Medsos untuk Pasutri di era digital ini bagaikan pisau bermata dua; ia bisa menjadi wasilah (sarana) dakwah dan kemesraan, namun juga bisa menjadi pintu retaknya keharmonisan jika tidak dikelola dengan adab islami yang tepat.
Pernahkah Anda merasa cemburu hanya karena melihat pasangan memberikan “like” pada unggahan lawan jenis, atau merasa kecil hati saat membandingkan rumah tangga sendiri dengan “kebahagiaan semu” yang tampil di feed orang lain? Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis aplikasi, melainkan masalah hati dan akhlak yang memerlukan panduan spiritual yang kuat.
Dalam artikel Expert Guide ini, kita akan membedah hukum serta etika menggunakan media sosial agar teknologi tetap menjadi pelayan bagi kebahagiaan dunia dan akhirat Anda.
Media Sosial: Ladang Pahala atau Pintu Dosa?
Dalam kacamata Islam, segala sesuatu yang bersifat wasilah (perantara) hukumnya bergantung pada tujuannya. Menggunakan Medsos untuk Pasutri bisa bernilai ibadah jika digunakan untuk menyambung silaturahmi, belajar ilmu agama, atau berbagi inspirasi kebaikan. Sebaliknya, ia bisa menjadi haram jika digunakan untuk membuka aib, menebar fitnah, atau memicu perselingkuhan non-fisik.
Allah Swt. mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini sangat relevan sebagai pengingat agar kita tidak terjebak dalam perilaku stalking atau mencurigai pasangan secara berlebihan karena aktivitas digitalnya.
8 Etika Emas Mengelola Medsos untuk Pasutri
Untuk menjaga bahtera rumah tangga tetap kokoh di tengah badai informasi, berikut adalah aturan main yang perlu disepakati bersama:
1. Menjaga Pandangan (Ghadhul Bashar) Digital
Islam memerintahkan pria dan wanita beriman untuk menundukkan pandangan. Di dunia maya, ini berarti tidak dengan sengaja memandangi foto atau video lawan jenis yang menonjolkan kecantikan atau ketampanan mereka secara tidak syar’i.
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya…” (QS. An-Nur: 30)
2. Menghindari Penyakit ‘Ain
Mengunggah kemesraan atau pencapaian keluarga secara berlebihan dapat mengundang penyakit ‘Ain (pandangan mata yang merusak). ‘Ain bisa datang dari rasa kagum yang tidak disertai dzikir, maupun dari rasa iri orang lain. Rasulullah saw. bersabda: ” ‘Ain itu benar-benar ada.” (HR. Bukhari & Muslim).
3. Tidak Mengumbar Aib Rumah Tangga
Saat sedang terjadi konflik, jangan pernah menjadikan status media sosial sebagai tempat curhat. Mengumbar kekurangan pasangan di ruang publik hukumnya adalah Ghibah dan melanggar perintah Allah untuk saling menutupi aib.
4. Transparansi dan Kepercayaan
Membangun kepercayaan dalam penggunaan Medsos untuk Pasutri berarti tidak ada rahasia yang sengaja disembunyikan. Bukan berarti harus saling tahu kata sandi (meski itu baik), namun setidaknya tidak ada interaksi dengan lawan jenis yang perlu disembunyikan dari pasangan.
5. Menjaga Privasi Kamar Tidur (Rahasia Penting!)
Inilah aturan yang paling krusial. Rasulullah saw. sangat melarang suami atau istri menceritakan apa yang terjadi di tempat tidur kepada orang lain. Media sosial seringkali membuat orang kehilangan batas; memposting foto di tempat tidur atau menggunakan istilah-istilah intim dalam komentar publik sangat tidak dianjurkan dalam adab islami.
6. Menghindari Interaksi Berlebihan dengan Lawan Jenis
Fitnah media sosial sering dimulai dari pesan singkat (DM) yang tampak remeh. Batasi interaksi dengan lawan jenis hanya untuk keperluan mendesak, profesional, atau pendidikan, serta pastikan tidak ada unsur godaan atau gaya bahasa yang terlalu akrab (khalwat digital).
7. Niatkan untuk Dakwah, Bukan Pamer (Riya)
Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada hati: “Apakah ini bermanfaat bagi orang lain, atau hanya ingin dipuji?” Menggunakan medsos untuk berbagi tips rumah tangga islami adalah hal baik, asalkan niatnya tetap terjaga dari sifat sombong.
8. Bijak dalam Memberikan Komentar
Lidah adalah cerminan hati, begitu pula jempol saat mengetik. Pastikan komentar yang Anda tinggalkan di akun orang lain tetap sopan, tidak mengandung penghinaan, dan tidak membuat pasangan Anda merasa malu atau tersinggung.
Tabel: Etika Medsos Pasutri – Sehat vs. Tidak Sehat
| Aktivitas Digital | Cara yang Sehat (Islami) | Cara yang Tidak Sehat (Hindari) |
|---|---|---|
| Posting Kemesraan | Sesekali sebagai rasa syukur, secukupnya. | Setiap saat, memancing iri dan penyakit ‘Ain. |
| Interaksi Lawan Jenis | Formal, sopan, dan seperlunya. | Genit, sering memberikan like/love pada foto pribadi. |
| Menanggapi Konflik | Diselesaikan secara internal dan tertutup. | Menulis status sindiran atau curhat di grup publik. |
| Waktu Penggunaan | Ada batasan waktu (digital detox saat bersama). | Sibuk dengan gadget saat pasangan mengajak bicara. |
Dampak Psikologis dan Spiritual jika Etika Dilanggar
Secara medis dan psikologis, paparan media sosial yang berlebihan tanpa etika dapat menurunkan kadar hormon kebahagiaan alami (oxytocin) antara pasangan karena perhatian terbagi ke dunia virtual. Secara spiritual, melanggar adab digital akan mengeraskan hati dan menjauhkan keberkahan dalam rumah tangga.
Setiap anggota keluarga adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya… dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya…” (HR. Bukhari & Muslim)
Tanggung jawab kepemimpinan ini termasuk memastikan bahwa media sosial di dalam rumah tidak menjadi jalan masuknya setan yang merusak kasih sayang (mawaddah).
Langkah Praktis Memulai Perubahan
Jika Anda merasa penggunaan media sosial mulai mengganggu hubungan, cobalah langkah berikut:
- Kesepakatan Bersama: Duduk bersama dan buat aturan main yang disepakati (misal: dilarang pegang HP di meja makan atau setelah jam 9 malam).
- Saling Follow dan Terbuka: Pastikan Anda dan pasangan saling mengikuti akun masing-masing untuk menjaga akuntabilitas.
- Pembersihan Akun: Unfollow akun-akun yang memicu syahwat atau perasaan iri yang tidak perlu.
Kesimpulan
Mengelola Medsos untuk Pasutri membutuhkan kesadaran penuh bahwa setiap klik, like, dan unggahan akan dicatat oleh malaikat. Dengan menerapkan adab islami, media sosial bukan lagi menjadi ancaman, melainkan jembatan untuk memperkuat visi keluarga menuju surga. Kedamaian rumah tangga jauh lebih berharga daripada jumlah follower atau banyaknya tanda suka di dunia maya.
Jadikan gadget sebagai alat untuk menambah kemesraan, misalnya dengan mengirimkan pesan kasih sayang atau video dakwah kepada pasangan, sehingga teknologi benar-benar membawa manfaat lahir dan batin.
Ingin Memperdalam Ilmu Keluarga dan Kehidupan Muslim Lainnya?
Menjaga harmoni dalam pernikahan adalah perjuangan seumur hidup yang bernilai pahala besar. Dapatkan berbagai wawasan mendalam mengenai tips rumah tangga islami, manajemen emosi, hingga panduan praktis ibadah harian untuk menyempurnakan kualitas hidup Anda sebagai Muslimah dan Muslim masa kini.
Kunjungi dan baca artikel inspiratif lainnya hanya di umroh.co untuk memperluas cakrawala keislaman Anda dan keluarga setiap hari!





