Masa Kepemimpinan Umar bin Khattab mencatatkan sebuah sejarah luar biasa tentang bagaimana seorang pemimpin tertinggi justru memilih untuk menjadi orang yang paling pertama merasakan lapar dan orang yang paling terakhir merasakan kenyang saat krisis besar melanda.
Memahami cara Umar melewati masa-masa sulit bukan hanya soal belajar sejarah politik Islam, melainkan sebuah bentuk self-healing spiritual. Kita akan belajar bahwa di balik setiap kesulitan, ada ketenangan yang bisa ditemukan melalui empati dan kedekatan kepada Sang Khalik. Mari kita selami perlahan kisah yang akan menggetarkan hati ini.
Am al-Ramada: Ketika Bumi Menjadi Abu dan Langit Menahan Hujannya
Sahabat Muslim, bayangkan sebuah masa di mana tanah yang biasanya cokelat berubah menjadi kelabu seperti abu karena kekeringan yang teramat panjang. Itulah yang disebut Am al-Ramada atau Tahun Abu. Angin yang bertiup pun membawa debu yang menyesakkan, sementara ternak-ternak mati karena tidak ada lagi rumput yang bisa dimakan.
Pada periode ini, ujian bagi umat Islam sangatlah berat. Kelaparan merajalela, dan ribuan orang dari pelosok gurun datang menyerbu Madinah untuk mencari perlindungan dan sesuap makanan. Di sinilah kualitas kepemimpinan Umar bin Khattab diuji bukan dengan kata-kata, melainkan dengan air mata dan pengorbanan yang nyata.
Filosofi Hidup Sederhana Umar: Menghancurkan Ego Pemimpin
Di tengah krisis yang begitu hebat, apa yang dilakukan oleh Umar? Apakah beliau bersembunyi di dalam rumah yang nyaman dengan cadangan makanan melimpah? Sama sekali tidak, Sahabat Muslim. Beliau justru melakukan sesuatu yang di luar logika manusia biasa pada zaman sekarang.
Mengharamkan Daging dan Lemak bagi Diri Sendiri
Suatu ketika, pelayan Umar membawakan minyak samin dan daging untuk makan malam beliau. Umar bertanya, “Dari mana ini?” Pelayan itu menjawab bahwa ia membelinya dengan harga yang agak mahal. Umar kemudian berkata dengan nada yang penuh kesedihan, “Engkau adalah pelayan yang buruk. Bagaimana aku bisa merasakan penderitaan rakyatku jika aku sendiri makan daging dan minyak samin, sementara mereka hanya bisa makan minyak zaitun?”
Sejak saat itu, Umar bersumpah tidak akan menyentuh daging, susu, maupun lemak sampai seluruh rakyatnya bisa memakannya kembali. Akibatnya, kulit beliau yang tadinya cerah berubah menjadi gelap dan asy (seperti warna abu) karena hanya mengonsumsi minyak zaitun yang asam. Inilah bentuk empati tertinggi; merasakan apa yang rakyatnya rasakan di dalam perutnya sendiri.
“Berbunyilah Sesukamu, Wahai Perutku”
Ada sebuah riwayat yang sangat menyentuh hati. Karena hanya makan makanan yang sangat sederhana dan kasar, perut Umar seringkali berbunyi keras (keroncongan). Di depan orang banyak, Umar berbicara kepada perutnya sendiri: “Berbunyilah sesukamu, wahai perutku! Demi Allah, engkau tidak akan merasakan nikmatnya makanan sampai anak-anak kaum muslimin merasa kenyang lebih dulu.”
Sahabat Muslim, pelajaran self-healing di sini adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan kekurangan. Umar mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita makan, tapi pada ketenangan jiwa karena telah menunaikan hak orang lain.
Langkah Strategis Umar Mengatasi Krisis Pangan Besar
Sebagai seorang Expert Guide dalam sejarah ini, saya ingin menunjukkan bahwa Umar tidak hanya bermodal empati, tapi juga strategi yang sangat brilian. Beliau tidak berpangku tangan menunggu keajaiban, tapi melakukan tindakan nyata yang terstruktur.
- Mobilisasi Bantuan Antar Wilayah: Umar mengirimkan surat kepada gubernur-gubernurnya di wilayah yang lebih subur, seperti Amr bin Ash di Mesir dan Abu Musa Al-Asy’ari di Bashrah. Beliau menulis: “Wahai Amr! Demi Allah, apakah kamu akan membiarkan aku dan orang-orang di sekitarku binasa, sementara kamu dan orang-orang di sekitarmu hidup makmur?”
- Logistik yang Luar Biasa: Amr bin Ash menjawab dengan mengirimkan kafilah bantuan yang begitu panjang. Dikatakan bahwa kepala kafilah sudah sampai di Madinah, sementara ekornya masih berada di Mesir. Umar sendiri yang turun tangan mendistribusikan bantuan tersebut di gerbang kota.
- Mendirikan Dapur Umum: Umar memerintahkan pembuatan dapur umum besar yang melayani ribuan orang setiap harinya. Beliau memastikan tidak ada satu pun orang yang tidur dalam keadaan lapar malam itu.
Ijtihad Kemanusiaan: Keadilan di Atas Segalanya
Ada satu kebijakan Umar yang sangat fenomenal pada masa krisis ini. Beliau menangguhkan hukuman Hadd (potong tangan) bagi pencuri. Mengapa? Karena beliau tahu banyak orang mencuri karena terdesak oleh kelaparan yang luar biasa.
Umar memahami bahwa keadilan tidak bisa ditegakkan jika kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. Beliau menunjukkan wajah Islam yang sangat manusiawi—bahwa aturan agama ada untuk menjaga manusia, bukan untuk menyengsarakan mereka di tengah bencana. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pandangan beliau dalam memahami syariat.
Menemukan Ketenangan Lewat Keteladanan Umar
Sahabat Muslim, mungkin kita tidak sedang memimpin sebuah negara, tapi kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Di saat kita merasa cemas dengan kenaikan harga pangan atau ketidakpastian ekonomi, ingatlah cara Umar bersikap:
- Mendekat kepada Allah (Shalat Istisqa): Umar mengajak seluruh penduduk untuk bertaubat dan melakukan shalat minta hujan. Beliau sadar bahwa solusi teknis harus dibarengi dengan solusi spiritual.
- Transparansi dan Kejujuran: Umar tidak pernah menutupi kondisi yang sebenarnya. Beliau jujur pada rakyatnya, sehingga rakyat pun percaya dan bersabar bersamanya.
- Memperkecil Jarak: Umar menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin. Ketika semua orang merasakan penderitaan yang sama, beban tersebut akan terasa lebih ringan untuk dipikul bersama.
Referensi Hadist dan Ayat Al-Quran yang Relevan
Kisah Masa Kepemimpinan Umar ini didukung oleh nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pondasi utama beliau.
- Dalam Al-Quran (Surah Al-Baqarah: 155): “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Umar memahami ayat ini sebagai ujian yang harus dilewati dengan kesabaran aktif.
- Dalam Hadist (Tentang Pemimpin): Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah yang membuat Umar selalu merasa gemetar jika ada rakyatnya yang kelaparan.
- Tentang Empati: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari).
Kesimpulan
Masa Kepemimpinan Umar bin Khattab adalah bukti bahwa krisis sebesar apa pun bisa diatasi jika ada integritas dan kasih sayang di dalamnya. Beliau berhasil mengubah Tahun Abu yang kelam menjadi tahun kemenangan spiritual bagi umat. Hidup sederhana yang beliau jalani bukanlah karena beliau miskin, tapi karena beliau ingin kaya dalam pengabdian kepada Allah SWT.
Apakah Sahabat Muslim merasa lebih tenang setelah mendengar kisah ini? Bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya jika kita mau peduli dan berbagi?
Jangan biarkan semangat belajar sejarah ini padam. Dunia Islam masih menyimpan ribuan kisah inspiratif yang bisa menjadi obat bagi kegundahan hati kita di zaman modern ini.
Yuk, terus perdalam pengetahuan keislaman Sahabat dan temukan panduan hidup yang menenangkan jiwa hanya di umroh.co. Dapatkan informasi lengkap mulai dari sirah nabawiyah, tips kehidupan harian muslim, hingga persiapan ibadah ke tanah suci yang akan membuat langkah Sahabat semakin mantap.
Baca artikel inspiratif lainnya dan temukan ketenangan spiritualmu di umroh.co sekarang!





