Masjid umayyah yang berdiri kokoh di jantung kota Damaskus, Suriah, adalah jawaban nyata atas pencarian harmoni tersebut, sebuah mahakarya yang membuktikan bahwa keindahan seni manusia bahkan yang berasal dari tradisi Bizantium sekalipun bisa bertransformasi menjadi sarana zikir yang menyejukkan hati jika diletakkan di bawah naungan tauhid.
Bagi kita yang sedang mencari ketenangan batin atau self-healing melalui sejarah, memahami perjalanan masjid tertua dan termegah ini akan membuka mata hati kita tentang betapa luasnya Islam merangkul peradaban. Kita akan belajar bahwa sebuah bangunan tidak hanya terdiri dari batu dan semen, melainkan dari doa, visi, dan toleransi yang melintasi zaman. Mari kita duduk santai sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan mari kita mulai perjalanan menyusuri lorong-lorong cahaya di Masjid Raya Damaskus ini.
Mahakarya Khalifah Al-Walid: Visi Kemegahan di Tanah Syam
Sahabat Muslim, mari kita putar kembali jarum jam menuju tahun 705 Masehi. Di masa kepemimpinan Khalifah Al-Walid bin Abd al-Malik dari Dinasti Umayyah, Islam sedang berada di puncak kejayaannya secara administratif dan budaya. Namun, sang Khalifah merasa umat membutuhkan sebuah simbol identitas yang bukan hanya besar secara ukuran, tapi juga agung secara estetika.
Beliau kemudian memutuskan untuk membangun sebuah masjid yang belum pernah ada tandingannya di muka bumi saat itu. Pembangunan ini memakan waktu sepuluh tahun (selesai tahun 715 M) dan melibatkan ribuan pengrajin dari berbagai penjuru, termasuk para seniman mosaik terbaik dari Bizantium (Konstantinopel).
Pelajaran penting bagi kita: Al-Walid mengajarkan bahwa dalam beribadah dan membangun peradaban, kita tidak boleh setengah-setengah. Beliau memberikan yang terbaik bagi Allah, dan itulah yang membuat karyanya tetap dikenang hingga 1.300 tahun kemudian. Jika Sahabat sedang mengerjakan sesuatu hari ini, lakukanlah dengan niat yang paling tulus dan kualitas yang paling baik, karena keikhlasan adalah bensin bagi keabadian.
Perpaduan Seni Bizantium dan Islam: Harmoni dalam Perbedaan
Satu hal yang membuat batin kita terasa tenang saat melihat arsitektur Masjid umayyah adalah keseimbangannya. Bangunan ini berdiri di atas fondasi bangunan kuno, namun Al-Walid tidak menghancurkan keindahan masa lalu, melainkan menyempurnakannya dengan jiwa Islami.
- Mosaik Emas yang Bercerita: Dinding-dinding masjid ini dihiasi dengan mosaik raksasa yang dibuat oleh seniman-seniman Bizantium. Namun, sesuai dengan aturan Islam, tidak ada gambar manusia atau hewan di sana. Sebagai gantinya, mereka menggambarkan taman-taman yang rimbun, sungai yang mengalir, dan istana-istana indah yang melambangkan keindahan surga.
- Struktur Basilika yang Bertransformasi: Bentuk dasar masjid ini mengadopsi struktur basilika Romawi yang megah, namun tata letaknya diubah secara vertikal menghadap kiblat. Ini adalah simbol adaptabilitas; bagaimana sesuatu yang lama bisa mendapatkan “ruh” baru yang lebih suci.
- Pelataran Luas (Sahn): Lantai marmer putih di pelataran tengah memberikan efek pendinginan alami. Berdiri di sana di bawah sinar matahari Syam seolah-olah memberikan ruang bagi paru-paru kita untuk bernapas lebih lega setelah terhimpit beban dunia.
Melihat harmoni ini seolah mengingatkan kita bahwa di dalam diri kita pun terdapat berbagai latar belakang dan pengalaman masa lalu yang mungkin pahit. Namun, jika kita mampu memadukannya dengan iman, maka luka masa lalu itu bisa menjadi mosaik yang indah di masa depan.
Jejak Nabi Yahya AS: Ketenangan di Balik Kubah Hijau
Sahabat Muslim, di dalam ruang shalat utama masjid yang sangat luas ini, terdapat sebuah monumen kecil yang sangat sakral. Diyakini di sanalah tempat disemayamkannya kepala Nabi Yahya AS (John the Baptist). Keberadaan relik ini menjadikan Masjid Umayyah unik; ia menjadi titik temu yang sangat dihormati oleh umat Islam maupun Nasrani.
Merenungi kisah Nabi Yahya di tengah kemegahan masjid ini memberikan efek healing yang mendalam. Beliau adalah sosok yang sangat lembut, zuhud, dan teguh pada kebenaran. Kehadirannya di jantung masjid ini seolah membisikkan pesan kepada kita bahwa di balik kemegahan duniawi (arsitektur emas), inti dari hidup adalah kesucian batin dan kepasrahan kepada Allah SWT.
3 Menara Legendaris: Menanti Janji Akhir Zaman
Tidak lengkap rasanya membahas Masjid umayyah tanpa melihat ke langit. Masjid ini memiliki tiga menara yang masing-masing membawa cerita dan nubuat yang menggetarkan jiwa:
- Menara Al-Arus (Menara Pengantin): Menara tertua yang menjadi prototipe bagi menara-menara masjid di seluruh Afrika Utara dan Spanyol.
- Menara Qaitbay: Mahakarya dari era Mamluk yang menunjukkan kesinambungan kepedulian pemimpin Muslim terhadap masjid ini.
- Menara Isa (Menara Putih): Inilah menara yang paling emosional bagi umat Islam.
Rahasia Menara Isa AS
Ada sebuah hadist yang membuat setiap langkah di sekitar Masjid Umayyah terasa sangat sakral. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ia (Isa bin Maryam) akan turun di sisi menara putih di sebelah timur Damaskus dengan mengenakan dua pakaian yang dicelup dengan za’faran…” (HR. Muslim).
Meskipun terdapat beberapa interpretasi mengenai lokasi menara ini, mayoritas ulama dan penduduk Damaskus meyakini bahwa menara tersebut adalah salah satu menara di Masjid Umayyah. Mengingat hadist ini memberikan kita perspektif akhirat yang kuat; bahwa dunia ini hanyalah panggung sementara, dan masjid ini adalah saksi bisu penantian janji Allah yang pasti akan tiba.
Filosofi Keadilan dan Toleransi di Masa Umayyah
Sahabat Muslim, keindahan Masjid umayyah bukan hanya pada fisiknya, tapi pada nilai sejarah sosialnya. Saat Al-Walid membangun masjid ini, beliau melakukan negosiasi yang sangat adil dengan umat Nasrani yang saat itu masih menggunakan sebagian area bangunan tersebut. Beliau tidak merampas, melainkan memberikan kompensasi berupa tanah dan izin membangun gereja-gereja baru yang lebih luas.
Keadilan inilah yang membuat pemerintahan Umayyah di Syam sangat dicintai penduduknya. Ini adalah obat bagi jiwa yang sedang merasa kecewa dengan ketidakadilan dunia saat ini. Islam mengajarkan bahwa kemegahan sejati tidak boleh dibangun di atas tetesan air mata orang lain yang dizalimi. Ketenangan batin akan muncul saat kita mampu bersikap adil, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan dengan kita.
Mengapa Mengunjungi Masjid Umayyah Bisa Menjadi Self-Healing?
Secara psikologis, arsitektur masjid ini dirancang untuk menciptakan perasaan “kecil” di hadapan Allah namun “besar” secara harapan.
- Skala yang Megah: Ruang tengah yang sangat luas menghilangkan perasaan sesak (klaustrofobik) batin yang sering kita rasakan di kota-kota padat.
- Warna Emas dan Hijau: Perpaduan mosaik emas yang berkilau dengan nuansa hijau memberikan efek relaksasi pada saraf mata dan pikiran.
- Ritual Zikir yang Panjang: Damaskus dikenal dengan tradisi sholawat dan zikirnya yang syahdu. Mendengarkan lantunan azan di sini adalah pengalaman yang bisa membuat air mata menetes tanpa disadari—sebuah pelepasan emosi yang sangat sehat bagi jiwa.
Landasan Dalil: Keistimewaan Negeri Syam dan Masjidnya
Agar iman kita semakin mantap, mari kita resapi referensi suci yang melatarbelakangi kemuliaan tempat ini:
- Surah Al-Isra Ayat 1: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” Syam (termasuk Damaskus) adalah bagian dari wilayah yang diberkahi tersebut.
- Hadist Tentang Keberkahan Syam: Rasulullah ﷺ bersabda: “Keberuntungan bagi negeri Syam!” Kami bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena malaikat Rahman membentangkan sayapnya di atasnya.” (HR. Tirmidzi). Masjid Umayyah adalah mahkota dari keberkahan tersebut.
- Hadist Tentang Keselamatan: Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa di masa penuh fitnah, tempat yang paling aman bagi iman adalah di negeri Syam.
7 Hikmah Meneladani Sejarah Masjid Umayyah
Sebagai panduan ahli, berikut adalah intisari yang bisa Sahabat Muslim bawa pulang ke dalam keseharian:
- Berikan yang Terbaik: Jangan tanggung-tanggung dalam berbuat baik dan beribadah.
- Hargai Keindahan: Allah itu indah dan menyukai keindahan. Jangan ragu menghias hidupmu dengan seni yang syar’i.
- Peka Terhadap Sejarah: Setiap tempat punya cerita. Belajarlah untuk menghargai warisan para pendahulu.
- Toleransi yang Berwibawa: Berbuat baiklah pada sesama tanpa mengorbankan prinsip akidah.
- Jadikan Masjid sebagai Rumah: Carilah ketenangan di rumah Allah saat dunia terasa terlalu bising.
- Selalu Ingat Akhirat: Gunakan simbol-simbol seperti Menara Isa untuk mengingatkan kita pada perjalanan pulang yang sesungguhnya.
- Kekuatan Niat: Masjid ini berdiri ribuan tahun karena niat kuat para pendirinya untuk meninggikan kalimat Allah.
Kesimpulan
Masjid umayyah bukan sekadar museum arsitektur kuno. Ia adalah bukti hidup bahwa peradaban Islam mampu mengambil hal-hal terbaik dari dunia (seni Bizantium) dan mengubahnya menjadi sesuatu yang murni untuk kepentingan langit. Dari mosaik emasnya hingga menara putihnya, setiap jengkal bangunan ini bercerita tentang harapan, keadilan, dan kedamaian.
Semoga renungan tentang permata Damaskus ini memberikan ketenangan bagi batin Sahabat Muslim. Bahwa meskipun dunia saat ini sedang didera berbagai ujian, cahaya Allah yang pernah memancar terang di Masjid Umayyah akan tetap menyinari hati siapa pun yang mau bersujud dengan tulus kepada-Nya.
Apakah Sahabat ingin tahu lebih banyak tentang rahasia tempat-tempat suci lainnya di tanah Syam, atau ingin tips praktis bagaimana menghadirkan suasana ketenangan ala Masjid Umayyah di dalam ruang shalat di rumah Sahabat? Jangan biarkan rasa ingin tahu Sahabat berhenti di sini.
Yuk, terus perdalam wawasan keislaman Sahabat, temukan inspirasi sejarah yang menyejukkan batin, hingga informasi terlengkap seputar dunia Islam hanya di umroh.co. Mari kita perkaya hati dan pikiran kita agar setiap langkah hidup kita selalu dalam naungan rahmat, keberkahan, dan ridha-Nya.
Dapatkan inspirasi keislaman dan informasi sejarah Islam selengkapnya di umroh.co sekarang!





