Pernahkah Sahabat merasa bahwa meski angka di rekening terus bertambah, namun rasa cemas dan gelisah justru semakin sering datang menyapa di tengah malam? Mungkin ini saatnya kita menepi sejenak untuk memahami apa itu Riba dan bagaimana pengaruhnya yang seringkali tidak kita sadari telah menyelinap dalam keseharian kita yang serba digital ini.
Kita hidup di zaman di mana kemudahan transaksi hanya sejauh sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan itu, ada amanah besar yang perlu kita jaga agar harta yang kita bawa pulang untuk keluarga tetap bersih dan membawa ketenangan jiwa. Mari kita pelajari bersama dengan hati yang lapang.
Menyelami Makna: Apa itu Riba Sebenarnya?
Secara sederhana, riba berasal dari bahasa Arab yang berarti Az-Ziyadah atau tambahan. Namun, bukan berarti setiap tambahan itu dilarang. Dalam konteks syariat, riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pinjam-meminjam atau pertukaran barang ribawi tanpa adanya kompensasi atau nilai tambah yang dibenarkan secara agama.
Bayangkan Riba seperti “benalu” dalam pohon rezeki kita. Awalnya tampak hijau dan menyatu, namun perlahan ia menghisap sari pati keberkahan hingga yang tersisa hanyalah batang kering yang rapuh. Allah SWT sangat tegas membedakan antara perniagaan dan riba melalui firman-Nya:
“…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275)
Mengapa Menghindari Riba Adalah Bentuk Self-Healing?
Mungkin Sahabat bertanya, apa hubungannya menjauhi riba dengan kesehatan mental atau self-healing? Jawabannya ada pada rasa cukup (qana’ah). Riba seringkali lahir dari rasa tidak puas dan keinginan untuk memiliki sesuatu melampaui kemampuan saat ini melalui utang yang berbunga.
Ketika kita melepaskan diri dari jeratan riba, kita sebenarnya sedang menyembuhkan hati dari:
- Kecemasan berlebih: Tidak perlu takut dikejar-kejar bunga yang terus menggulung.
- Rasa lelah yang semu: Bekerja keras hanya untuk membayar bunga terasa sangat menguras energi batin.
- Ketidakberkahan: Harta yang sedikit namun berkah akan terasa mencukupi, sedangkan harta banyak yang mengandung riba seringkali “habis” untuk hal-hal yang tidak terduga dan tidak membahagiakan.
Riba di Era Modern: Di Mana Ia Bersembunyi?
Dunia modern sangat lihai dalam membungkus riba dengan istilah-istilah yang terdengar “keren” atau menguntungkan. Sebagai Muslim yang haus akan ilmu, kita perlu waspada terhadap beberapa bentuk ini:
1. Bunga Bank Konvensional
Ini adalah bentuk paling umum. Tambahan nilai dari pinjaman pokok yang sudah ditetapkan di awal secara persentase adalah inti dari riba nasi’ah.
2. Denda Keterlambatan dan Bunga Kartu Kredit
Saat kita menggunakan kartu kredit atau layanan paylater yang mengenakan bunga atau denda yang terus bertambah, di sanalah letak risiko riba yang menjebak gaya hidup konsumtif.
3. Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal
Hati-hati, Sahabat. Banyak sekali kemudahan instan yang justru berujung pada teror dan bunga yang tidak masuk akal. Ini adalah bentuk eksploitasi yang sangat dilarang dalam Islam.
7 Rahasia Praktis Menghindari Riba dalam Kehidupan Sehari-hari
Menghindari riba di tengah sistem ekonomi yang belum sepenuhnya syariah memang menantang, tapi bukan tidak mungkin. Berikut adalah langkah-langkah lembut yang bisa kita ambil:
- Edukasi Diri Tanpa Henti: Teruslah mencari tahu tentang muamalah fikh. Semakin kita tahu, semakin kita terjaga.
- Pindah ke Perbankan Syariah: Mulailah memindahkan aset atau tabungan ke bank yang menggunakan akad mudharabah atau wadiah yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
- Tanamkan Prinsip “Butuh vs Ingin”: Kebanyakan utang riba muncul karena keinginan mengikuti tren. Jika tidak mendesak, lebih baik menabung terlebih dahulu.
- Perbanyak Sedekah: Sedekah adalah “pembersih” harta. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menambah keberkahannya.
- Gunakan Akad Jual Beli (Murabahah): Jika ingin mencicil sesuatu (seperti rumah atau kendaraan), pastikan menggunakan lembaga keuangan syariah dengan akad jual beli yang jelas harganya sejak awal.
- Membangun Komunitas Positif: Berkumpullah dengan teman-teman yang memiliki visi yang sama untuk hidup tanpa riba agar saling menguatkan.
- Berdoa untuk Kecukupan: Mintalah kepada Allah agar diberikan rezeki yang halal dan thoyyib. Doa adalah senjata paling ampuh bagi seorang mukmin.
Bahaya Riba Menurut Al-Quran dan Hadist
Sebagai pengingat bagi kita semua agar tetap teguh di jalan-Nya, mari kita renungkan hadist berikut. Rasulullah SAW bersabda:
“Rasulullah SAW melakoni (mengutuk) orang yang memakan riba, orang yang memberikan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: ‘Mereka itu sama’.” (HR. Muslim)
Ancaman yang berat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai tanda cinta Allah agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang yang merusak dunia dan akhirat. Allah ingin kita hidup dalam kemuliaan, bukan dalam kehinaan karena utang.
Kesimpulan
Sahabat sekalian, memahami apa itu riba adalah langkah awal menuju transformasi hidup yang lebih tenang dan bermakna. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan lama, namun setiap keringat yang kita keluarkan untuk mencari yang halal akan bernilai jihad di mata Allah SWT.
Ingatlah, ketenangan sejati tidak terletak pada berapa banyak barang mewah yang kita miliki melalui cicilan berbunga, melainkan pada hati yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan secara halal. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil, untuk membebaskan diri dari riba.
Ingin memperdalam pengetahuan seputar gaya hidup Muslim, fiqh muamalah, atau info menarik tentang persiapan ibadah ke tanah suci? Yuk, kunjungi dan baca artikel-artikel inspiratif lainnya di umroh.co. Temukan berbagai panduan spiritual dan tips kehidupan islami yang akan membuat perjalanan hijrahmu terasa lebih mudah dan menyenangkan.




