Sejarah Hijrah Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebuah narasi tentang perjalanan fisik dari Mekkah ke Madinah, melainkan sebuah pesan abadi tentang bagaimana ketenangan batin yang bersandar total pada Allah bisa mengubah ketakutan menjadi kemenangan yang mengharukan.
Membicarakan detik-detik perjalanan ini adalah bentuk self-healing yang luar biasa. Kita belajar bahwa “pindah” bukan berarti lari, tapi strategi untuk tumbuh. Mari kita duduk sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan rasakan kedamaian dari setiap langkah kaki Sang Baginda menuju tanah harapan.
1. Detik-Detik Menegangkan di Gua Tsur: Saat Ketakutan Bertemu Iman
Bayangkan sejenak, Sahabat Muslim, berada di dalam sebuah gua yang sempit dan gelap di puncak gunung. Di luar sana, orang-orang yang paling membencimu sedang berdiri tepat di depan mulut gua, hanya perlu menunduk sedikit saja untuk menemukanmu. Inilah yang dialami Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pelukan Penenang untuk Abu Bakar
Saat itu, Abu Bakar merasa sangat cemas, bukan karena takut kehilangan nyawanya sendiri, tapi karena takut sesuatu terjadi pada kekasih Allah. Abu Bakar berbisik, “Jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.”
Namun, Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang hingga kini menjadi obat bagi setiap jiwa yang gelisah:
“Wahai Abu Bakar, apa prasangkamu terhadap dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya? Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keajaiban Kecil yang Melindungi
Allah SWT mengabadikan momen ketenangan ini dalam Al-Qur’an:
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrik Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS. At-Tawbah: 40).
Pelajaran untuk kita: Saat masalah hidup terasa tepat di depan mata, jangan fokus pada masalahnya. Fokuslah pada Siapa yang sedang bersamamu. Ketenangan adalah hak milik mereka yang percaya bahwa Allah tidak pernah tidur.
2. Perjalanan di Padang Pasir: Mencari Cahaya dalam Kesunyian
Setelah tiga hari bersembunyi, perjalanan Sejarah Hijrah Nabi berlanjut melintasi padang pasir yang membara. Ini bukan perjalanan mewah. Ini adalah perjalanan penuh risiko di mana nyawa beliau dihargai 100 ekor unta bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.
- Strategi yang Matang: Rasulullah tidak hanya mengandalkan mukjizat. Beliau menyewa penunjuk jalan ahli (Abdullah bin Uraiqit) dan mengatur logistik dengan rapi melalui keluarga Abu Bakar.
- Kejaran Suraqa bin Malik: Suraqa hampir berhasil menangkap mereka, namun setiap kali ia mendekat, kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Di sini kita belajar: Jika Allah sudah menetapkanmu untuk sampai ke tujuan, tak ada satu pun gangguan yang bisa menghentikanmu.
Sahabat Muslim, perjalanan hijrah ini mengajarkan kita untuk tetap berikhtiar semaksimal mungkin, namun tetap meletakkan hasil akhirnya di tangan Allah. Itulah kunci hidup tanpa beban.
3. Sambutan Meriah di Madinah: Pelangi Setelah Badai
Setelah hari-hari yang panjang dan melelahkan, sampailah beliau di pinggiran kota Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah Al-Munawwarah (Kota yang Bercahaya). Sahabat Muslim, bayangkan getaran kebahagiaan yang membuncah saat itu.
Nyanyian Cinta “Tala’al Badru ‘Alayna”
Penduduk Madinah—kaum Ansar—sudah menunggu di perbatasan kota setiap hari. Saat bayangan Rasulullah muncul, pecahlah kegembiraan yang luar biasa. Anak-anak kecil bernyanyi, kaum wanita meneteskan air mata haru, dan para pria berebut memegang tali kendali unta beliau agar sudi mampir di rumah mereka.
- Persaudaraan yang Tulus: Kaum Ansar tidak hanya menyambut, mereka membagi rumah dan harta mereka dengan kaum Muhajirin yang datang tanpa membawa apa-apa.
- Titik Balik Peradaban: Di Madinah, Islam tidak lagi hanya menjadi sebuah keyakinan yang tertindas, tapi menjadi sistem kehidupan yang penuh kasih sayang dan keadilan.
Mengapa Kisah Hijrah Penting untuk “Healing” Kita Sekarang?
Meresapi Sejarah Hijrah Nabi membantu kita memproses rasa sakit dan kegagalan dengan cara yang lebih sehat:
- Hijrah adalah Move On: Hijrah bukan hanya pindah tempat, tapi pindah dari kebiasaan buruk ke kebiasaan baik, dari kecemasan ke keyakinan.
- Kehadiran Sahabat Sejati: Abu Bakar adalah simbol bahwa dalam kesulitan, kita butuh support system yang tulus. Jadilah sahabat yang menenangkan bagi orang lain.
- Harapan Itu Selalu Ada: Jika Rasulullah yang dikepung pedang saja bisa sampai ke Madinah dengan selamat, apalah artinya masalah-masalah kita di hadapan kekuasaan Allah?
Kesimpulan
Perjalanan Sejarah Hijrah Nabi membuktikan bahwa akhir yang indah (Madinah) hanya bisa dicapai melalui keberanian untuk meninggalkan zona nyaman (Mekkah) dan ketabahan melewati masa-masa gelap (Gua Tsur). Jangan pernah putus asa dengan keadaanmu hari ini. Tarik napas, kuatkan iman, dan mulailah melangkah. Allah selalu bersamamu.
Apakah Sahabat Muslim ingin mendalami lebih banyak rahasia ketenangan dari kisah para nabi atau mencari tips praktis kehidupan muslim lainnya?
Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai artikel inspiratif, panduan ibadah yang menyejukkan jiwa, serta informasi keislaman yang mendalam di umroh.co. Mari terus perkaya literasi spiritual kita agar hidup menjadi lebih bermakna dan penuh cahaya.
Yuk, klik dan baca artikel menarik lainnya di website umroh.co untuk informasi lainnya seputar keislaman dan kehidupan muslim yang inspiratif!





