Penjelasan Surat Al-Ma’un memberikan peringatan yang sangat tajam dan menggetarkan hati bagi setiap Muslim mengenai definisi sebenarnya dari “pendusta agama,” yang ternyata tidak hanya terbatas pada mereka yang mengingkari keberadaan Tuhan secara lisan, melainkan juga mereka yang mengabaikan sisi kemanusiaan dan keadilan sosial. Surat ke-107 dalam Al-Qur’an ini merupakan teguran keras bagi orang-orang yang tampak saleh secara ritual namun kering secara spiritual dan sosial. Allah SWT dengan tegas mengaitkan kualitas keimanan seseorang dengan kepeduliannya terhadap kaum yang paling lemah di masyarakat: anak yatim dan fakir miskin.
Sahabat Muslim, sering kali kita merasa aman dengan predikat “beragama” hanya karena identitas yang melekat sejak lahir. Namun, Surat Al-Ma’un mengajak kita untuk berkaca lebih dalam: apakah perilaku sosial kita sudah mencerminkan iman, atau justru kita termasuk golongan yang “mendustakan agama” tanpa kita sadari? Mari kita bedah tuntas mutiara hikmah di balik surat yang luar biasa ini.
Latar Belakang dan Asbabun Nuzul: Siapa yang Ditegur?
Memahami Penjelasan Surat Al-Ma’un memerlukan penelusuran sejarah mengenai kondisi masyarakat Makkah saat surat ini diturunkan (Makkiyah). Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai sosok spesifik yang menjadi sebab turunnya ayat ini, intisari pesannya tetap bersifat universal.
Kisah Abu Sufyan atau Abu Jahl
Sebagian ahli tafsir, termasuk Ibnu Abbas RA, menyebutkan bahwa surat ini turun berkaitan dengan perilaku tokoh Quraisy seperti Abu Sufyan atau Abu Jahl. Dikisahkan bahwa mereka sering menyembelih unta setiap pekan untuk berpesta, namun ketika ada seorang anak yatim datang meminta sedikit daging karena kelaparan, mereka justru menghardiknya dengan kasar dan mengusirnya.
Perilaku ini menunjukkan kontradiksi yang nyata: mereka merasa sebagai pemimpin yang terhormat, namun tidak memiliki secuil pun empati terhadap sesama. Inilah titik awal mengapa Allah menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk “mendustakan agama”.
Bedah Ayat demi Ayat: 5 Karakteristik Pendusta Agama
Sahabat Muslim, surat ini sangat singkat namun porsinya terbagi secara adil antara kritik terhadap perilaku sosial dan kritik terhadap kualitas ibadah ritual. Berikut adalah penjelasannya:
1. Menghardik Anak Yatim (Ayat 1-2)
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.”
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan retoris untuk menarik perhatian. “Menghardik” di sini bukan sekadar membentak, melainkan menzalimi hak-hak mereka, memakan hartanya, atau bersikap sombong terhadap ketidakberdayaan mereka. Dalam Islam, anak yatim adalah amanah besar.
Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta agak merenggangkan keduanya. (HR. Bukhari no. 5304).
2. Tidak Menganjurkan Memberi Makan Orang Miskin (Ayat 3)
“Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Menariknya, Allah tidak hanya menyalahkan orang yang “tidak memberi makan,” tetapi juga menyalahkan orang yang “tidak menganjurkan” (Wala yahuddu). Artinya, jika kita tidak memiliki harta untuk membantu, setidaknya kita harus memiliki kepedulian untuk mengajak orang lain membantu. Diamnya kita terhadap kemiskinan di sekitar adalah bagian dari pendustaan terhadap agama.
3. Lalai dalam Salatnya (Ayat 4-5)
“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”
Sahabat Muslim, ayat ini sangat menggetarkan. Allah menggunakan kata “Wail” (celaka) bagi orang yang justru melakukan salat. Siapakah mereka? Mereka adalah orang yang:
- Mengakhirkan waktu salat tanpa uzur syar’i hingga waktunya hampir habis.
- Melakukan salat tanpa kekhusyukan, hanya sekadar gerakan fisik.
- Salat namun perilakunya di luar salat tetap zalim terhadap sesama.
4. Berbuat Riya (Ayat 6)
“Orang-orang yang berbuat riya’.”
Riya adalah melakukan ibadah agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena mengharap rida Allah. Sifat ini merupakan syirik kecil yang sangat halus. Orang yang riya dalam salatnya menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar percaya pada hari pembalasan; ia lebih takut pada komentar tetangga daripada murka Sang Pencipta.
5. Enggan Memberikan Bantuan Barang Berguna (Ayat 7)
“Dan enggan (memberikan) bantuan barang berguna.”
Kata Al-Ma’un merujuk pada barang-barang kecil yang biasa dipinjamkan antar tetangga, seperti jarum, garam, atau alat masak. Ayat ini mengajarkan bahwa pelit terhadap hal-hal kecil adalah indikasi rusaknya iman. Islam menginginkan masyarakat yang saling menolong (Ta’awun), bukan individu yang egois.
Tabel: Ringkasan Karakteristik Pendusta Agama dalam Surat Al-Ma’un
Agar Sahabat Muslim lebih mudah mengingat dan melakukan introspeksi diri, berikut adalah tabel ringkasnya:
| Karakteristik | Bentuk Perilaku | Solusi Spiritual |
|---|---|---|
| Zalim Sosial | Menghardik dan mengambil hak anak yatim. | Menyantuni dan menyayangi yatim. |
| Apatis | Tidak peduli dan tidak mengajak menolong fakir miskin. | Aktif dalam kegiatan sosial/sedekah. |
| Lalai Ritual | Salat sekadar gugur kewajiban atau di akhir waktu. | Memperbaiki khusyuk dan tepat waktu. |
| Penyakit Hati | Riya (ingin dipuji orang lain). | Melatih keikhlasan (Lillahi Ta’ala). |
| Kikir Ekstrem | Enggan meminjamkan barang kecil yang berguna. | Murah hati dan senang berbagi. |
Esensi “Mendustakan Agama”: Hubungan Iman dan Amal
Dalam Penjelasan Surat Al-Ma’un, Allah SWT ingin meruntuhkan sekat antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Seorang Muslim tidak bisa dikatakan beriman jika ia khusyuk bersujud di masjid namun menutup mata saat tetangganya kelaparan.
Agama bukan sekadar mantra yang dibaca, tapi transformasi perilaku. Iman kepada hari akhir (Hari Pembalasan) seharusnya melahirkan rasa takut untuk berbuat zalim dan semangat untuk berbagi. Jika seseorang mengaku percaya hari akhir namun tetap kikir dan zalim, maka kepercayaannya itu dianggap sebagai “pendustaan”.
Pelajaran Penting (Ibrah) bagi Kehidupan Modern:
- Jangan Jadi “Zombi Spiritual”: Melakukan ritual tanpa makna. Pastikan salat kita mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.
- Empati Digital: Di zaman media sosial, jangan sampai kita hanya pamer ibadah (riya) sementara tetangga kita menderita.
- Gerakan Sosial: Mari aktif mengajak orang lain dalam kebaikan. “Menganjurkan” adalah bagian dari dakwah.
Bahaya Kelalaian dalam Salat (Sahun)
Sahabat Muslim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “lalai” dalam ayat ini mencakup mereka yang tidak peduli dengan rukun dan syarat salat. Shalat yang benar seharusnya menjadi “obat” bagi penyakit kikir dan riya. Jika salat kita belum bisa mengubah sifat buruk kita, maka kita perlu memeriksa kembali: apakah kita benar-benar salat, atau hanya sekadar berolahraga di atas sajadah?
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Jika efek ini tidak terasa, berarti kita termasuk dalam kategori Sahun (lalai) yang diperingatkan dalam Surat Al-Ma’un.
Kesimpulan
Penjelasan Surat Al-Ma’un adalah cermin bagi setiap Mukmin untuk melihat cacat pada imannya. Surat ini mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang sangat manusiawi; Allah tidak butuh salat kita, tapi Allah ingin salat kita membuat kita menjadi manusia yang lebih baik bagi sesama. Menjadi pendusta agama tidak harus dengan murtad, cukup dengan menjadi orang yang salat namun hatinya keras terhadap anak yatim dan fakir miskin.
Mari kita bersihkan hati dari riya, kita perbaiki kualitas salat kita, dan kita luaskan tangan kita untuk membantu sesama. Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat pendusta agama dan dikumpulkan bersama orang-orang yang ikhlas.
Sahabat Muslim, apakah Anda merasa tergerak untuk lebih peduli pada anak yatim setelah memahami tafsir ini? Atau mungkin Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang rahasia keberkahan dari sedekah dan cara meraih khusyuk dalam salat?
Dapatkan berbagai artikel inspiratif lainnya mengenai tafsir Al-Qur’an, tips hidup berkah, hingga panduan lengkap ibadah haji dan umroh hanya di umroh.co. Mari kita terus memperkaya iman dan amal kita agar kelak kita layak meminum air dari telaga Al-Kautsar bersama Baginda Nabi SAW. Klik sekarang dan temukan kedamaian dalam setiap ilmu yang bermanfaat!




