Sejarah Masjidil Haram bukan hanya tentang deretan angka luas tanah atau kemegahan marmer, melainkan tentang bagaimana Allah SWT senantiasa meluaskan “rumah-Nya” agar setiap hamba yang datang dari berbagai penjuru dunia merasa diterima, aman, dan tenteram.
Mempelajari evolusi Masjidil Haram adalah sebuah perjalanan self-healing. Kita belajar bahwa sebagaimana Masjid ini terus tumbuh dan meluas untuk menampung jutaan doa, hati kita pun harusnya terus meluas untuk menampung rahmat dan kesabaran. Mari kita duduk sejenak, siapkan hati yang tenang, dan mari kita susuri jejak perubahan kiblat umat Islam ini dari masa ke masa.
1. Masa Awal: Fondasi Cinta Nabi Ibrahim dan Ismail
Sahabat Muslim, mari kita bayangkan ribuan tahun lalu di sebuah lembah kering yang tak berpenghuni. Di sanalah, atas perintah Allah, Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, membangun kembali Ka’bah. Saat itu, Masjidil Haram belum memiliki dinding atau pagar. Batasnya hanyalah bangunan Ka’bah itu sendiri dan area kosong di sekelilingnya untuk tawaf.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an mengenai momen agung ini:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (QS. Al-Baqarah: 127).
Ketenangan dari masa ini adalah kesederhanaan. Bahwa hubungan dengan Allah tidak dimulai dari kemegahan fisik, tapi dari ketulusan pondasi hati.
2. Era Khulafaur Rasyidin: Saat Cinta Membutuhkan Ruang
Seiring dengan pesatnya perkembangan Islam, jumlah jamaah mulai meningkat. Sahabat Muslim, di sinilah kebijakan-kebijakan visioner mulai lahir.
- Khalifah Umar bin Khattab (17 H): Beliau adalah orang pertama yang membeli rumah-rumah di sekitar Ka’bah untuk memperluas area tawaf. Beliau juga membangun pagar tembok setinggi kurang dari dua meter untuk menandai batas masjid dan memasang lampu-lampu penerangan untuk pertama kalinya.
- Khalifah Utsman bin Affan (26 H): Beliau meluaskan lagi area masjid dan yang paling monumental adalah beliau membangun atap dan serambi (portico) untuk melindungi jamaah dari terik matahari dan hujan.
Pelajaran healing di sini: Saat ketaatan kita bertumbuh, kita seringkali perlu “meluaskan” kapasitas kesabaran dan waktu kita untuk Allah.
3. Masa Dinasti Umayyah dan Abbasid: Sentuhan Estetika dan Menara
Pada masa ini, Masjidil Haram mulai mendapatkan bentuk arsitekturnya yang lebih artistik. Khalifah-khalifah seperti Al-Walid bin Abdul Malik menghiasi masjid dengan pilar-pilar marmer yang dibawa dari Mesir dan Syam, serta menghiasi langit-langitnya dengan emas.
- Pembangunan Menara: Di masa Dinasti Abbasid, khususnya Khalifah Al-Mansur dan Al-Mahdi, menara-menara mulai dibangun. Ini berfungsi sebagai penanda dari kejauhan bagi para peziarah yang lelah berjalan melintasi padang pasir, memberikan harapan bahwa “rumah” mereka sudah dekat.
- Area Tawaf yang Melingkar: Area masjid dibuat lebih melingkar dan rapi, memastikan aliran jamaah tetap tenang dan khusyuk saat mendekat ke Baitullah.
4. Masa Turki Utsmani: Kubah-Kubah Ikonik yang Bertahan Lama
Sahabat Muslim pasti familiar dengan bangunan masjid yang memiliki deretan kubah kecil yang cantik di sekeliling Ka’bah. Itu adalah warisan dari Kesultanan Turki Utsmani di bawah Sultan Selim II dan Sultan Murad IV.
Mereka membangun kembali bagian masjid yang rusak dengan sangat teliti. Arsitek legendaris Mimar Sinan ikut berperan dalam merancang struktur yang kokoh. Kubah-kubah ini bukan sekadar hiasan, tapi simbol perlindungan dan keindahan yang abadi. Hingga saat ini, sebagian dari struktur Utsmani masih dipertahankan di tengah bangunan modern sebagai penghormatan terhadap sejarah.
5. Era Arab Saudi Tahap Pertama: Revolusi Kenyamanan
Memasuki abad modern, jumlah jamaah haji melonjak drastis. Di bawah kepemimpinan Raja Abdulaziz, perluasan besar-besaran dimulai secara sistematis.
- Lantai Bertingkat: Untuk pertama kalinya, ide lantai dua diperkenalkan untuk menampung lebih banyak jamaah tawaf dan sa’i.
- Pemisahan Jalur: Jalur sa’i antara Shafa dan Marwah diperlebar dan diberikan atap yang lebih dingin, sehingga jamaah tidak lagi kepanasan.
- Fasilitas Air Zamzam: Pendistribusian air Zamzam mulai dikelola secara lebih modern agar setiap jamaah bisa melepas dahaga dengan mudah dan higienis.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Air Zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya.” (HR. Ibnu Majah).
Fasilitas yang membaik memastikan jamaah bisa meminum air suci ini dengan tenang sambil memanjatkan doa-doa terbaik mereka.
6. Era Raja Fahd dan Raja Abdullah: Kemegahan yang Tak Terbayangkan
Perluasan di masa ini benar-benar mengubah wajah Sejarah Masjidil Haram. Area masjid meluas hingga berkali-kali lipat.
- Penyejuk Udara (AC): Masjidil Haram mulai dilengkapi dengan sistem pendingin udara yang luar biasa canggih, membuat jamaah merasa sejuk di tengah cuaca Makkah yang ekstrem.
- Marmer Anti Panas: Tahukah Sahabat Muslim? Lantai di sekitar Ka’bah menggunakan marmer khusus dari Yunani (Thassos) yang tetap dingin meski terpapar matahari terik. Ini adalah bentuk kasih sayang pemimpin umat agar kaki para jamaah tidak melepuh saat tawaf.
- Perluasan Area Sa’i (Mas’a): Area sa’i diperluas secara masif menjadi beberapa lantai dengan eskalator dan fasilitas kursi roda elektrik.
7. Era Raja Salman: Masa Depan yang Canggih dan Inklusif
Saat ini, di bawah kepemimpinan Raja Salman bin Abdulaziz, perluasan tahap ketiga sedang berlangsung. Fokusnya adalah pada teknologi dan aksesibilitas.
- Kapasitas Jutaan Jamaah: Targetnya adalah mampu menampung lebih dari 2 juta jamaah dalam satu waktu shalat.
- Gerbang-Gerbang Raksasa: Pintu-pintu masjid dibuat sangat tinggi dan luas untuk memudahkan sirkulasi udara dan manusia.
- Akses Disabilitas: Fasilitas untuk jamaah lansia dan difabel menjadi prioritas utama, memastikan bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, bisa merasakan kehangatan rumah Allah.
Mengapa Mengetahui Sejarah Ini Memberikan Ketenangan?
Sahabat Muslim, seringkali kita merasa bahwa masalah kita tidak memiliki jalan keluar. Namun, coba lihat Sejarah Masjidil Haram. Dari sebuah kotak sederhana di lembah sunyi, Allah meluaskannya sedemikian rupa hingga menjadi pusat dunia.
- Bukti Kasih Sayang Allah: Allah tidak membiarkan jamaah-Nya kesempitan. Dia selalu menggerakkan hati manusia untuk membangun dan meluaskan Masjid ini.
- Belajar Adaptasi: Masjidil Haram berubah bentuk tapi esensinya (Ka’bah) tetap sama. Begitu pun hidup kita, kita boleh berubah status, jabatan, atau kondisi, selama “kiblat” hati kita tetap kepada-Nya.
- Harapan yang Selalu Ada: Jika Masjidil Haram saja bisa meluas dari kapasitas ratusan orang menjadi jutaan, maka Allah pun sangat sanggup meluaskan rezeki dan kelapangan hatimu.
Kesimpulan
Sejarah Masjidil Haram adalah bukti nyata janji Allah bahwa Baitullah akan menjadi tempat berkumpul dan aman bagi manusia. Perubahan dari masa Nabi Ibrahim hingga era modern hari ini adalah cermin dari pertumbuhan iman yang dinamis. Masjid ini bukan sekadar bangunan, tapi ia adalah saksi bisu jutaan air mata taubat dan jutaan senyum syukur yang telah tertumpah di lantainya.
Semoga dengan membaca evolusi megah ini, rindu Sahabat Muslim kepada Baitullah semakin membuncah dan Allah segera mengundangmu untuk bersujud langsung di hadapan Ka’bah yang mulia.
Apakah Sahabat Muslim merasa terpanggil untuk segera mengobati rindu dan bersujud di Masjidil Haram?
Jangan biarkan niat baikmu hanya menjadi angan-angan. Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai informasi persiapan ibadah, panduan manasik yang menenangkan, hingga tips memilih perjalanan umroh yang aman dan nyaman di umroh.co. Mari persiapkan perjalanan spiritual terbaikmu sekarang juga, agar setiap langkahmu di Masjidil Haram menjadi momen healing yang abadi bagi jiwa.
Yuk, klik dan baca artikel inspiratif lainnya di website umroh.co untuk informasi lainnya seputar keislaman dan kehidupan muslim yang menyejukkan hati!





