Peristiwa Isra Mi’raj adalah sebuah perjalanan ajaib satu malam yang membuktikan bahwa di balik setiap kesedihan yang mendalam, Allah SWT selalu menyiapkan “undangan istimewa” untuk mengangkat derajat hamba-Nya yang bersabar.
Bagi kita yang sering merasa cemas akan masa depan atau lelah dengan hiruk-pikuk dunia, memahami kronologi perjalanan ini bukan sekadar belajar sejarah. Ini adalah sebuah perjalanan self-healing yang mengajarkan bahwa solusi dari segala masalah bumi ada di “langit”. Mari kita duduk sejenak, siapkan hati yang lapang, dan telusuri jejak cahaya sang kekasih Allah.
Mengapa Isra Mi’raj Terjadi? (Konteks yang Menenangkan)
Sebelum kita masuk ke kronologi, Sahabat Muslim perlu tahu bahwa peristiwa ini terjadi di tahun yang disebut Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Saat itu, Rasulullah SAW baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib.
Di titik terendah secara manusiawi inilah, Allah menjemput beliau. Ini adalah pesan untuk kita: Saat pintu bumi seolah tertutup bagimu, pintu langit selalu terbuka lebar.
1. Perjalanan Isra: Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
Isra adalah perjalanan horizontal di bumi. Allah SWT berfirman dalam pembukaan surat Al-Isra:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…” (QS. Al-Isra: 1).
Kecepatan Cahaya dengan Buraq
Sahabat Muslim, bayangkan seekor tunggangan bernama Buraq yang langkah kakinya sejauh mata memandang. Di sini kita belajar tentang kemudahan. Jika Allah berkehendak, jarak yang jauh dan masalah yang rumit bisa selesai dalam sekejap mata.
Menjadi Imam Para Nabi
Sesampainya di Masjidil Aqsa (Palestina), Rasulullah SAW memimpin shalat berjamaah yang makmumnya adalah seluruh nabi dan rasul terdahulu. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah penutup para nabi sekaligus pembawa risalah pemersatu.
2. Perjalanan Mi’raj: Menembus Langit yang Berlapis
Setelah dari bumi, perjalanan berlanjut secara vertikal menuju Sidratul Muntaha. Rasulullah SAW melewati tujuh lapis langit dan bertemu dengan para nabi sebelumnya:
- Langit 1: Bertemu Nabi Adam AS (Bapak manusia).
- Langit 2: Bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS.
- Langit 3: Bertemu Nabi Yusuf AS (Nabi tertampan).
- Langit 4: Bertemu Nabi Idris AS.
- Langit 5: Bertemu Nabi Harun AS.
- Langit 6: Bertemu Nabi Musa AS.
- Langit 7: Bertemu Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur.
Pertemuan ini bukan sekadar reuni, tapi penguatan mental bagi Nabi Muhammad SAW bahwa beliau tidak sendirian. Para pendahulunya pun mengalami ujian yang tak kalah hebat.
3. Sidratul Muntaha dan Puncak Perjumpaan
Di sinilah batas akhir yang bisa dijangkau oleh makhluk, bahkan Malaikat Jibril pun tidak bisa melewatinya. Rasulullah SAW melampaui segala batasan ruang dan waktu untuk “berdialog” dengan Sang Pencipta tanpa perantara.
Sahabat Muslim, di titik inilah dunia terasa sangat kecil. Segala hinaan kaum Quraisy dan rasa sedih kehilangan orang tercinta mendadak sirna di hadapan keagungan Allah. Inilah puncak ketenangan yang sesungguhnya.
4. Hadiah Terbesar: Perintah Shalat 5 Waktu
Mungkin banyak yang lupa bahwa awalnya Allah memerintahkan shalat 50 kali dalam sehari semalam. Namun, melalui diskusi yang panjang dan saran dari Nabi Musa AS, Rasulullah SAW meminta keringanan hingga menjadi 5 waktu saja.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang panjang:
“Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku shalat lima puluh kali dalam sehari semalam…” (HR. Muslim).
Hingga akhirnya Allah berfirman: “Ia adalah lima (waktu) dan ia adalah lima puluh (pahala). Putusan-Ku tidak dapat diubah lagi.”
Shalat sebagai “Mi’raj”-nya Orang Mukmin
Sahabat Muslim, shalat adalah oleh-oleh langsung dari langit. Jika Nabi Muhammad harus pergi ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah, kita cukup berdiri di atas sajadah. Shalat adalah cara kita “healing” setiap hari untuk melepaskan beban dunia di hadapan Rabb alam semesta.
5. Hikmah di Balik Peristiwa yang Menakjubkan
Meresapi Peristiwa Isra Mi’raj memberikan kita kekuatan baru untuk menghadapi hari esok:
- Keadilan Ilahi: Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya bersedih selamanya. Ada pelangi setelah badai.
- Pentingnya Kualitas Hati: Sebelum berangkat, dada Nabi dibersihkan kembali dengan air Zamzam. Untuk menerima cahaya, hati kita harus bersih dari dendam dan kotoran.
- Ujian Keyakinan: Esok harinya, saat Nabi bercerita, banyak yang tidak percaya. Hanya Abu Bakar yang langsung membenarkan (Ash-Shiddiq). Ini mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada kebenaran meskipun dunia mencemooh.
Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kamu Saat Ini?
Seringkali kita merasa lelah secara mental karena masalah pekerjaan, keluarga, atau impian yang belum terwujud. Kisah ini adalah pengingat bahwa:
- Allah Maha Kuasa: Mengubah kondisi sulitmu semudah Allah memperjalankan Nabi dalam semalam.
- Kamu Berharga: Jika Nabi Muhammad begitu dimuliakan, kamu sebagai umatnya pun dicintai Allah.
- Solusi Itu Dekat: Shalat 5 waktu adalah akses 24/7 untukmu mengadu langsung ke “Pusat Kendali” semesta.
Kesimpulan
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Ia adalah proklamasi tentang kemahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang sedang berduka. Dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha, setiap detiknya adalah pesan cinta bahwa kita tidak pernah dibiarkan berjuang sendirian.
Semoga dengan memahami kronologi dan hikmahnya, hati Sahabat Muslim menjadi lebih tenang, shalatmu menjadi lebih khusyuk, dan jiwamu lebih kuat menghadapi ujian hidup.
Sahabat Muslim ingin tahu lebih banyak tentang keajaiban sejarah Islam atau tips praktis kehidupan muslim lainnya?
Jangan lewatkan informasi mendalam dan inspiratif lainnya di umroh.co. Kami menyajikan berbagai panduan, tips ibadah, dan kisah islami yang dikemas khusus untuk menemani perjalanan spiritualmu sehari-hari.
Yuk, klik dan jelajahi artikel lainnya di website umroh.co untuk memperkaya wawasan keislamanmu sekarang juga!





