Sejarah Mazhab Fiqih hadir bukan untuk memicu perdebatan, melainkan untuk memberikan pemahaman mendalam bahwa perbedaan ijtihad para imam besar Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali adalah manifestasi dari kasih sayang Allah yang luar biasa untuk memudahkan umat-Nya dalam berbagai kondisi dan zaman.
Bagi kita yang sering kali merasa “tercekik” oleh aturan yang kaku atau merasa lelah dengan perdebatan agama yang keras, memahami latar belakang munculnya mazhab-mazhab ini bisa menjadi oase self-healing yang sangat menyejukkan. Kita akan belajar bahwa agama Islam itu luas, luwes, dan sangat memperhatikan kondisi manusia sebagai makhluk yang beragam. Mari kita hirup napas dalam-dalam, lepaskan segala prasangka, dan mari kita mulai perjalanan spiritual menyusuri jejak ilmu para pewaris Nabi ini.
Akar Perbedaan: Mengapa Mereka Tidak Selalu Sama?
Sahabat Muslim, sebelum kita mengenal masing-masing tokohnya, mari kita pahami sebuah prinsip besar: perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama adalah rahmat. Rasulullah ﷺ sendiri telah memberikan “lampu hijau” bagi para pencari kebenaran dalam berijtihad.
Dalam sebuah hadist yang shahih, beliau bersabda: “Apabila seorang hakim menghukumi suatu perkara lalu ia berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi suatu perkara lalu ia berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadist ini adalah bukti betapa Islam menghargai proses berpikir. Para Imam Mazhab tidak pernah berniat untuk saling menyalahi satu sama lain. Mereka hanya berusaha sebaik mungkin untuk memahami wahyu Allah berdasarkan latar belakang geografi, situasi sosial, dan metodologi yang mereka miliki. Inilah keindahan Sejarah Mazhab Fiqih; ia adalah kumpulan kasih sayang yang diformulasikan dalam hukum.
1. Imam Hanafi: Sang Jenius yang Memuliakan Akal di Kufah
Imam Hanafi, atau Nu’man bin Thabit, adalah imam mazhab pertama yang lahir di tengah peradaban kota Kufah, Irak. Kufah saat itu adalah kota metropolis yang sibuk, pusat perdagangan, dan tempat bertemunya berbagai macam budaya.
- Metodologi Ar-Ra’yu (Akal): Karena hidup di tengah masyarakat yang dinamis, Imam Hanafi banyak menggunakan logika dan analogi (qiyas) untuk menjawab tantangan zaman yang belum pernah ada di masa Nabi.
- Memudahkan Urusan Manusia: Beliau dikenal sangat teliti namun sangat berusaha untuk tidak memberatkan orang lain. Beliau sering berkata, “Ini adalah pendapat kami, siapa yang membawa pendapat yang lebih baik, dialah yang lebih layak diikuti.”
- Pesan Penyejuk Jiwa: Jika Sahabat Muslim merasa hidup di zaman yang serba kompleks ini sangat sulit, Mazhab Hanafi memberikan perspektif bagaimana Islam bisa tetap relevan melalui pintu logika yang sehat dan solusi yang praktis.
2. Imam Maliki: Penjaga Tradisi di Kota Cahaya Madinah
Berbeda dengan Imam Hanafi, Imam Malik bin Anas menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Madinah, kota tempat Rasulullah ﷺ menetap dan dimakamkan. Hal ini memberikan warna yang sangat berbeda dalam Sejarah Mazhab Fiqih.
- Amal Ahli Madinah: Imam Malik sangat berpegang teguh pada tradisi penduduk Madinah. Baginya, jika seluruh penduduk Madinah melakukan sesuatu secara turun-temurun, itu adalah bukti nyata dari perilaku Nabi yang paling otentik.
- Ketegasan yang Menenangkan: Beliau adalah sosok yang sangat berwibawa dan tidak mau sembarangan bicara tentang agama. Beliau mengajarkan kita untuk menghormati tradisi dan mencari ketenangan dalam kesahajaan.
- Filosofi Kehidupan: Mazhab Maliki mengingatkan kita untuk selalu “pulang” ke akar, menjaga identitas, dan merasakan getaran iman melalui jejak-jejak sejarah yang masih terjaga.
3. Imam Syafi’i: Sang Jembatan yang Menyatukan Hati
Lalu, muncullah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau adalah murid dari Imam Malik, namun juga mempelajari pemikiran Imam Hanafi melalui murid-muridnya. Di tangan beliau, dua kutub besar—tradisi (Madinah) dan logika (Irak)—bertemu dalam satu harmoni yang indah.
- Metodologi Usul Fiqih: Beliau adalah peletak dasar ilmu Usul Fiqih melalui karyanya, Al-Risalah. Beliau merumuskan aturan main yang jelas tentang bagaimana memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara seimbang.
- Adaptabilitas (Qaul Qadim & Qaul Jadid): Tahukah Sahabat Muslim? Imam Syafi’i pernah mengubah banyak pendapat hukumnya ketika beliau pindah dari Baghdad ke Mesir. Beliau menyadari bahwa perubahan tempat dan budaya bisa memengaruhi hukum.
- Obat bagi Kegelisahan: Keteguhan beliau dalam menyatukan perbedaan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang inklusif. Beliau membuktikan bahwa kita bisa tetap punya prinsip tanpa harus merendahkan mereka yang berbeda.
4. Imam Hambali: Kekuatan Iman di Tengah Ujian Badai
Imam Ahmad bin Hanbal adalah simbol keteguhan hati. Beliau hidup di masa fitnah Mihnah, di mana beliau disiksa karena mempertahankan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan makhluk.
- Kembali ke Nash (Teks): Mazhab Hambali sangat hati-hati. Jika ada hadist yang shahih, beliau akan mendahulukannya di atas logika manusia. Ketaatannya pada teks wahyu memberikan rasa aman bagi mereka yang ingin kepastian murni dari sumbernya.
- Kemandirian dan Zuhud: Imam Ahmad mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah jauh lebih penting daripada jabatan atau pujian manusia.
- Inspirasi Self-Healing: Dari perjuangan beliau, kita belajar tentang ketangguhan mental (resilience). Di tengah tekanan hidup yang paling berat, selama hati kita berpijak pada “tali” Allah yang kuat (wahyu), maka tidak ada badai yang bisa menumbangkan jiwa kita.
Mengapa Perbedaan Ini Penting untuk Kesehatan Mental Kita?
Sahabat Muslim, bayangkan jika dalam Islam hanya ada satu pilihan yang sangat kaku untuk semua orang di seluruh dunia. Bagi mereka yang sakit, mereka yang sedang dalam perjalanan jauh, atau mereka yang tinggal di kutub yang dingin, hidup akan terasa sangat menyiksa.
- Memberikan Kelonggaran (Rukhsah): Mazhab-mazhab ini menyediakan berbagai opsi legal yang tetap syar’i untuk berbagai kondisi darurat manusia.
- Menghilangkan Kebuntuan: Ketika Sahabat merasa buntu dalam satu pendapat, ada pendapat imam lain yang mungkin lebih cocok dengan kondisi sulitmu saat ini, asalkan dilakukan dengan ilmu, bukan hawa nafsu.
- Melatih Kedewasaan Spiritual: Menerima perbedaan dalam Sejarah Mazhab Fiqih melatih otot-otot kesabaran dan kasih sayang kita. Hati yang lapang menerima perbedaan adalah hati yang paling damai.
Landasan Dalil: Islam Adalah Agama Kemudahan
Perjuangan keempat Imam tersebut selaras dengan firman Allah SWT dan bimbingan Rasulullah ﷺ:
- Surah Al-Baqarah Ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” Para Imam Mazhab merumuskan fiqih justru untuk memastikan ayat ini terwujud dalam keseharian kita.
- Surah Al-Ma’idah Ayat 6: “…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, agar kamu bersyukur.” Perbedaan mazhab adalah bagian dari nikmat kemudahan yang harus kita syukuri.
- Kisah Para Sahabat: Di masa Nabi, para sahabat pernah berbeda pendapat dalam memahami perintah Nabi tentang shalat Ashar di Bani Quraizhah. Nabi tidak menyalahkan satu pun dari mereka, justru mengakui kebenaran ijtihad keduanya.
7 Hikmah Meneladani Empat Imam Mazhab
Sebagai panduan ahli, berikut adalah intisari yang bisa Sahabat Muslim terapkan agar batin lebih tenang dalam beragama:
- Hargai Niat Baik: Semua imam memiliki niat murni untuk mencari ridha Allah, meskipun jalannya berbeda.
- Berhenti Menghakimi: Jika imam-imam besar saja saling menghormati, siapakah kita sehingga berani merasa paling benar?
- Belajar dengan Ilmu: Jangan ikut-ikutan tanpa tahu dasarnya. Carilah guru yang bisa menjelaskan sejarah dan alasan di balik sebuah hukum.
- Gunakan Mazhab sebagai Alat, Bukan Sekat: Mazhab adalah jalan menuju Allah, bukan tembok untuk memisahkan persaudaraan.
- Utamakan Akhlak: Perdebatan fiqih tidak boleh menghancurkan ukhuwah Islamiyah.
- Sabar dalam Mencari Solusi: Seperti para imam yang berijtihad bertahun-tahun, bersabarlah dengan proses pencarian ketenangan hidupmu.
- Jadikan Ibadah Sebagai Penyejuk: Pilihlah pendapat yang paling memantapkan hatimu untuk bersujud secara khusyuk kepada-Nya.
Kesimpulan
Sejarah Mazhab Fiqih mengajarkan kita bahwa Islam bukanlah beban, melainkan hadiah kebebasan yang teratur. Keempat imam besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali—telah membukakan pintu-pintu hikmah agar kita bisa masuk menuju keridhaan Allah melalui pintu mana pun yang paling sesuai dengan kapasitas kita. Perbedaan pendapat di antara mereka adalah bukti bahwa Allah Maha Luas ilmu-Nya dan Maha Pengasih pada hamba-Nya.
Semoga renungan tentang perjalanan ilmu ini memberikan ketenangan bagi batin Sahabat Muslim. Bahwa dalam setiap sujudmu, dalam setiap wudhumu, ada doa dan air mata para ulama terdahulu yang memastikan ibadahmu tetap sah dan diterima oleh-Nya.
Ingin tahu lebih banyak tentang tips ibadah harian yang menenangkan jiwa atau rahasia di balik sejarah peninggalan Islam lainnya? Jangan biarkan rasa ingin tahu Sahabat terhenti di sini ya.
Yuk, terus perdalam wawasan keislaman Sahabat, temukan inspirasi sejarah yang menyejukkan batin, hingga informasi terlengkap seputar dunia Islam hanya di umroh.co. Mari kita perkaya hati dan pikiran kita agar setiap langkah hidup kita selalu dalam naungan rahmat, keberkahan, dan ridha-Nya.
Dapatkan inspirasi keislaman dan informasi sejarah Islam selengkapnya di umroh.co sekarang!





