Dakwah ke Tha’if merupakan momen paling mengharukan sekaligus inspiratif dalam sejarah Islam yang mengajarkan kita bagaimana mengubah rasa sakit menjadi kekuatan doa, serta membuktikan bahwa balasan terbaik atas keburukan bukanlah dendam, melainkan kasih sayang.
Bagi kita yang sedang berjuang menyembuhkan luka batin karena diperlakukan tidak adil, kisah ini bukan sekadar sejarah yang tertulis di buku. Ini adalah Expert Guide tentang ketangguhan mental dan spiritual yang bisa menjadi obat penenang jiwa. Mari kita duduk sejenak, siapkan secangkir minuman hangat, dan selami perjalanan penuh air mata namun berujung cahaya ini.
Perjalanan Mencari Harapan di Tengah Duka
Sahabat Muslim, bayangkan kondisi Rasulullah SAW saat itu. Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib. Masa ini dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Dengan hati yang masih berduka, beliau berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menuju Tha’if, berharap penduduk di sana mau menerima dakwah dan memberikan perlindungan.
Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan. Alih-alih diterima dengan hangat, tiga pemimpin Bani Thaqif di Tha’if justru menghina beliau dengan kata-kata yang sangat tajam.
Detik-Detik Mengharukan: Hujan Batu di Jalur Pengungsian
Puncak dari peristiwa Dakwah ke Tha’if adalah ketika penduduk kota tersebut diperintahkan untuk berbaris di sepanjang jalan dan melempari Rasulullah SAW dengan batu.
- Luka Fisik yang Hebat: Batu-batu itu mengenai kaki beliau hingga sepatu beliau bersimbah darah.
- Kesetiaan Zaid bin Harithah: Sahabat setia beliau, Zaid, berusaha melindungi Nabi dengan tubuhnya sendiri hingga kepalanya terluka parah.
- Refleksi untuk Kita: Seringkali kita merasa ujian kita berat, namun lihatlah manusia yang paling dicintai Allah ini. Beliau terluka bukan karena kesalahan, tapi karena kasih sayangnya ingin menyelamatkan umat manusia.
Doa di Kebun Anggur: Curhatan Hamba kepada Tuhannya
Dalam keadaan terluka dan lelah, Rasulullah SAW berlindung di sebuah kebun anggur. Di sanalah beliau memanjatkan doa yang sangat melegenda, yang sering disebut sebagai “Doa Tha’if”. Doa ini adalah bentuk komunikasi paling intim antara hamba dan Penciptanya.
Beliau tidak mengeluh tentang perlakuan orang Tha’if, melainkan mengadu tentang kelemahannya sendiri:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia… Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (atas semua penderitaan ini)…”
Sahabat Muslim, poin self-healing di sini adalah: Fokuslah pada rida Allah. Jika Allah rida padamu, maka opini dan perlakuan buruk manusia tidak akan mampu menghancurkan jiwamu.
Tawaran Malaikat dan Jawaban yang Menggetarkan Arsy
Di tengah kepedihan itu, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung. Sang Malaikat berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku akan benturkan dua gunung di kota ini agar penduduknya binasa.”
Bayangkan jika itu kita, Sahabat Muslim. Mungkin kita akan langsung setuju agar rasa sakit hati kita terbalaskan. Namun, Rasulullah SAW justru menjawab:
“Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari & Muslim).
Inilah bukti nyata firman Allah:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
7 Pelajaran Penting untuk Ketahanan Mental Kita
Dari peristiwa Dakwah ke Tha’if, kita bisa mengambil sari pati hikmah untuk kehidupan sehari-hari:
- Sabar itu Aktif, Bukan Pasif: Sabar bukan berarti diam ditindas, tapi memilih untuk tidak membalas dengan keburukan yang sama.
- Visi Jauh ke Depan: Jangan hanya melihat luka hari ini. Lihatlah potensi kebaikan di masa depan, sebagaimana Nabi melihat iman pada keturunan orang Tha’if.
- Pentingnya Ruang Curhat (Praying): Jadikan doa sebagai tempat curhat pertama, bukan media sosial. Mengadu kepada Allah memberikan ketenangan yang nyata.
- Kelembutan adalah Kekuatan: Kekerasan mungkin bisa menghancurkan tubuh, tapi hanya kelembutan yang bisa menaklukkan hati.
- Setiap Luka Ada Penawarnya: Tak lama setelah peristiwa Tha’if, Allah menghibur Nabi dengan peristiwa Isra Mi’raj. Percayalah, setelah badaimu, akan ada pelangi.
- Jangan Bergantung pada Manusia: Harapan pada manusia seringkali berujung kecewa. Letakkan harapanmu hanya pada Sang Khalik.
- Memaafkan adalah Healing Terbaik: Menyimpan dendam hanya akan merusak dirimu sendiri. Melepaskan maaf adalah cara tercepat untuk menyembuhkan luka batin.
Keajaiban Addas: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
Di kebun anggur tersebut, seorang budak Nasrani bernama Addas membawakan anggur untuk Nabi. Saat Nabi mengucapkan “Bismillah” sebelum makan, Addas terkejut karena kalimat itu tidak dikenal penduduk sana. Setelah berdialog singkat, Addas akhirnya memeluk Islam dan mencium tangan serta kaki Rasulullah.
Pesan untuk Sahabat Muslim: Terkadang, Allah mengirimkan “Addas” dalam hidup kita—seseorang yang tidak terduga yang memberikan dukungan kecil saat kita merasa dunia sedang memusuhi kita. Syukurilah setiap bantuan sekecil apa pun.
Kesimpulan
Kisah Dakwah ke Tha’if adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari hasil instan. Secara kasat mata, dakwah itu gagal karena beliau diusir. Namun secara spiritual, itu adalah kemenangan besar karena beliau berhasil menjaga hatinya tetap suci dari dendam.
Hari ini, penduduk Tha’if adalah salah satu komunitas muslim yang paling taat. Doa Rasulullah SAW ribuan tahun lalu telah terjawab. Begitu juga dengan doamu, Sahabat Muslim. Jangan berhenti berdoa baik untuk mereka yang menyakitimu, karena siapa tahu, kebaikanmu akan menjadi hidayah bagi mereka kelak.
Apakah Sahabat Muslim sedang mencari kedamaian hati melalui kisah-kisah Islami lainnya atau ingin tahu lebih banyak tentang tips kehidupan muslim yang inspiratif?
Jangan ragu untuk menjelajahi berbagai artikel menenangkan dan informatif lainnya di umroh.co. Kami hadir untuk menemani perjalanan spiritualmu menjadi pribadi yang lebih tangguh dan penuh kasih sayang.
Klik di sini untuk baca artikel menarik lainnya di website umroh.co dan temukan jawaban atas kegelisahan hatimu melalui literasi keislaman yang terpercaya!





