Hukum Suap (Risywah) adalah sebuah garis batas yang sering kali menjadi ujian bagi integritas dan ketenangan batin kita di tengah dunia yang serba ingin cepat ini.
Di saat kita terhimpit waktu dan keadaan, terkadang muncul bisikan untuk memberikan sedikit “uang pelicin” agar semua kerumitan segera sirna. Namun, sebelum Sahabat melangkah lebih jauh, mari kita duduk sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan pelajari bagaimana Islam memberikan tuntunan yang justru bisa menjadi self-healing bagi kegelisahan hati kita.
Apa Itu Risywah Sebenarnya?
Secara bahasa, Risywah berasal dari kata yang berarti “tali” yang digunakan untuk mengambil air di sumur. Dalam muamalah, risywah adalah pemberian sesuatu kepada pemegang otoritas dengan tujuan membatalkan yang hak atau memenangkan yang batil.
Bagi seorang pengusaha atau individu Muslim, memahami konsep ini bukan untuk membebani, melainkan untuk menjaga agar setiap langkah kita tidak meninggalkan noda hitam di hati. Ketika kita menjaga diri dari suap, kita sebenarnya sedang menjaga frekuensi kedamaian dalam jiwa kita agar tetap selaras dengan rida Allah SWT.
Landasan Langit: Mengapa Islam Sangat Tegas?
Sahabat Muslim, ketegasan Islam dalam masalah ini bukan tanpa alasan. Allah ingin setiap hamba-Nya mendapatkan haknya secara adil tanpa ada yang dizalimi.
1. Peringatan dalam Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 188:
”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ)
Ayat ini adalah pengingat lembut bahwa harta yang didapat dari jalan yang salah hanya akan membawa kegelisahan, bukan kebahagiaan sejati.
2. Sabda Rasulullah yang Menggetarkan Hati
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang cukup serius mengenai praktik ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, disebutkan:
”Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. At-Tirmidzi no. 1337).
Laknat di sini berarti dijauhkan dari rahmat Allah. Tentu kita tidak ingin urusan kita cepat selesai di dunia, namun di saat yang sama kita justru menjauh dari kasih sayang-Nya, bukan?
3 Kondisi yang Sering Membuat Hati Bimbang
Dalam keseharian, sering kali garis antara “hadiah” dan “suap” terasa abu-abu. Mari kita bedah agar Sahabat Muslim bisa membedakannya dengan jernih:
- Memberi untuk Mendapatkan yang Bukan Haknya: Ini adalah risywah yang paling murni dan sangat dilarang. Misalnya, menyuap agar menang tender padahal kualitas kita di bawah standar.
- Memberi untuk Menyakiti Orang Lain: Menggunakan uang agar orang lain terhambat urusannya. Ini adalah kezaliman ganda.
- Memberi Karena Diperas (Urusan Tersandera): Ada kondisi di mana Sahabat sudah memenuhi semua aturan, namun dipersulit oleh oknum. Dalam kondisi darurat untuk mengambil hak yang terzalimi, beberapa ulama (seperti Syaikhul Islam Ibn Taimiyah) berpendapat dosanya hanya ditanggung oleh si penerima yang memeras, sementara si pemberi dimaafkan karena posisi terpaksa. Namun, tetap menghindarinya adalah jalan yang lebih wara’ (berhati-hati).
Integritas sebagai Self-Healing: Mengapa Kejujuran Menenangkan?
Mungkin Sahabat Muslim bertanya, “Bagaimana bisa menolak suap disebut sebagai self-healing?”. Jawabannya ada pada ketenangan tidur Anda.
- Bebas dari Rasa Bersalah: Hati yang jujur tidak memiliki beban rahasia. Sahabat tidak perlu takut akan audit, investigasi, atau perasaan dikejar-kejar dosa.
- Membangun Kepercayaan Diri: Saat Sahabat berhasil menyelesaikan urusan dengan cara yang benar, ada kebanggaan batin bahwa keberhasilan Anda adalah murni karena pertolongan Allah dan kerja keras Anda.
- Melatih Kesabaran (Sabr): Menunggu prosedur yang lambat tanpa menyuap adalah latihan kesabaran yang luar biasa. Sabar adalah obat bagi jiwa yang lelah.
- Menjaga Keberkahan Rezeki: Harta yang didapat tanpa “uang pelicin” akan membawa ketenangan bagi keluarga saat dikonsumsi.
Langkah Bijak Saat Menghadapi Urusan yang “Macet”
Jika Sahabat Muslim saat ini sedang dalam posisi urusan yang sulit dan lambat, jangan terburu-buru mengambil dompet. Cobalah langkah menenangkan ini:
- Perbanyak Istighfar: Kadang hambatan lahir karena dosa-dosa kita. Istighfar akan membuka pintu langit yang tertutup.
- Gunakan Jalur Resmi & Komunikasi yang Baik: Sampaikan keluhan secara santun dan profesional. Sering kali senyuman dan komunikasi yang baik lebih efektif daripada uang pelicin.
- Libatkan Allah (Salat Hajat): Mintalah kepada Pemilik Segala Urusan. Jika Allah sudah menghendaki “Kun”, maka tidak ada satu pun oknum yang bisa menghalangi urusan Sahabat.
- Cari Alternatif yang Legal: Jika di satu tempat sulit, cari jalan lain yang lebih transparan dan mendukung integritas.
Penutup
Sahabat Muslim yang dicintai Allah, hidup ini hanya sebentar. Urusan dunia yang cepat selesai dengan cara yang salah hanya akan menyisakan penyesalan panjang. Dengan memahami bahwa Hukum Suap (Risywah) adalah larangan yang bertujuan menjaga kemuliaan kita, mari kita teguhkan hati untuk tetap di jalan yang lurus.
Percayalah, saat Sahabat menjaga Allah, maka Allah akan menjaga setiap urusan Sahabat dengan cara-cara yang tidak terduga.
Ingin memperdalam pengetahuan seputar fikih muamalah yang membuat hidup lebih berkah? Atau ingin mencari tips-tips inspiratif seputar kehidupan Muslim lainnya agar batin makin tenang?
Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai panduan edukatif, artikel inspiratif, dan informasi seputar ibadah yang menyejukkan jiwa hanya di umroh.co. Mari kita terus belajar dan bertumbuh bersama untuk menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah.




