Sejarah Kalender Hijriah bermula dari sebuah kebutuhan mendalam untuk mengatur urusan umat dan menetapkan identitas yang teguh di tengah pesatnya perkembangan wilayah Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Bagi kita yang sering kali merasa “tersesat” dalam rutinitas duniawi, memahami bagaimana para sahabat Nabi menetapkan penanggalan Islam bisa menjadi momen self-healing yang menenangkan. Kita akan belajar bahwa waktu dalam pandangan Islam bukan sekadar pergantian matahari dan bulan, melainkan sebuah kesempatan untuk melakukan hijrah atau perubahan menuju versi terbaik diri kita. Mari kita hirup napas dalam-dalam, lepaskan kepenatan, dan mari kita selami kisah penuh kebijaksanaan di balik terciptanya kalender kita tercinta ini.
Kerumunan Surat Tanpa Tanggal: Awal Mula Sebuah Kebutuhan
Sahabat Muslim, bayangkan dirimu hidup di zaman ketika surat-surat administratif negara datang bertumpuk tanpa ada catatan tahunnya. Di masa kepemimpinan Umar bin Khattab, wilayah Islam sudah membentang luas mulai dari semenanjung Arab, Persia, hingga Syam dan Mesir. Namun, ada satu masalah kecil yang memicu kebingungan besar: administrasi negara belum memiliki sistem penanggalan yang seragam.
Pada tahun ke-17 setelah Hijrah, Gubernur Bashrah, Abu Musa Al-Ash’ari, mengirimkan surat kepada Khalifah Umar. Beliau menyampaikan kegundahan hatinya: “Wahai Amirul Mukminin, surat-suratmu sampai kepada kami, namun kami bingung karena surat itu tidak memiliki tanggal. Kami menerima surat di bulan Sya’ban, namun kami tidak tahu apakah itu Sya’ban tahun ini atau tahun lalu.”
Kekacauan administrasi ini bukan sekadar soal surat-menyurat, tapi menyangkut keadilan, perjanjian dagang, hingga penetapan gaji pasukan. Inilah pelajaran pertama bagi kita; bahwa ketidakteraturan bisa mendatangkan kecemasan. Sebagaimana Umar yang langsung bertindak, kita pun diajak untuk merapikan “catatan” hidup kita agar batin terasa lebih lapang dan tenang.
Musyawarah Agung: Mencari Titik Tolak Peradaban
Menanggapi laporan tersebut, Umar bin Khattab segera mengumpulkan para sahabat besar di Madinah. Beliau mengajak mereka bermusyawarah—sebuah tradisi Islam yang sangat indah untuk memecahkan kebuntuan batin dan sosial. Sahabat Muslim, bayangkan suasana di Masjid Nabawi saat itu; para pemikir besar Islam duduk bersama, mencari sebuah identitas waktu yang membedakan umat Islam dengan umat lainnya.
Dalam forum tersebut, muncul beberapa opsi yang diajukan oleh para sahabat untuk menentukan kapan tahun pertama Islam dimulai:
- Tahun Kelahiran Nabi (Amul Fil): Sebagian mengusulkan agar tahun dimulai sejak Nabi Muhammad ﷺ lahir. Namun, usul ini dikesampingkan karena menyerupai tradisi kaum Nasrani yang menggunakan kelahiran Nabi Isa AS sebagai awal kalender.
- Tahun Pengangkatan Menjadi Rasul: Ada yang mengusulkan tahun saat wahyu pertama turun.
- Tahun Wafatnya Rasulullah ﷺ: Opsi ini segera ditolak karena wafatnya Nabi adalah momen yang sangat menyedihkan bagi umat Islam, dan kalender seharusnya membawa semangat, bukan duka yang mendalam.
Di tengah perdebatan tersebut, hadirlah sosok Ali bin Abi Thalib dengan kecerdasan dan hikmahnya yang luar biasa.
Usulan Emas Ali bin Abi Thalib: Mengapa Hijrah?
Sahabat Muslim, Ali bin Abi Thalib mengajukan sebuah usulan yang kemudian disetujui oleh Umar dan seluruh sahabat lainnya. Beliau mengusulkan agar penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah Rasulullah ﷺ dari Mekah ke Madinah.
Ali beralasan bahwa Hijrah adalah peristiwa yang memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang bathil (kebatilan). Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah proklamasi kemandirian umat Islam. Khalifah Umar pun sangat menyukai ide ini. Beliau berkata: “Hijrah telah membedakan antara kebenaran dan kebatilan, maka jadikanlah ia sebagai awal penanggalan.”
Secara psikologis, pilihan ini sangat menenangkan. Kelahiran adalah takdir yang diberikan Allah, namun Hijrah adalah sebuah keputusan aktif untuk berubah. Bagi kita yang sedang merasa terpuruk, sejarah ini berpesan: tidak masalah dari mana kamu memulai (kelahiran), yang paling penting adalah keberanianmu untuk berpindah (hijrah) menuju kebaikan.
Muharram Sebagai Pintu Gerbang: Mengatur Urusan Ibadah
Setelah menyepakati tahunnya, para sahabat kembali bermusyawarah untuk menentukan bulan apa yang akan dijadikan sebagai bulan pertama. Ada yang mengusulkan bulan Ramadhan karena keutamaannya, namun Utsman bin Affan dan beberapa sahabat lainnya mengusulkan bulan Muharram.
Mengapa Muharram?
- Selesainya Ibadah Haji: Muharram adalah waktu di mana orang-orang baru saja kembali dari ibadah haji, sebuah momen penyucian diri yang besar.
- Bulan Haram: Muharram termasuk salah satu bulan suci (Ashhurul Hurum) di mana peperangan dilarang, memberikan suasana damai untuk memulai tahun yang baru.
- Tradisi yang Mengakar: Masyarakat Arab sudah lama mengenal Muharram sebagai awal bulan, sehingga sistem ini lebih mudah diterima tanpa mengubah tatanan yang sudah ada.
Penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah memberikan kita rasa keteraturan dalam beribadah. Ia menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri setelah menjalani ibadah besar di bulan-bulan sebelumnya.
Makna Spiritual Hijrah: Sebuah Terapi bagi Jiwa
Sahabat Muslim, jika kita merenungkan Sejarah Kalender Hijriah, kita akan menemukan sebuah terapi self-healing yang sangat kuat. Mengapa kita tidak menggunakan kalender matahari? Mengapa menggunakan siklus bulan?
Siklus bulan yang dimulai dari sabit kecil, membesar menjadi purnama, lalu mengecil kembali, adalah gambaran kehidupan kita. Ada kalanya iman kita redup, ada kalanya terang benderang. Kalender Hijriah mengajarkan kita untuk menerima fluktuasi kehidupan tersebut dengan tenang.
Hijrah adalah simbol harapan. Jika saat ini Sahabat merasa berada dalam lingkungan yang buruk, atau terjebak dalam kebiasaan yang merusak batin, ingatlah bahwa identitas waktu kita dimulai dari sebuah “perpindahan”.
- Hijrah Hati: Berpindah dari sifat sombong menuju tawadhu.
- Hijrah Lisan: Berpindah dari ghibah menuju zikir yang menenangkan.
- Hijrah Pikiran: Berpindah dari overthinking menuju tawakal.
Landasan Dalil: Waktu dalam Timbangan Syariat
Agar iman kita semakin mantap, mari kita simak referensi yang mendasari pentingnya pengaturan waktu dalam Islam:
- Dalam Al-Qur’an (Surah At-Tawbah: 36): “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus…” Ayat ini menegaskan bahwa sistem dua belas bulan adalah ketetapan ilahi.
- Tentang Bulan Sabit (Surah Al-Baqarah: 189): “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji’…” Ini adalah alasan mengapa Kalender Hijriah menggunakan perhitungan bulan (Qamariyah).
- Hadist Tentang Perubahan: Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang membuat Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).
Keunikan Kalender Hijriah dalam Dunia Modern
Sebagai Expert Guide, saya ingin menunjukkan betapa uniknya sistem penanggalan kita ini dibanding sistem masehi:
- Perhitungan Hari: Hari dalam Islam dimulai sejak matahari terbenam (Maghrib), bukan tengah malam. Ini selaras dengan ritme biologis manusia untuk memulai istirahat dan ibadah sebelum beraktivitas di siang hari.
- Siklus yang Dinamis: Karena lebih pendek sekitar 11 hari dari kalender masehi, hari-hari besar Islam (seperti Ramadhan dan Idul Fitri) bisa dirasakan di berbagai musim yang berbeda. Ini adalah keadilan Allah agar umat di seluruh dunia merasakan durasi puasa yang bergantian antara musim panas dan musim dingin.
- Keterikatan dengan Ibadah: Hampir seluruh ibadah wajib kita (Puasa, Haji, Zakat) terikat langsung dengan kalender ini. Mengabaikannya berarti mengabaikan ritme ibadah kita sendiri.
Kesimpulan
Sejarah Kalender Hijriah adalah warisan jenius dari Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib yang harus kita jaga. Ia bukan sekadar deretan angka di dinding, melainkan identitas yang mengingatkan kita bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk melakukan hijrah menuju keridhaan-Nya. Dengan memahami sejarah ini, semoga hati Sahabat Muslim menjadi lebih tenang dalam memandang waktu; tidak lagi terburu-buru oleh ambisi dunia, tapi tetap teratur dalam mengejar akhirat.
Mari kita jadikan setiap pergantian bulan Hijriah sebagai momentum untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah aku berhijrah hari ini?”
Apakah Sahabat ingin tahu lebih banyak tentang rahasia keistimewaan bulan-bulan haram lainnya, atau ingin tips praktis bagaimana mengatur jadwal harian sesuai waktu shalat agar batin tetap tenang? Jangan biarkan rasa ingin tahu Sahabat berhenti di sini.
Yuk, terus perdalam wawasan keislaman Sahabat, temukan inspirasi sejarah yang menyejukkan batin, hingga informasi terlengkap seputar dunia Islam hanya di umroh.co. Mari kita perkaya hati dan pikiran kita agar setiap langkah hidup kita selalu dalam naungan rahmat dan keberkahan-Nya.
Dapatkan inspirasi keislaman dan informasi kehidupan muslim selengkapnya di umroh.co sekarang!





