humazah adalah mentalitas “Jama’a wa ‘Addadah”.
Kapan Harta Menjadi Fitnah (Ujian)?
- Harta sebagai Tujuan Utama: Ketika orientasi hidup hanya mencari uang tanpa peduli halal-haram.
- Menunda Hak Allah: Memiliki banyak harta tapi enggan membayar zakat atau bersedekah.
- Kesombongan Sosial: Merasa lebih mulia dari orang lain karena memiliki merek mobil atau rumah yang lebih mewah.
Ingatlah hadits Nabi SAW: “Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham…” (HR. Bukhari no. 2887). Maksudnya adalah orang yang hatinya sudah tertawan oleh harta sehingga melupakan kewajibannya sebagai hamba.
Karakteristik Orang yang Diperingatkan dalam Al-Humazah
Berdasarkan tadabbur surat ini, terdapat poin-poin karakteristik yang harus kita hindari:
- Gemar mencari-cari kesalahan orang lain untuk ditertawakan.
- Merasa puas ketika berhasil mempermalukan orang lain.
- Sangat kikir dan menghitung-hitung pengeluaran untuk urusan agama.
- Percaya bahwa uang bisa menyelesaikan segala masalah, termasuk urusan dosa.
- Memiliki sifat sombong dan angkuh (Kibr).
Al-Hutamah: Gambaran Neraka yang Menghancurkan
Sahabat Muslim, mengapa api neraka ini membakar hingga ke jantung? Para ulama menjelaskan bahwa jantung adalah pusat dari segala niat, kesombongan, dan kekikiran. Karena dosa-dosa mereka bersumber dari hati yang busuk, maka Allah memberikan azab yang langsung menusuk ke pusat rasa sakit tersebut.
Kondisi neraka yang “Mu’shadah” (tertutup rapat) dengan tiang-tiang tinggi memberikan tekanan psikologis bahwa tidak ada lagi harapan untuk selamat. Ini adalah balasan bagi mereka yang di dunia menutup pintu rumah dan hatinya bagi orang-orang miskin.
Tips Menghindari Sifat Humazah dan Lumazah
Sebagai Sahabat Muslim yang ingin selamat, lakukanlah langkah praktis ini:
- Banyak Berzikir: Basahi lidah dengan kalimat tayyibah agar tidak ada ruang untuk mencela.
- Rutinkan Sedekah: Sedekah akan menghancurkan sifat kikir dan keinginan menumpuk harta.
- Self-Correction: Sebelum mengkritik orang lain, ingatlah kekurangan diri sendiri.
- Ziarah Kubur: Untuk mengingatkan kita bahwa harta yang kita hitung tidak akan masuk ke dalam kain kafan.
- Batasi Media Sosial: Hindari akun-akun gosip yang memicu kita untuk ikut mencela atau berkomentar buruk.
Kesimpulan
Memahami Makna Surat Al-Humazah adalah tamparan bagi ego kita. Allah mengingatkan bahwa lisan yang tajam dan harta yang melimpah tidak akan ada harganya jika tidak diiringi dengan kerendahan hati dan kedermawanan. Kita adalah hamba yang akan kembali kepada-Nya tanpa membawa apa pun kecuali amal shalih. Jangan biarkan lidah kita menjadi penyebab kita dilemparkan ke Hutamah, dan jangan biarkan harta kita menjadi belenggu yang menutup pintu surga.
Mari kita bersihkan lisan dari celaan dan kita bersihkan harta kita melalui zakat dan infaq.
Sahabat Muslim, apakah penjelasan mengenai bahaya lisan dan fitnah harta ini membuat Anda ingin lebih menjaga tutur kata setiap harinya? Atau mungkin Anda ingin mempelajari rahasia keberkahan harta menurut pandangan para sahabat Nabi yang kaya namun sangat dermawan?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar tafsir Al-Qur’an, panduan adab islami, hingga informasi perjalanan umroh yang penuh hikmah hanya di umroh.co. Mari perkaya iman dan wawasan kita setiap hari agar perjalanan hidup kita senantiasa dalam rida-Nya. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





