Sejarah Masjid Nabawi dimulai dari sebuah kesederhanaan yang mendalam, di mana cinta dan keadilan diletakkan di atas fondasi bangunan yang kini menjadi jantung bagi jutaan umat manusia di seluruh dunia.
Membicarakan sejarah masjid ini bukan sekadar urutan angka dan tahun, melainkan sebuah perjalanan self-healing yang mengajarkan kita tentang arti kepemilikan, kerendahan hati, dan bagaimana membangun peradaban dimulai dari tempat sujud. Mari kita selami lebih dalam kisah mengharukan di balik berdirinya tempat paling dirindukan ini.
1. Saat Unta Menjadi Penunjuk Jalan Takdir
Sahabat Muslim, bayangkan suasana Madinah saat Rasulullah SAW pertama kali tiba setelah perjalanan Hijrah yang melelahkan. Semua orang berebut ingin rumahnya disinggahi oleh sang Nabi. Namun, dengan penuh kebijaksanaan dan untuk menghindari kecemburuan, beliau bersabda:
“Biarkanlah unta ini jalan, karena sesungguhnya ia telah diperintah (oleh Allah).”
Unta tersebut, yang bernama Al-Qashwa, akhirnya berhenti dan berlutut di sebuah tempat penjemuran kurma. Di sinilah takdir besar dimulai. Tempat berlututnya unta tersebut menjadi titik di mana Masjid Nabawi akan dibangun.
2. Tanah Dua Anak Yatim: Keadilan di Atas Segalanya
Tahukah Sahabat Muslim bahwa lahan awal masjid ini bukanlah milik penguasa atau bangsawan? Tanah tersebut adalah milik dua anak yatim dari Bani Najjar yang bernama Sahl dan Suhail.
- Rasulullah Menolak Tanah Gratis: Ketika mengetahui tanah itu milik anak yatim, mereka berniat memberikannya secara cuma-cuma sebagai hadiah untuk Nabi. Namun, Rasulullah SAW menolak dengan halus. Beliau bersikeras untuk membelinya agar hak anak yatim tersebut tetap terjaga.
- Transaksi yang Penuh Berkah: Akhirnya, tanah itu dibeli dengan harga 10 dinar emas yang dibayarkan melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ini adalah pelajaran besar bagi kita: Keberkahan sebuah bangunan dimulai dari kehalalan dan keadilan cara memperoleh tanahnya.
3. Arsitektur Cinta: Membangun dengan Tangan Sendiri
Dalam Sejarah Masjid Nabawi, kita melihat bagaimana seorang pemimpin tertinggi tidak hanya memberi perintah. Rasulullah SAW turun langsung mengangkut batu dan bata bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar.
- Bahan yang Sangat Sederhana: Awalnya, masjid ini hanya beralaskan tanah, berdinding tanah liat yang dikeringkan, dan bertiangkan batang pohon kurma. Atapnya pun hanya dari pelepah kurma.
- Tanpa Kemewahan, Penuh Ketenangan: Meskipun sangat sederhana, di sinilah para sahabat menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan permata apa pun. Hal ini terekam dalam hadis: “Sesungguhnya bangunan ini (masjid) adalah tempat untuk dzikrullah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim).
4. Transformasi Menjadi Pusat Pemerintahan Dunia
Seiring waktu, fungsi Masjid Nabawi berkembang pesat. Ia tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat gravitasi bagi seluruh urusan umat Islam.
Sebagai Madrasah Pertama (Ashabush Suffah)
Di bagian belakang masjid, terdapat area yang disebut Suffah. Di sinilah para sahabat yang miskin dan tidak memiliki rumah tinggal (seperti Abu Hurairah) dididik langsung oleh Nabi. Ini adalah cikal bakal universitas Islam pertama di dunia.
Sebagai Kantor Pusat Pemerintahan
Di masjid inilah Rasulullah SAW:
- Menerima utusan-utusan diplomatik dari luar negeri.
- Mengatur strategi sosial dan ekonomi masyarakat Madinah.
- Memutuskan perkara hukum dengan penuh keadilan.
- Menyusun rencana kemanusiaan dan pertahanan.
Pelajaran untuk kita adalah bahwa spiritualitas tidak seharusnya terpisah dari kehidupan sosial. Ibadah yang benar akan melahirkan dampak sosial yang nyata.
5. Raudhah: Taman Surga yang Menenangkan Jiwa
Salah satu bagian yang paling dicari dalam Sejarah Masjid Nabawi adalah Raudhah. Rasulullah SAW bersabda:
“Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (Raudhah) dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sahabat Muslim, Raudhah adalah pengingat bahwa di dunia yang fana ini, Allah memberikan “potongan surga” sebagai tempat kita mengadu dan memohon ampunan. Jika saat ini hatimu sedang gundah, bayangkanlah dirimu bersujud di sana, melepaskan segala beban di hadapan Sang Pencipta.
Mengambil Hikmah untuk Ketenangan Diri
Meresapi sejarah masjid ini membantu kita melakukan re-charge iman:
- Sederhana itu Indah: Ketenangan tidak selalu datang dari kemewahan, tapi dari kedekatan dengan Allah.
- Hargai Hak Orang Lain: Sebagaimana Nabi menghargai hak anak yatim, jagalah integritas kita dalam mencari rezeki.
- Masjid adalah Rumah Kedua: Jadikan masjid sebagai tempat kembali saat dunia terasa menyesakkan.
Kesimpulan
Sejarah Masjid Nabawi mengajarkan kita bahwa sesuatu yang dibangun dengan ketulusan, keadilan, dan cinta akan terus abadi dan memberikan manfaat bagi generasi setelahnya. Dari sebuah lahan sederhana milik dua anak yatim, kini Masjid Nabawi menjadi mercusuar cahaya yang menerangi hati miliaran manusia.
Semoga suatu saat nanti, Allah memberikan kesempatan kepada Sahabat Muslim untuk hadir langsung di sana, menghirup udara Madinah yang tenang, dan bershalawat di hadapan makam baginda Rasulullah SAW.
Ingin tahu lebih banyak tentang rahasia tempat-tempat suci lainnya atau panduan ibadah yang menenangkan hati?
Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai artikel inspiratif, tips kehidupan muslim, dan informasi mendalam lainnya di umroh.co. Mari terus perkaya pengetahuan keislaman kita agar setiap langkah kita menjadi lebih bermakna.
Yuk, klik dan baca artikel menarik lainnya di website umroh.co untuk informasi lainnya seputar keislaman dan kehidupan muslim yang inspiratif!





