Tafsir Surat Al-Buruj membawa kita pada sebuah perenungan mendalam mengenai kekuatan iman yang tak tergoyahkan, bahkan ketika berhadapan dengan kobaran api yang sangat dahsyat. Sahabat Muslim, pernahkah kita merasa ujian hidup begitu berat hingga rasanya ingin menyerah?
Surah ke-85 dalam Al-Qur’an ini hadir untuk menguatkan hati kita, menceritakan bagaimana para pendahulu kita mempertahankan tauhid meskipun nyawa menjadi taruhannya. Terdiri dari 22 ayat, surah Makkiyah ini bukan sekadar sejarah, melainkan sebuah proklamasi kemenangan iman di atas segalanya.
Mari kita tadabburi makna di balik setiap ayatnya, agar kita bisa mengambil mutiara hikmah untuk memperkokoh langkah kita sebagai seorang mukmin di era modern ini.
1. Sumpah Allah Demi Langit dan Hari yang Dijanjikan
Sahabat Muslim, Allah SWT seringkali membuka sebuah surah dengan sumpah-sumpah yang agung untuk menunjukkan betapa pentingnya pesan yang akan disampaikan setelahnya. Dalam surah ini, Allah berfirman:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 1-3).
Makna Al-Buruj (Gugusan Bintang)
Secara bahasa, Al-Buruj berarti benteng atau istana yang tinggi. Para mufassir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini merujuk pada gugusan bintang-bintang besar di langit. Hal ini menunjukkan:
- Keteraturan Alam: Betapa Allah mengatur semesta dengan sangat presisi.
- Kekuasaan Mutlak: Jika Allah mampu menciptakan istana-istana di langit, maka urusan dunia manusia sangatlah kecil di mata-Nya.
Hari yang Dijanjikan (Yaumul Maw’ud)
Hari yang dijanjikan tidak lain adalah Hari Kiamat. Ini adalah pengingat bagi Sahabat Muslim bahwa setiap perbuatan, baik yang adil maupun yang zalim, akan menemukan muaranya di hari perhitungan tersebut.
2. Kisah Ashabul Ukhdud: Keteguhan di Tengah Kobaran Api
Inti dari surah ini adalah kisah tentang Ashabul Ukhdud, atau para pembuat parit. Mereka adalah kaum kafir yang zalim di masa lalu yang menyiksa orang-orang beriman hanya karena satu alasan: mereka beriman kepada Allah.
“Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu para penggali lubang di bumi), yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruj: 4-7).
Mengapa Mereka Disiksa?
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka tidak mencuri, tidak merampok, dan tidak berkhianat. Satu-satunya “dosa” mereka di mata para penguasa zalim adalah:
“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8).
Sahabat Muslim, kisah ini mengajarkan kita bahwa terkadang kebenaran akan dimusuhi bukan karena ia salah, tapi karena ia berdiri di atas prinsip yang tidak bisa dikompromi oleh kezaliman.
3. Ancaman bagi Penindas dan Kabar Gembira bagi Mukmin
Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras kepada siapa pun yang menyiksa hamba-hamba-Nya yang beriman. Ini adalah janji keadilan bagi mereka yang dizalimi.
“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10).
Catatan Penting bagi Kita:
- Pintu Tobat Selalu Terbuka: Perhatikan kalimat “lalu mereka tidak bertobat”. Ini menunjukkan betapa Maha Pengasihnya Allah; bahkan penyiksa orang beriman pun masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum ajal menjemput.
- Keadilan Akhirat: Jika di dunia mereka lolos dari hukum manusia, di akhirat Allah telah menyiapkan balasan yang setimpal.
- Surga untuk Al-Fauzul Kabir: Sebaliknya, bagi orang beriman yang bersabar, Allah menjanjikan kemenangan yang besar (Al-Fauzul Kabir).
4. Mengenal Sifat Allah: Al-Wadud dan Al-Ghafur
Sahabat Muslim, di tengah pembicaraan tentang azab, Allah menyelipkan nama-nama-Nya yang sangat indah pada ayat ke-14:
“Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Wadud).”
Mengapa Nama Al-Wadud Disebutkan?
Kata Al-Wadud berarti Yang Maha Mencintai. Ini sangat menyentuh hati. Allah ingin memberitahu orang-orang beriman yang disiksa di parit api, bahwa meskipun mereka merasa ditinggalkan oleh dunia, Allah tetap mencintai mereka dengan cinta yang sangat dalam.
- Al-Ghafur: Menghapus dosa-dosa hamba yang kembali kepada-Nya.
- Al-Wadud: Memberikan rasa kasih sayang yang membuat penderitaan dunia terasa ringan.
5. Pelajaran dari Kehancuran Fir’aun dan Tsamud
Agar orang-orang kafir Quraisy (dan manusia modern) tidak sombong, Allah mengingatkan tentang nasib tentara-tentara besar di masa lalu yang lebih kuat namun hancur seketika.
“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara (penentang), (yaitu) Fir’aun dan Tsamud?” (QS. Al-Buruj: 17-18).
Sahabat Muslim, Fir’aun memiliki kekuasaan politik dan militer yang luar biasa. Tsamud memiliki teknologi bangunan (memahat gunung) yang hebat. Namun, semua itu tidak berguna ketika mereka menentang kebenaran Allah. Ini adalah pesan bagi kita untuk tidak silau dengan kekuatan materi dunia.
6. Kemuliaan Al-Qur’an di Lauh Mahfuzh
Surah ini ditutup dengan penegasan tentang kebenaran wahyu Allah. Meskipun manusia berusaha mendustakannya atau membuangnya, Al-Qur’an tetaplah suci dan terjaga.
“Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21-22).
Lauh Mahfuzh adalah tempat yang terjaga di mana tidak ada satu jin atau setan pun yang bisa mengubah isinya. Ini menjamin orisinalitas Al-Qur’an hingga akhir zaman. Sahabat Muslim, memegang teguh Al-Qur’an berarti kita memegang tali Allah yang paling kuat.
Kesimpulan
Melalui Tafsir Surat Al-Buruj, kita belajar bahwa hidup ini adalah panggung ujian iman. Kisah Ashabul Ukhdud bukanlah kisah kegagalan karena mereka mati dibakar, melainkan kisah kemenangan karena mereka berhasil menjaga iman hingga napas terakhir.
Berikut adalah poin inti untuk kita renungkan:
- Iman adalah Aset Termahal: Jangan tukar iman kita dengan apa pun di dunia ini.
- Allah Maha Menyaksikan: Apapun kesulitan yang kita alami, Allah melihat dan tidak akan menyia-nyiakan kesabaran kita.
- Pentingnya Sabar dan Syukur: Menyeimbangkan antara takut akan azab Allah dan berharap pada kasih sayang (Al-Wadud) Allah.
- Keyakinan pada Janji Allah: Dunia mungkin sementara memberikan kemenangan bagi si zalim, tapi akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa.
Semoga Allah SWT mengistiqomahkan hati kita di atas agama-Nya dan menjadikan kita termasuk golongan Al-Abrar yang kelak berkumpul di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Dapatkan Inspirasi Islami Lainnya di Umroh.co
Sahabat Muslim ingin memperdalam pemahaman tentang tafsir Al-Qur’an lainnya atau mencari panduan ibadah yang lengkap? Jangan biarkan pencarian ilmu Sahabat berhenti di sini!
Kunjungi website Umroh.co untuk menemukan ribuan artikel bermanfaat, mulai dari panduan doa harian, kisah inspiratif sahabat nabi, hingga tips praktis mempersiapkan perjalanan umroh dan haji yang mabrur.
👉 Klik di sini untuk membaca artikel Islami berkualitas di Umroh.co
Mari kita terus belajar dan bertumbuh bersama untuk menjadi muslim yang lebih baik setiap harinya. Sampai jumpa di artikel penuh hikmah selanjutnya!
Referensi:
- Tafsir Al-Azhar – Prof. Dr. Hamka (Penjelasan tentang Ashabul Ukhdud).
- Tafsir Jalalain – Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi.
- Shahih Muslim – Hadits tentang kisah seorang pemuda dan tukang sihir (Latar belakang Ashabul Ukhdud).
- Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an – Kementerian Agama RI.




