Makna Surat At-Takasur merupakan teguran ilahi yang sangat tajam bagi setiap insan yang sering kali terjebak dalam perlombaan semu mengumpulkan harta, mengejar jabatan, hingga membanggakan status sosial secara berlebihan hingga ajal menjemput.
Surat ke-102 dalam mushaf Al-Qur’an ini diturunkan di Makkah (Makkiyah) sebagai cermin bagi masyarakat yang hati dan pikirannya telah tertutup oleh silau kemewahan duniawi. Bagi Sahabat Muslim, memahami kedalaman isi surat ini bukan hanya sekadar menambah wawasan keislaman, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan hati dari penyakit “wahn” (cinta dunia dan takut mati) yang kian hari kian nyata pengaruhnya di era digital saat ini.
Sahabat Muslim, pernahkah Anda merasa bahwa sebanyak apa pun yang Anda miliki, rasa haus akan “lebih banyak lagi” tidak pernah kunjung padam? Apakah kita sedang berlari mengejar rida-Nya, atau justru sedang terjebak dalam kompetisi yang melalaikan? Mari kita bedah tuntas satu per satu mutiara peringatan dari surat yang menggetarkan ini agar kita tidak menjadi hamba harta yang merugi di akhirat kelak.
Sejarah dan Asbabun Nuzul: Persaingan yang Melampaui Batas
Memahami Makna Surat At-Takasur harus dimulai dari konteks sejarah di tanah Arab saat surat ini diturunkan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA bahwa surat ini turun berkaitan dengan dua kabilah Quraisy, yakni Bani Abd Manaf dan Bani Sahm.
Saling Membanggakan Jumlah Anggota Kabilah
Dua kabilah tersebut saling bersaing dan menyombongkan diri tentang siapa yang paling banyak jumlah anggotanya, paling kaya, dan paling terhormat. Bahkan, ketika mereka merasa jumlah orang yang masih hidup tidak cukup untuk memenangkan persaingan, mereka pergi ke pemakaman untuk menghitung jumlah leluhur mereka yang sudah dikubur demi membuktikan keunggulan kuantitas kelompoknya.
Pesan abadi dari peristiwa ini adalah: perilaku membanggakan diri (Takasur) sering kali membuat manusia kehilangan akal sehat dan melupakan hakikat bahwa kemuliaan di sisi Allah hanya diukur dari ketakwaan, bukan angka atau statistik duniawi.
1. Al-Hakumut Takasur: Ketika “Lebih Banyak” Menjadi Berhala
Sahabat Muslim, ayat pertama berbunyi: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takasur: 1).
Kata Al-Hakum berasal dari akar kata yang berarti melalaikan atau memalingkan perhatian. Allah tidak melarang kita memiliki harta, namun Allah mengecam ketika harta tersebut membuat kita lupa (lalai) akan:
- Waktu shalat yang sering tertunda karena urusan bisnis.
- Kewajiban zakat dan sedekah yang terlupakan karena sayang pada aset.
- Kematian yang dianggap masih jauh sehingga enggan bertaubat.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal tidak ada harta bagimu wahai anak Adam kecuali apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, dan apa yang engkau sedekahkan lalu tetap (pahalanya).” (HR. Muslim no. 2958).
2. Hatta Zurtumul Maqabir: Kematian sebagai Titik Henti
Allah berfirman: “Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takasur: 2).
Penggunaan kata Zurtum (kalian mengunjungi) untuk menggambarkan masuk ke dalam kubur memiliki makna yang sangat dalam. Kubur hanyalah “tempat persinggahan” atau kunjungan sementara sebelum kita menuju terminal akhir yakni surga atau neraka. Sahabat Muslim, ini adalah pengingat bahwa perlombaan harta di dunia ini akan dihentikan secara paksa oleh satu tamu yang tak pernah diundang: Maut.
3. Rahasia Pengulangan: Kalla Sawfa Ta’lamun
Allah mengulang kalimat “Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui” pada ayat ke-3 dan ke-4. Dalam kaidah tafsir, pengulangan ini berfungsi sebagai Taukid (penegasan) dan ancaman yang semakin berat.
Para ulama menjelaskan perbedaan antara keduanya:
- Pengetahuan Pertama: Saat nyawa berada di kerongkongan (sakratul maut), manusia baru tersadar bahwa semua harta yang mereka sombongkan tidak bisa menolong.
- Pengetahuan Kedua: Saat berada di alam kubur dan hari kebangkitan, ketika kenyataan akhirat terlihat dengan mata kepala sendiri.
Tabel: Perbedaan Mentalitas “Takasur” vs Mentalitas “Qana’ah”
Agar Sahabat Muslim lebih mudah melakukan introspeksi, perhatikan tabel perbandingan berikut:
| Aspek Kehidupan | Karakter At-Takasur (Terlena) | Karakter Al-Qana’ah (Tersadar) |
|---|---|---|
| Tujuan Hidup | Akumulasi angka (follower, saldo, aset). | Akumulasi amal jariyah dan rida Allah. |
| Pandangan Harta | Milik pribadi yang harus terus ditambah. | Amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan. |
| Respon terhadap Nikmat | Semakin sombong dan merasa hebat. | Semakin bersyukur dan merasa rendah hati. |
| Respon terhadap Musibah | Putus asa karena kehilangan pegangan dunia. | Sabar karena yakin semua milik Allah. |
| Zikir Kematian | Jarang diingat karena merusak kesenangan. | Sering diingat sebagai motivasi beramal. |
4. Ilmu Yakin, Ainul Yakin, dan Haqqul Yakin
Dalam Makna Surat At-Takasur, Allah memperkenalkan tingkatan keyakinan manusia terhadap hari pembalasan.
- Ilmu Yakin (Ayat 5): Mengetahui kebenaran akhirat melalui informasi dari wahyu (Al-Qur’an dan Hadits). Kita semua berada di level ini sekarang.
- Ainul Yakin (Ayat 7): Melihat kebenaran tersebut dengan mata kepala sendiri saat kiamat tiba.
- Haqqul Yakin (Dalam surat lain): Merasakan langsung pengalaman tersebut (masuk ke dalam surga atau neraka).
Sahabat Muslim, jangan sampai kita baru percaya saat sudah sampai di level Ainul Yakin, karena pada saat itu, pintu taubat sudah tertutup rapat.
5. La Tarawunnal Jahim: Penampakan Neraka yang Nyata
Ayat ke-6 berbunyi: “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim.”
Allah bersumpah dengan huruf Lam dan Nun Taukid di akhir kata untuk memastikan bahwa neraka Jahim bukanlah dongeng. Ia adalah realitas yang akan diperlihatkan kepada semua orang, terutama bagi mereka yang selama di dunia hanya disibukkan dengan urusan perut dan syahwat hingga melalaikan ibadah.
6. Pertanggungjawaban atas Nikmat (An-Na’im)
Surat ini ditutup dengan ayat yang paling membuat para sahabat Nabi menggigil ketakutan: “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takasur: 8).
Apa yang Dimaksud dengan Nikmat (An-Na’im)?
Sahabat Muslim, kenikmatan yang akan ditanya oleh Allah bukan hanya soal jet pribadi atau rumah mewah. Rasulullah SAW pernah keluar rumah bersama Abu Bakar dan Umar dalam keadaan lapar, lalu mereka diberikan kurma dan air dingin oleh seorang sahabat Anshar. Setelah makan, Nabi SAW bersabda: “Inilah na’im (nikmat) yang akan kalian pertanggungjawabkan di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim).
Bayangkan, segelas air dingin saja akan ditanya dari mana asalnya dan untuk apa energinya digunakan, apalagi segala kemudahan teknologi yang kita miliki saat ini?
7. Bahaya Takasur di Era Media Sosial
Di zaman ini, Makna Surat At-Takasur menemukan relevansi barunya dalam bentuk “pamer digital”.
- Flexing: Memamerkan kekayaan untuk mendapatkan pengakuan sosial.
- Haus Validasi: Merasa tidak berharga jika jumlah likes atau followers tidak meningkat.
- Kompetisi Tak Sehat: Merasa harus memiliki apa yang dimiliki orang lain meski harus dengan cara yang haram (riba atau menipu).
Islam tidak melarang Sahabat Muslim menjadi sukses dan kaya raya. Yang dilarang adalah ketika kesuksesan itu menjadi tujuan utama yang melalaikan kita dari mengingat Allah (dzikrullah).
Langkah Praktis Menghindari Penyakit At-Takasur
Bagaimana agar kita tetap bisa hidup di dunia namun hati tetap tertuju pada akhirat?
- Mengingat Pemutus Kelezatan: Perbanyak ziarah kubur atau sekadar membayangkan kematian setiap hari.
- Audit Nikmat: Setiap malam, tanya diri sendiri: “Dari mana hartaku hari ini? Dan ke mana aku habiskan?”
- Gaya Hidup Minimalis (Zuhud): Ambil dunia secukupnya, berikan selebihnya untuk akhirat.
- Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas: Lebih baik sedikit harta yang berkah daripada banyak harta yang melalaikan.
Kesimpulan
Mempelajari Makna Surat At-Takasur menyadarkan kita bahwa hidup ini adalah perlombaan, namun pastikan kita berada di lintasan yang benar. Allah memberikan kita segalanya agar kita bisa kembali kepada-Nya dalam keadaan rida, bukan dalam keadaan terengah-engah mengejar dunia yang pada akhirnya kita tinggalkan di liang lahat. Jangan biarkan angka-angka di layar ponsel atau digit di rekening bank membutakan kita dari cahaya kebenaran.
Ingatlah Sahabat Muslim, pada akhirnya bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan yang akan dihitung, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tebarkan.
Sahabat Muslim, apakah renungan mengenai bahaya bermegah-megahan ini menyentuh hati Anda untuk lebih bijak dalam mengelola nikmat Allah? Atau mungkin Anda ingin mempelajari rahasia keberkahan hidup para sahabat Nabi yang kaya raya namun tetap dijamin masuk surga?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar dunia keislaman, panduan umroh yang mencerahkan, hingga tips hidup berkah hanya di umroh.co. Mari kita terus memperkaya iman dan wawasan kita setiap hari agar perjalanan hidup kita senantiasa dalam rida-Nya. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





