Tadabbur Surat An-Nazi’at mengungkap tabir rahasia mengenai tugas-tugas agung para malaikat dalam mencabut nyawa manusia serta menyisipkan fragmen sejarah Nabi Musa AS sebagai peringatan keras bagi para penguasa zalim agar tidak tertipu oleh kejayaan dunia yang semu.
Surat ke-79 dalam Mushaf Al-Qur’an ini merupakan kategori Makkiyah yang turun dengan ritme ayat yang pendek namun menghentak, seolah-olah setiap katanya adalah detak jantung yang sedang berpacu menuju akhirat. Bagi Sahabat Muslim, memahami kedalaman isi surat ini bukan hanya sekadar menambah hafalan, melainkan sebuah terapi spiritual untuk menyadari bahwa perjumpaan dengan Malaikat Maut adalah sebuah keniscayaan yang harus dipersiapkan dengan bekal terbaik.
Sahabat Muslim, pernahkah Anda merenungkan bagaimana rasanya saat ruh mulai ditarik dari raga? Mengapa Allah perlu menceritakan kembali drama pembangkangan Firaun tepat setelah berbicara tentang malaikat pencabut nyawa? Mari kita bedah tuntas mutiara hikmah di balik Surat An-Nazi’at agar keimanan kita kepada hari akhir semakin menghunjam kuat di dalam dada.
Mengenal 5 Sumpah Agung Allah: Misi Rahasia Para Malaikat
Surat ini dibuka dengan lima sumpah Allah SWT yang merujuk pada aktivitas para malaikat. Dalam tradisi tafsir, sumpah Allah menunjukkan betapa krusialnya perkara yang akan disebutkan setelahnya.
1. An-Nazi’at dan An-Nasyithat: Dua Cara Mencabut Ruh
Allah berfirman: “Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut.” (QS. An-Nazi’at: 1-2).
Sahabat Muslim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan perbedaan kontras ini berdasarkan kondisi iman seseorang:
- An-Nazi’at: Malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan paksa dan keras, seolah-olah seperti besi berduri yang ditarik dari wol yang basah. Hal ini menyebabkan rasa sakit yang tak terlukiskan.
- An-Nasyithat: Malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan sangat lembut, seolah-olah seperti air yang mengalir dari mulut teko atau simpul yang dilepaskan dengan mudah.
2. As-Sabihat, As-Sabiqat, dan Al-Mudabbirat: Pengatur Urusan Langit
Tiga sumpah berikutnya menggambarkan kecepatan dan profesionalisme malaikat dalam menjalankan tugas:
- As-Sabihat: Malaikat yang turun dari langit dengan cepat (seperti berenang di angkasa).
- As-Sabiqat: Malaikat yang berlomba-lomba dalam menjalankan perintah Allah dan membawa ruh orang mukmin menuju surga.
- Al-Mudabbirat: Malaikat yang mengatur berbagai urusan alam semesta atas perintah Allah, mulai dari pembagian rezeki, hujan, hingga pengawasan amal.
Fase Kiamat: Guncangan Ar-Rajifah dan Ar-Radifah
Setelah bersumpah, Allah SWT langsung membawa kita pada visualisasi kiamat di ayat 6 dan 7.
“(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam (Ar-Rajifah), yang diiringi oleh tiupan kedua (Ar-Radifah).” (QS. An-Nazi’at: 6-7)
Kondisi Hati yang Bergetar (Wajifah)
Sahabat Muslim, pada hari itu Allah menggambarkan kondisi psikologis manusia dengan kata Wajifah. Hati mereka berdetak sangat kencang karena ketakutan yang luar biasa. Pandangan mereka tunduk (khasyi’ah) karena menyadari bahwa pengingatan para Rasul tentang hari kebangkitan adalah benar adanya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana aku bisa bersenang-senang sementara Malaikat peniup sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya dan menundukkan dahinya, menunggu perintah kapan harus meniupnya?” (HR. Tirmidzi no. 2431).
Kisah Musa dan Firaun: Pelajaran tentang Kesombongan
Poin menarik dalam Tadabbur Surat An-Nazi’at adalah transisi mendadak menuju kisah Nabi Musa AS di ayat 15. Allah ingin menunjukkan bahwa kematian dan kiamat adalah “obat” bagi kesombongan manusia sekelas Firaun.
Puncak Pembangkangan: “Ana Rabbukumul A’la”
Musa mendatangi Firaun di Lembah Thuwa yang suci dengan membawa Ayatul Kubra (mukjizat besar). Namun, Firaun justru berpaling dan mengumpulkan rakyatnya lalu berseru dengan lantang: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi!” (QS. An-Nazi’at: 24).
Sahabat Muslim, perhatikan betapa tragisnya akhir Firaun. Allah menyiksanya dengan azab di akhirat dan di dunia sebagai peringatan (Ibrah) bagi mereka yang takut kepada Allah. Jika penguasa sekuat Firaun saja bisa ditumbangkan, apalagi manusia biasa yang hartanya tak seberapa?
Tabel: Perbandingan Akhir Hidup Orang Bertakwa vs Penguasa Zalim
Agar Sahabat Muslim lebih mudah mengambil pelajaran, mari kita lihat perbandingan berikut:
| Aspek | Golongan Bertakwa | Golongan Zalim (Tipe Firaun) |
|---|---|---|
| Proses Cabut Nyawa | Lembut (Nasytha) | Keras dan Paksa (Naz’a) |
| Kondisi Hati di Kiamat | Tenang dan Berharap | Bergetar Hebat (Wajifah) |
| Sikap terhadap Ayat Allah | Tunduk dan Taat | Mendustakan dan Durhaka |
| Status Kekuasaan | Digunakan untuk Ibadah | Digunakan untuk Kesombongan |
| Tempat Kembali | Surga (Al-Ma’wa) | Neraka (Al-Jahim) |
At-Thammah: Malapetaka Besar yang Menyingkap Rahasia
Di bagian akhir surat, Allah menyebut kiamat dengan istilah At-Thammahul Kubra (Malapetaka yang sangat besar). Pada momen inilah manusia akan teringat kembali semua apa yang telah ia usahakan di dunia (Ma Sa’a).
Rahasia Penahan Hawa Nafsu (Naha Nafsa ‘anil Hawa)
Sahabat Muslim, inilah kunci keselamatan yang ditawarkan Surat An-Nazi’at bagi kita:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Menahan hawa nafsu bukan berarti tidak boleh menikmati dunia, melainkan tidak membiarkan keinginan diri melanggar batas-batas syariat. Inilah “jihad akbar” yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita.
Mengapa Waktu Kiamat Dirahasiakan?
Orang-orang kafir bertanya kepada Nabi SAW: “Kapankah terjadinya (kiamat)?” (Ayat 42). Allah menjawab bahwa urusan waktu kiamat adalah milik Allah semata. Nabi hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut padanya. Sahabat Muslim, rahasia waktu ini bertujuan agar kita selalu dalam kondisi “siaga satu” dalam beramal shalih, karena kiamat kecil (kematian) bisa datang kapan saja tanpa mengetuk pintu.
Implementasi Tadabbur Surat An-Nazi’at dalam Keseharian
Bagaimana Sahabat Muslim mengamalkan isi surat yang dahsyat ini?
- Muraqabatullah: Selalu merasa diawasi oleh Malaikat Al-Mudabbirat dan Al-Katibun dalam setiap tindakan.
- Menjaga Kelembutan Hati: Jangan biarkan kesuksesan finansial atau jabatan membuat kita sombong seperti Firaun. Tetaplah merunduk dan menyadari bahwa kita hanyalah hamba.
- Audit Niat: Sebelum tidur, tanyakan pada diri sendiri: “Jika besok Malaikat An-Nazi’at datang, apakah aku sudah siap ataukah aku masih mengejar dunia dengan cara yang zalim?”
- Latihan Menahan Nafsu: Mulailah dari hal kecil, seperti menahan amarah, menjaga lisan dari ghibah, atau menunda kesenangan duniawi demi shalat di awal waktu.
Kesimpulan
Mempelajari Tadabbur Surat An-Nazi’at membawa kita pada satu kesimpulan mutlak: hidup ini adalah masa persiapan untuk sebuah perpisahan yang pasti. Malaikat maut adalah utusan yang tidak bisa dinegosiasi. Pilihan ada di tangan kita hari ini; apakah kita ingin dijemput dengan kelembutan An-Nasyithat atau ditarik paksa oleh An-Nazi’at?
Kisah Musa dan Firaun adalah cermin abadi bahwa kebatilan pasti akan hancur dan ketaatan akan berujung pada surga Al-Ma’wa. Jangan biarkan dunia yang hanya sekejap ini (seperti waktu dhuha atau sore hari menurut ayat terakhir) membuat kita lalai dari persiapan yang abadi.
Sahabat Muslim, apakah penjelasan mengenai tugas malaikat dan akhir sejarah Firaun ini membuat Anda semakin termotivasi untuk memperbaiki kualitas sujud? Atau mungkin Anda ingin melihat langsung sisa-sisa peradaban sejarah yang Allah sebutkan sebagai pelajaran berharga di tanah suci?
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar kedalaman makna Al-Qur’an, panduan hidup berkah, hingga tips perjalanan ibadah haji dan umroh yang mencerahkan hanya di umroh.co. Mari kita terus memperkaya iman dan wawasan kita agar setiap langkah hidup kita senantiasa dalam rida-Nya. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!





